Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Prioritaskan Manusia Bukan Laba

Agus AP • Sabtu, 26 Maret 2022 | 20:43 WIB
UNJUK RASA : Semarang Climate Strike menggelar aksi damai di depan Patung Diponegoro Jalan Pahlawan, Jumat (25/3). (KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
UNJUK RASA : Semarang Climate Strike menggelar aksi damai di depan Patung Diponegoro Jalan Pahlawan, Jumat (25/3). (KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Jaringan Peduli Iklim Alam bersama 60 warga Semarang dan sekitarnya mengelar aksi Semarang Climate Strike di depan patung Diponegoro Jalan Pahlawan, Jumat (25/3). Dalam aksinya mereka melakukan orasi, baca puisi, menampilkan pentas treatikal, dan doa bersama. Intinya meminta pemerintah untuk memprioritaskan manusia bukan hanya laba.

“Menurut laporan Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC), per 10 tahun suhu bumi terus naik 0,2 derajat celcius. Kenaikan ini akan mengacaukan ekosistem. Jadi pesan yang kami usung kali ini adalah utamakan manusia, bukan laba people, not profit,” ujar Ellen Nugroho, koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam.

Jika pemanasannya tidak dihentikan akan melebihi ambang batas aman pada tahun 2040. Cara yang bisa dilakukan adalah semua masyarakat ikut mengerem kenaikan suhu bumi. Misalnya dengan mengurangi bahan bakar. Tujuannya agar pemerintah tidak terus menerus menggerus batu bara. Selain itu dengan melakukan penghijauan, baik dengan menanam pohon atau merawat kelestarian hijau. Termasuk mencegah alih fungsi kawasan hutan menjadi industri.

“Kami juga membawa anak-anak. Karena merekalah yang nanti akan meneruskan generasi kita. Sekarang negara maju mendapat keuntungan dengan membuang banyak emisi karbon,” jelasnya.

Sementara itu, Dhika dari LBH Semarang mengatakan, pemerintah masih mementingkan para pengusaha dibanding rakyat kecil yang tinggal di lokasi proyek pembangunan nasional. Selain itu beberapa kasus perusakan lingkungan masih terjadi hingga menyebabkan konflik dengan rakyat. Seperti perusakan air dan udara oleh PT RUM Sukoharjo, kasus Wadas, perampasan lahan pada pembangunan PLTU Batang, dan pembangunan pabrik semen di Rembang yang mengancam kehidupan petani.

Sementara itu pihak keamanan dari Polretsabes Semarang sebagai wakil negosiator Rumiarti mengatakan, aksi damai ini tidak mengganggu lalu lintas yang ada di Jalan Pahlawan. “Pihak kami hanya berjaga-jaga. Jadi misal nanti ada kisruh kami sudah ada disini,” jelasnya. (cr4/ida) Editor : Agus AP
#Semarang Climate Strike #PERUBAHAN IKLIM #Jaringan Peduli Iklim dan Alam