"Terdampak bencana rob. Tapi tidak mampu meninggikan rumah, akhirnya dibiarkan begitu saja," kata Sekretaris Lurah Plombokan Kholil Moh Soleh saat meninjau rumah tersebut.
Ia meminta agar ketua RT dan RW membuat surat keterangan ingin dibantu. "Kami akan usulkan ke Disperkim Kota Semarang untuk dimintakan bantuan," tuturnya.
Pemilik rumah Marsini menjelaskan, ia tinggal bersama dua anaknya. Rumah tersebut sudah berdiri lebih dari 40 tahun. Sudah tujuh kali meninggikan. "Saya berjualan nasi rames, mas. Tapi, pandemi gini ya sepi," tuturnya.
Dari pengamatan Jawa Pos Radar Semarang, rumah seluas 11 x 20 meter itu memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter. Di dalam rumah bagian kanan, atapnya sudah roboh dan genangan air setinggi betis orang dewasa.
Meski begitu, Marsini dan kedua anaknya tetap menempati rumah tersebut selama lima tahun ini. Bahkan, beberapa kali sempat kena setrum listrik akibat kabel yang jatuh ke dalam genangan air. "Sehingga listriknya dipindah dari kanan ke kiri," tuturnya.
Ia bersama dua anaknya tidur di depan rumah jika terjadi banjir besar. Karena di dalam rumah tidak memungkinkan. "Kalau aktivitas ya selalu cuci kaki di depan rumah," tuturnya.
Ia tidak mau berpangku tangan kepada pemerintah. Karena menurutnya semua harus disyukuri. "Namun, kami berterima kasih kepada pemerintah kelurahan yang sudah memberikan perhatian," katanya. (fgr/ida) Editor : Agus AP