Hal ini menjadikan Yosifan Aprilio, salah satu pengunjung, terpukau dengan ragam lukisan yang dipamerkan. Bahkan baru kali ini dirinya mengunjungi pameran yang menceritakan satu kampung, satu desa secara komplit dari tahun ke tahun.
Apalagi dirinya sangat menyukai lukisan tahun 90-an hingga 20-an. "Sangat eksotik. Ada gunungnya. Suasana pemandangannya begitu indah. Semoga kampung saya jadi lebih baik lagi," kata warga Lempongsari I RT 04 RW 03 yang akrab disapa Yosi ini.
Pelukis sekaligus penggagas, Andreas Subarjo menjelaskan, 40 lukisan ini terdiri atas terjadinya Lempongsari yang paling eksotik. Kemudian menceritakan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang asli dari Lempongsari. Dan sekarang menjadi kepala LKPP RI. "Makanya saya tertarik untuk menampilkan dua dimensi lukisan ini," katanya.
Lukisan ini diambil dari gambaran wilayah Lempongsari sejak 1810. Tahun itu belum ada satupun rumah. Hanya ada pegunungan yang tanahnya berwarna merah atau lempong. Tetapi sebanyak 20 rumah dari Belanda sudah bermukim di sana. Bahkan, ada bangunan milik Oei Tiong Ham atau orang terkaya di Asia Tenggara. "Sekarang namanya Argopuro," katanya.
Kala itu, di sini masih hutan, tanah kering, dan masih rawa. Sehingga dirinya tertarik dengan kondisi yang sekarang. Kampung yang dikira kampung jin ini, ternyata bisa menjadi kampung yang eksotik. "Di sini juga ada Benteng Portugis di daerah Sumbing," katanya.
Jadi, kampung pertama di Semarang itu di Lempongsari. Kedua, di dekat laut atau kampung Bandarharjo dengan rumah nelayan. Lukisan ini diadopsi dari internet dan Belanda. Karena dirinya juga orang PU bagian pemetaan topografi. "Yang kedua, saya dapat informasi dari yang menguasai lukisan ini, tetapi tidak kelihatan atau di dunia lain dan saya dituntun. Dia lahir di sini tahun 1800," katanya.
Diakuinya, perkembangan Lempongsari dari tahun 1810 hingga 2022 sangat bagus. Penduduknya teratur dan memperhitungkan keamanan karena wilayahnya tebing. Di mana satu rumah diharuskan ada satu atau dua pohon. "Ini kelihatan bagus dan indah," katanya.
Selain itu, ada delapan lukisan yang memprediksi Hendi yang dilukis sejak 2019. Dirinya memprediksi Hendi sangat senang membentuk suatu Pemerintah Kota Semarang menjadi baik, jalan di kampung pasti bersih, dan ada penghijauan.
Sebelahnya ada lukisan yang menceritakan tongkat estafet wali kota dari Hendi ke Mbak Ita (Hebearita Gunaryanti Rahayu). "Saya akan memprediksi dengan ide saya, nanti Pak Hendi itu seperti apa. Saya bangga karena dia orang Semarang asli," katanya.
Ada juga naik getek mau pindah ke pulau yang jauh dan menghantam karang. "Yang dipindah ini ada masyarakatnya, keluarganya mau pindah di kota. Ternyata ketemu karang, lepas belum sampai tengah. Ada yang nyurung agar bisa jalan. Sekarang ini juga terjadi, sebelum dia menjadi wali kota sepenuhnya, sudah dicabut ke pusat," jelasnya.
Ada juga Hendi menjadi Gajahmada kedua. Kalau dia berhasil dengan dedikasinya, Pak Hendi akan menjadi Gajahmada kedua atau menguasai Nusantara tapi bukan Raja. "Ada istrinya dapat penghargaan dari Jokowi. Ada juga menanam padi di Balaikota, ceritanya mencontohkan agar menanam. Dia belum melaksanakan semua itu, lukisan saya sudah jadi sejak 2019 lalu," katanya.
Ia berharap dengan adanya pameran ini, mengajak masyarakat memelihara lingkungan sekitar. "Coba kamu pelihara semaksimal mungkin, karena sudah ada contohnya di mana-mana, banjir, longsor, dan kebakaran," jelasnya.
Dari sampah dia buat lukisan dan dipamerkan. Bahkan belum ada di dunia ini perkembangan satu kampung, dilukis dan dipamerkan. Tapi kalau difoto banyak. "Karya ini saya buat dari bahan seadanya. Dengan cat air, kainnya dari sarung, dan spanduk bekas, serta kayunya untuk figura bekas karnaval. Harganya Rp 5 juta- Rp 10 juta," jelasnya. (fgr/ida) Editor : Agus AP