Ia menambahkan, sebelum lebaran harga ayam masih Rp 45 ribu. Namun, begitu lebaran harga cepat merangkak. Hal ini dikarenakan tingginya permintaan konsumen. “Hingga H+3 harga masih di angka sama,” ujarnya.
Hal yang sama dirasakan Ernawati. Pedagang ayam di Pasar Peterongan ini tidak berani stok banyak. Sebab harganya melejit.
"Sengaja bawa sedikit tidak seperti biasa. Dikurangi, yang penting habis," ujarnya.
Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah Abdun Mufid mengatakan, tren kenaikan harga musiman lebaran bisa muncul karena faktor supply dan demand, faktor kenaikan cost produksi dan distribusi. Selain itu margin atau keuntungan yang dinaikkan. Ia menilai beberapa pelaku usaha mungkin membutuhkan tambahan biaya misalnya untuk THR. Sementara bagi penjual juga istilahnya mremo untuk tambahan lebaran.
"Jika faktor ini kemudian terakumulasi dengan supply yang tidak seimbang dengan permintaan yang meningkat pada konsumsi, maka akan sulit dihilangkan," tambahnya. (ifa/fth) Editor : Agus AP