Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menyusuri Jejak Pintu Dalem

Agus AP • Jumat, 24 Januari 2020 | 14:25 WIB
TINGGAL KENANGAN : Pintu Dalem sebagai penanda pintu gerbang kawasan Pecinan Pekalongan yang sudah dibongkar.(TROPEN MUSEUM)
TINGGAL KENANGAN : Pintu Dalem sebagai penanda pintu gerbang kawasan Pecinan Pekalongan yang sudah dibongkar.(TROPEN MUSEUM)
RADARSEMARANG.ID, - Sejarah keberadaan Tionghoa di Pekalongan, tak bisa dilepaskan dari jejak Pintu Dalem. Sebuah bangunan penanda kawasan Pecinan di Kota Batik.(RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

PINTU Dalem merupakan pintu masuk ke arah kawasan Pecinan. Letaknya, di pertigaan sebelum Gereja Katolik Santo Petrus hingga kawasan Jalan Belimbing. Disebut sebagai Pintu Dalem (sekarang sudah dibongkar, Red) karena rumah-rumah warga Tionghoa, pada masa itu, terletak di dalam sebuah pintu gerbang yang besar. Nah, di lokasi tersebut, juga terdapat sebuah bangunan tua milik kapiten Tionghoa. Bangunan tersebut digunakan untuk memantau aktivitas warga Tionghoa.

Mochammad Dirhamsyah, sejarawan yang ditemui Radar Semarang menuturkan, orang Tionghoa hadir di Pekalongan sejak era Amangkurat II atau sekitar tahun 1679-1680. Gelombang pertama ada empat keluarga Tionghoa. “Lantas, bertambah menjadi 20 keluarga. Tercatat oleh VOC," ujar Dirhamsyah.

Kawasan Pecinan sendiri berada di wilayah Keplekan dan Krimunan. Zaman dahulu, kawasan tersebut diberi nama Chinese-Wijk. Terdiri atas wilayah Keplekan Lor di Jalan Sultan Agung, Keplekan Kidul di Jalan Hasanudin, kawasan Krimunan di Jalan Salak dan Manggis. Serta, Pintu Dalem yang berada sepanjang Jalan Belimbing.

Warga Tionghoa di Pekalongan kebanyakan datang dari Batavia. Mereka mencari peruntungan. Pindah dari tempat yang kumuh dan padat. Satu sisi, pada saat itu, permukiman penduduk di Pekalongan dipetak-petakan berdasarkan etnis. Belanda takut adanya pemberontakan yang bersinergi dari berbagai macam etnis. Sekaligus dilakukan untuk mengontrol populasi dan kriminalitas di Pekalongan. "Pernah kan terjadi pemberontakan Tionghoa-Jawa melawan VOC.”

Yang juga menarik dari kawasan Pecinan di Pekalongan adalah keberadaan Gedung Gajah. Lokasinya berada di Jalan Salak. Tepatnya, di sebelah timur gedung Yayasan Pendidikan Satyawiguna. Tak banyak sejarah tertulis tentang bangunan tersebut. Sejarawan pun kesulitan menggali detail bangunan yang dimaksud.

Slamet, penjaga bangunan berarsitektur Eropa tersebut, hanya bisa menjelaskan bahwa Gedung Gajah dulu milik keluarga Supriyatin dan Kofyat.

Saat ini, bangunan tersebut dimiliki oleh keturunannya, yaitu Wid Harto. Sayangnya, Wid Harto saat ini lebih banyak beraktivitas di Jogja. Ia per dua bulan sekali berkunjung ke bangunan tersebut.
Dulu, Gedung Gajah dioperasikan sebagai sebagai salon potong rambut kriting. Kali terakhir, salon beroperasi pada 1980-an.

Gedung ini memiliki taman yang cukup luas. Bangunan tersebut merupakan saksi bisu perjalanan sejarah Kota Pekalongan. Kondisinya masih sangat terawat. Slamet selalu membersihkan dan memangkas tanaman yang ada di sekitar bangunan.

Tiga patung manusia berukuran cukup besar, tegap berdiri di halaman Gedung Gajah. Patung perempuan membawa tombak dan perisai, dijaga tiga patung singa berada di tengah. Sedangkan di sebelah kiri dan kanan, patung pria berpenampilan gagah membawa panah dan tombak. "Itu patung Tarsan, yang pakai celana dari kulit hewan," kata Slamet kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (21/1). Penamaan Gedung Gajah oleh masyarakat sekitar, karena terdapat patung gajah di lokasi tersebut. Tepatnya, di sebelah barat bangunan. Ada pula patung macan yang sedang mengaum di depan patung gajah.

Bagian depan atap Gedung Gajah terdapat patung burung elang, serta wajah singa yang seolah turut menjaga bangunan tersebut.
Dirhamsyah menyampaikan, Gedung Gajah memiliki desain arsitektur yang unik. Aliran bangunan tersebut bergaya Freemason, Yahudi. Selain Gedung Gajah, di kawasan Pecinan Pekalongan juga ada bangunan kuno lainnya. Yakni, beberapa bangunan rumah kapitan.

Rumah tinggal tersebut merupakan bangunan milik pejabat administrasi sekelas pemimpin daerah pada zaman dahulu. Gelar jabatan diberikan oleh pemerintah kolonial.

Rumah kapiten banyak tersebar di area Pecinan. Salah satunya, di Jalan Hasanudin. Yakni, rumah milik Kapiten Lie Tek Lok. Ada juga rumah seorang kapitan yang saat ini sudah menjadi sebuah hotel. Namanya: Hotel Sidji. Secara keseluruhan, kondisi bangunan di Pecinan sudah dipugar. Namun, ada beberapa bangunan yang masih mempertahankan keaslian bentuknya. (nor/yan/isk) Editor : Agus AP
#Menyusuri Jejak Pintu Dalem