“Menurut laporan Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC), per 10 tahun suhu bumi terus naik 0,2 derajat celcius. Kenaikan ini akan mengacaukan ekosistem. Jadi pesan yang kami usung kali ini adalah utamakan manusia, bukan laba people, not profit,” ujar Ellen Nugroho, koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam.
Jika pemanasannya tidak dihentikan akan melebihi ambang batas aman pada tahun 2040. Cara yang bisa dilakukan adalah semua masyarakat ikut mengerem kenaikan suhu bumi. Misalnya dengan mengurangi bahan bakar. Tujuannya agar pemerintah tidak terus menerus menggerus batu bara. Selain itu dengan melakukan penghijauan, baik dengan menanam pohon atau merawat kelestarian hijau. Termasuk mencegah alih fungsi kawasan hutan menjadi industri.
“Kami juga membawa anak-anak. Karena merekalah yang nanti akan meneruskan generasi kita. Sekarang negara maju mendapat keuntungan dengan membuang banyak emisi karbon,” jelasnya.
Sementara itu, Dhika dari LBH Semarang mengatakan, pemerintah masih mementingkan para pengusaha dibanding rakyat kecil yang tinggal di lokasi proyek pembangunan nasional. Selain itu beberapa kasus perusakan lingkungan masih terjadi hingga menyebabkan konflik dengan rakyat. Seperti perusakan air dan udara oleh PT RUM Sukoharjo, kasus Wadas, perampasan lahan pada pembangunan PLTU Batang, dan pembangunan pabrik semen di Rembang yang mengancam kehidupan petani.
Sementara itu pihak keamanan dari Polretsabes Semarang sebagai wakil negosiator Rumiarti mengatakan, aksi damai ini tidak mengganggu lalu lintas yang ada di Jalan Pahlawan. “Pihak kami hanya berjaga-jaga. Jadi misal nanti ada kisruh kami sudah ada disini,” jelasnya. (cr4/ida) Editor : Agus AP