Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Program Magelang Cantik Ikon Agribisnis

Agus AP • Selasa, 25 Mei 2021 | 22:22 WIB
KWT Sari Makmur, di Kelurahan Kedungsari memanen sayuran organik pengembangan dari program P2L. 
KWT Sari Makmur, di Kelurahan Kedungsari memanen sayuran organik pengembangan dari program P2L. 
RADARSEMARANG.ID, Magelang - Pemkot Magelang makin serius menggarap pertanian perkotaan terpadu  (integrated urban farming) sebagai pilar ketahanan pangan. Fasilitas pemasaran pun mulai ditata. Berupa green house. Dirancang sebagai etalase hasil pertanian segar dan aneka makanan olahan berbahan baku hasil pertanian. Ini sekaligus penanda program Magelang Cantik (Cinta Organik) diperkuat.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang Eri Widyo Saptoko menyebut, green house akan  menjadi sentra agribisnis. Tempatnya dibuka untuk umum. Digadang jadi daya tarik wisata baru di Kota Getuk. Pembeli dan petani lebih dekat.

"Hasil-hasil pertanian akan dipajang di sini untuk dijual. Begitu juga dengan aneka makanan olahan yang diproduksi oleh UMKM kita. Misalnya aneka keripik, abon kelinci, dan sebagainya. Ini cocok untuk oleh-oleh," katanya.

Tahun ini masih proses pengadaan. Akhir tahun ini atau paling lambat awal tahun depan ditargetkan operasional. "Kita ingin memberikan wadah bagi para petani, dan UMKM supaya produknya naik kelas," tuturnya.

Dengan begitu, petani maupun UMKM akan berlomba meningkatkan kualitas produknya. Salah satunya menyediakan sayuran organik yang lebih ramah lingkungan. Tidak hanya petani yang menggarap sawah yang bisa melakukannya, namun  masyarakat umum pun bisa memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk bertani organik. Kegiatan ini mendukung implementasi urban farming dengan model pekarangan pangan lestari (P2L).

Kata Eri, Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz juga memberikan kebijakan khusus soal alokasi dana RT 30 juta per tahun. Harapannya, 5 persen di antaranya wajib untuk membeli benih/bibit sayuran, dan saprodi pendukungnya.

Photo
Photo
Green house yang akan dijadikan etalase hasil pertanian segar berada di komplek kantor Disperpa Kota Magelang.

"Bahkan tahun ini kita punya tujuh kelompok baru. Masing-masing menerima bantuan  Rp 55 juta untuk program P2L bersumber dari dana alokasi khusus (DAK)," tandasnya.

Sekarang, pihaknya mulai bergerak menyosialisasikan pestisida organik. Mulai dari pembuatannya, sampai cara, dan dosis penggunaannya. "Supaya hasil produksinya memuaskan. Apalagi sayuran organik ini kandungan gizinya tidak rusak, karena tidak ada residu bahan kimia, sehingga lebih aman dikonsumsi, dan lebih awet, atau tidak mudah busuk," imbuhnya.

Dia menularkan gerakan bertani. Supaya pertanian perkotaan tumbuh di mana-mana. Kalangan milenial bisa memulainya dengan menanam sayuran yang dikonsumsi tiap hari. Tak hanya itu, mereka juga diharapkan dapat mengembangkan pemasaran yang lebih luas secara online.  Lalu kelompok wanita tani (KWT) juga bisa budidaya sayuran dengan jenis yang lebih beragam. Dengan demikian, harga sayuran lebih terjangkau karena dipasok dari petani setempat. Serta kualitasnya lebih terjaga.

Disperpa juga akan menjembatani pemasaran, supaya produk pertanian di Kota Magelang bisa masuk sampai ke pusat-pusat perbelanjaan modern. Ia juga berharap ada investor yang mendukung program Magelang Cantik ini.

Koordinator Penyuluh Pertanian Among Wibowo menambahkan pertanian perkotaan terpadu yang dikerjakan saat ini adalah mengolaborasikan antara pertanian, pangan, peternakan, dan perikanan. Semua subsektor ini dapat dipadukan. Sekarang sudah ada 17 kelompok P2L di tiap kelurahan. "Mereka didorong untuk mengadopsi sebanyak mungkin teknologi pertanian, mulai dari lorong sayur, vertikultur, hidroponik, hidroganik, aquaponik, dan budidaya ikan dalam ember (budikdamber)," imbuhnya.

Sementara lahan pertanian berbentuk sawah dan tegalan di Kota Getuk makin sempit. Saat ini lahan pertanian produktif tinggal menyisakan 142,83 hektare sawah, dan 18,51 hektare tegalan.  Lahan pekarangan dan pemukiman penduduk menurut BPS tahun 2019 malah mencapai 1.234 hektare (prokompim/kotamgl)

  Editor : Agus AP
#Investasi