RADARSEMARANG.ID - Dataran tinggi Dieng yang secara geografis terletak diantara Wonosobo dan Banjarnegara sangat terkenal dengan objek wisatanya yang kental dengan budaya dan keindahan alamnya.
Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah fenomena anak gimbal pada gelaran acara Dieng Culture Festival yang diadakan rutin tiap tahun.
Anak gimbal disana merupakan sebuah fenomena yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Dieng yang kental dengan kebudayaan Jawa kuno.
Jadi, bagaimana kah sejarah dan cerita rakyat tentang anak berambut gimbal yang banyak ditemukan di wilayah pemukiman warga Dieng tersebut?.
Cerita Rakyat Asal Usul Anak Gimbal Dieng
Konon, menurut kepercayaan masyarakat Dieng, keberadaan para anak berambut gimbal ini erat kaitannya dengan 2 sosok entitas ghaib kepercayaan warga lokal.
Kedua sosok astral ini bernama Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Ronce. Keduanya merupakan tokoh yang dianggap bertanggungjawab atas lahirnya anak-anak berambut gimbal di sekitar wilayah Dieng.
Menurut cerita rakyat yang dipercayai warga, anak-anak yang tumbuh besar dengan rambut gimbal konon merupakan titisan dari Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Ronce.
Kyai Kolo Dete adalah seorang sakti mandraguna berambut gimbal yang juga dikenal sebagai pendiri Wonosobo. Beliau melakukan babad alas dan kemudian mendirikan pemukiman awal tonggak berdirinya Kota Wonosobo.
Sedangkan Nini Roro Ronce sendiri dikisahkan merupakan abdi dari sang Ratu Selatan,Nyi Roro Kidul yang diperintahkan menjaga Dataran Tinggi Dieng. Roro Ronce sendiri digambarkan sebagai wanita yang berambut gimbal.
Roro Ronce disebutkan mendapatkan keistimewaan rambut gimbalnys tersebut dari Nyi Roro Kidul yang dititipkan sementara dan harus dikembalikan dalam waktu yang ditentukan.
Dalam literatur lain disebutkan bahwa Kyai Kolo Dete adalah seorang pejuang yang berambut gimbal dan panjangnya mencapai mata kaki. Karena dianggap mengganggunya saat melakukan peperangan iapun menitipkan rambut gimbalnya kepada anak-anak yang "disayanginya".
Baca Juga: Mitos Kuno Terkait Larangan Bagi Warga Cepu dan Bojonegoro Untuk Mendaki Gunung Lawu
Oleh karena itu, lahirlah budaya Ruwat Gimbal yang kini menjadi ciri khas dan daya tarik bagi turis untuk mendatangi Dieng pada acara Dieng Culture Festival.
Budaya Ruwat Gimbal di Dieng
Dibalik keeksotisan budaya yang menjadi magnet para pengunjung ini, masyarakat mempercayai bahwa melakukan pemotongan rambut anak gimbal harus dilakukan dengan upacara yang sakral.
Mereka percaya bahwa dengan memotong rambut gimbal anak-anak mereka dapat menghilangkan hal-hal buruk yang dikhawatirkan akan terjadi pada sang anak.
Namun dilain sisi, keberadaan anak-anak gimbal ini juga membawa berkah yang luar biasa besarnya kepada masyarakat Dieng.
Karena dianggap istimewa, semua anak-anak berambut gimbal di Dieng akan diikutsertakan dalam tradisi Ruwat Gimbal yang telah diselenggarakan sejak dahulu kala.
Sebelum dipotong rambutnya, anak-anak gimbal ini harus dituruti kemauannya oleh kedua orang tuanya, hal tersebut dilakukan agar ritual berjalan dengan sepenuhnya dan rambut si anak tidak kembali gimbal kedepannya.
Source: Kemenkeu Indonesia, Perpus Digital Budaya Indonesia
Editor : Baskoro Septiadi