Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Warga Mijen Semarang Ini Sukses Kuliahkan Anak dan Ibadah Haji dari Jualan Jamu

Agus AP • Senin, 1 Mei 2023 | 17:16 WIB
Guru SMK Muhammadiyah Magelang memberikan minuman herbal kepada orang tua sebelum memasuki ruangan untuk mengikuti pembagian rapor. (Puput Puspitasari/Jawa Pos Radar Semarang)
Guru SMK Muhammadiyah Magelang memberikan minuman herbal kepada orang tua sebelum memasuki ruangan untuk mengikuti pembagian rapor. (Puput Puspitasari/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kholidi, perajin jamu sukses di Kampung Jamu RW 10 Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Bermula dari penjual jamu gendong, kini ia memiliki banyak karyawan yang juga berjualan jamu keliling.

Sebelum berjualan jamu, Kholidi menjadi tukang ojek pangkalan di Pasar Mijen. Pekerjaan itu dijalani cukup lama. Pada 1987, ia menikahi Setiati, seorang pembantu rumah tangga. Namun saat itu, ia dan istrinya belum berjualan jamu.

Kholidi mulai berjualan jamu setelah dikaruniai anak kedua pada 1991.  Saat itu, kebutuhannya semakin tinggi. Sementara pendapatannya minim. Praktis, Kholidi memiliki banyak utang di beberapa tempat.

"Lalu mencoba jual jamu. Kebetulan mertua dulu juga jualan jamu. Kakak ipar saya juga jualan jamu. Lalu istri membantu kakaknya membantu jualan. Baru pada 1991, disuruh membuat jamu sendiri," ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat itu, Setiati berjualan jamu gendong keliling dari rumah ke rumah. Ia berjalan kaki ke Pasar Mijen lalu naik mobil ke Ngaliyan. "Istri saya keliling di perumahan Sulanji Ngaliyan," katanya.

Istrinya berjualan jamu gendong hingga lima tahun. Perekonomian keluarga Kholidi pun semakin membaik. Kholidi juga membantu istrinya membuat jamu, sebelum bekerja di pabrik. "Tahun 1995 kami kredit sepeda motor Honda Fit Z dengan jaminan sertifikat rumah. Motor itu dipakai jualan jamu keliling," kenangnya.

Dengan memakai sepeda motor, jumlah jamu yang dibawa semakin bertambah. Karena jika digendong, hanya 15 liter. Jika memakai sepeda motor, bisa membawa hingga 20 liter.

"Alhamdulillah, dari jualan jamu ini bisa menyekolahkan anak-anak sampai kuliah. Termasuk membeli rumah pada tahun 2005, dan pada tahun 2006 naik haji sama istri,” katanya.

Dari jualan jamu keliling itu, anak sulungnya lulus kuliah farmasi dan menjadi apoteker di RS Tugurejo. Sedangkan anak keduanya lulus kebidanan dan bekerja di alat kesehatan. Anak ketiga bekerja di toko AA dan sempat kuliah semester 3 namun keluar karena menikah. “Anak bungsu saya masih kelas 2 SD," imbuh pria berusia 62 ini.



Pada 2014, istrinya hamil anak keempat. Sehingga tidak bisa berjualan. Kholidi pun yang ganti berjualan jamu. "Karena tidak ada penghasilan, saya nekat jualan ke Pasar Simongan," katanya.

Saat ini, pelanggannya sangat banyak. Karena ia selalu menjaga kualitas jamu buatannya. Pada 2017, Kholidi merekrut enam karyawan. Tiga orang pengangguran, dan tiga dari keluarganya. Mereka juga berjualan jamu keliling.

"Anak saya yang nomor tiga juga ikut jualan. Sekarang suami istri jualan jamu. Alhamdulillah menambah penghasilan mereka. Kalau di apotek itu gajinya Rp 3 juta sebulan. Kalau jual jamu dari jam 05.00 sampai jam 12.00 dapat Rp 150 ribu,” ujarnya.

Saat Ramadan, produksi jamu menurun dibandingkan hari biasa.  Dalam sehari, ia bisa memproduksi 200 liter jamu. Terdiri atas sembilan jenis jamu. Seperti kunyit asam, beras kencur, cabai puyang, sereh, gula asam, temulawak, kunyit kental, manjakani, daun pepaya, sambiroto, dan wejah.

Bahan-bahannya berasal dari petani dan belanja di pasar. Seperti temulawak dan hasil bumi lainnya langsung dari petani Boja karena lebih murah. Sedangkan asam jawa dan manjakani dari pasar.

"Yang dominan kunyit asam dan beras kencur. Produksi kunyit asam sampai 70 liter, sedangkan beras kencur hingga 50 liter," katanya.

Jamu produksi Kholidi sudah mengantongi izin BPOM, NIB, bersertifikat halal, Dinkes, dan bimbingan dari pertanian untuk memilih bahan. Saat ini, masih mengajukan HAKI sejak September 2022 lalu.  "Banyak guru, pegawai puskesmas dan kantor kedinasan yang beli. Ada juga yang melalui online. Mereknya Jamu Gendong Kholidi," katanya.

Harganya dipatok Rp 5 ribu per botol berisi 330 mililiter. Per dua puluh hari dirinya belanja 10 ribu botol untuk kemasan. (fgr/aro) Editor : Agus AP
#top #Kelurahan Wonolopo #perajin jamu #Kampung Jamu #Kecamatan Mijen #penjual jamu gendong #KOTA SEMARANG