Pengamat Transportasi Umum Theresia Tarigan menilai, layanan yang diberikan bus milik Pemkot Semarang untuk anak sekolah masih kurang maksimal. Buktinya masih ada empat sekolah yang belum memiliki akses BRT.
Ketua Komunitas Peduli Transportasi Semarang (KPTS) ini merinci empat sekolah tersebut ialah SMKN 10 Semarang, SMAN 14 Semarang, SMPN 25 Semarang, dan SMK Pelayaran Wira Samudera. Padahal Kepala Sekolah dan dari pihak lain juga sudah memberikan surat pengadaan feeder BRT. Tapi hingga kini masih terabaikan dan belum di tindak lanjuti. “Pihak sekolah sudah berupaya mengirim surat tapi masih belum terealisasi,” tambahnya.
Pihaknya mengaku, layanan transportasi umum milik BLU UPTD Trans Semarang ini harus fokus kepada anak sekolah. “Segmen penumpang masih belum jelas. Segera dibenahi agar efektif untuk mengklaim sebagai kota ramah anak dan inklusi. Percuma juga dikatakan kota ramah anak, tapi anak sekolah belum mendapatkan layanan transportasi umum,” imbuhnya.
Menurutnya perlu diadakan survei demand penumpang anak sekolah SD-SMA dan lokasi permukiman. There mengaku jika memang belum bisa diadakan feeder BRT karena kebijakan yang rumit. Pihak Trans Semarang bisa reroute Feeder 1B.
“Kalau memang belum bisa dilakukan pengadaan kan bisa reroute Feeder 1B yang dari Madukoro ke Arteri terus masuk Tanah Mas kemudian ke Jalan Kokrosono. Bisa juga pemerintah kerjasama dengan Daihatsu, malah nanti bisa membantu supir juga mendapatkan penghasilan yang layak,” pungkasnya. (kap/ida) Editor : Agus AP