RADARSEMARANG.ID, Semarang - Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang (Rasa Dharma) memindahkan bongpay tertua yang pernah ditemukan di Kota Semarang ke pemakaman Mount Carmel Memorial Park Selasa (13/6).
Batu nisan tersebut diperkirakan berusia 322 tahun dan memiliki berat 500 kilogram.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di Gedung Rasa Dharma, enam orang berusaha menaikkan bongpay ke atas mobil pikap.
Mereka bergotong royong, mengikat bongpay yang kemudian diangkat menggunakan bambu.
Selain itu juga menggunakan bantuan gedebog pisang agar saat diangkat dan jatuh ke bawah, bongpay tidak rusak.
Salah seorang pemerhati sejarah Tionghoa Bram Luska menjelaskan, bongpay ini ditemukan di Gunung Brintik atau Bukit Bergota pada 7 Desember 2020.
Karena tidak ada warga yang tahu, awalnya bongpay ini digunakan sebagai jembatan.
Setelah ada renovasi, bongpay ini niatnya akan dibuang oleh masyarakat. Namun ada salah satu warga yang melarang.
Akhirnya bongpay tersebut mangkrak dan dijadikan sebagai alas pot bunga.
Penemuan tersebut lantas diinformasikan kepada Pippo Agosto untuk dibacakan isi inskripsinya.
Bongpay tersebut ditengarai dari abad 17 saat berkuasanya Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing.
Tatahan huruf pada bongpay ini masih dapat dibaca dengan jelas.
“Kalau dari yang ada di bongpay itu tertulis tahun ular logam pada pemerintahan Kaisar Kangxi, bila dikonversi ke tahun masehi berarti tahun 1701. Kemudian tertulis makam mendiang ayahanda Yan-guan (Yen Kuan) kepala keluarga Wu (Go) dalam tulisan Hanzi,” kata Bram kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Selanjutnya bongpay dengan panjang 160 cm, lebar 66, serta mempunyai ketebalan 19 cm ini dirumahkan di Gedung Rasa Dharma.
Bram dan Pippo gemar menelisik sejarah Tionghoa.
Hobi inilah yang mengantarkan mereka bisa menemukan ratusan bongpay selama tiga tahun di Kota Semarang.
“Saya sama temen saya Mas Pippo Agosto sering blusukan mencari sisa bongpay dan sisa bong yang tersebar di perbukitan kota Semarang.
Untuk melengkapi 'puzzle' sejarah peranakan yang ada di Semarang, dan dari ratusan bongpay yang kita temukan, ini bongpay yang paling tua,” imbuhnya.
Pada saat awal penemuan bongpay tersebut, Bram sempat bingung untuk menempatkannya agar tidak rusak.
Akhirnya ia menghubungi Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang Harjanto Halim, untuk diselamatkan dengan dirumahkan sementara di Gedung Rasa Dharma, Jalan Gang Pinggir No. 31, Semarang.
“Setelah beberapa waktu, Mount Carmel Memorial Park menawarkan untuk menerima bongpay tersebut, pemakaman memanglah tempat yang lebih sesuai untuk batu nisan,” ujarnya. (kap/ton)
Editor : Agus AP