alexametrics

Kembangkan Inovasi E-Cigarette, PT Puff Sains Lab dan MOVI Terima Leprid

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – PT Puff Sains Lab (PSL) dan MOVI (Ministery of Vape Indonesia) berhasil mencatatkan rekor di Leprid (Lembaga Prestasi Indonesia Dunia).

Kedua perusahaan itu berhasil mengembangkan jenis garam nikotin baru yang diberi nama NICSAL99+. Selain itu, setiap tahunnya perusahaan tersebut juga berhasil menyumbang Rp 700 miliar kepada negara.

Adapun nama rekor yang diraih yaitu, perusahaan Biotech yang bergerak di bidang e-cigarette pertama di Indonesia yang memiliki dan menggunakan standard perusahaan farmasi kelas A.

Perusahaan Biotech yang bergerak di bidang e-cigarette pertama yang memiliki berbagai paten yang telah disetujui di Indonesia, China, USA, dan Eropa.

Perusahaan Biotech Indonesia pertama yang menemukan dan memproduksi nicotine salt, serta perusahaan Biotech Indonesia pertama yang menciptakan e-liquid herbal (non-nicotine) untuk kesehatan yang bisa dikonsumsi melalui sistem penguapan (vaporizer).

Baca juga:  Kemendag Ubah Kategorisasi Penghargaan Primaniyarta dan Primaduta Respon Tren Global

“Penemuan dan paten dari perusahaan itu sudah sejak 2019. Dan ini sangat berkontribusi. Karena ada cukai sebesar Rp 700 miliar yang disumbangkan kepada negara,” kata Direktur Leprid Paulus Pangka kepada Jawa Pos Radar Semarang Senin (8/11/2021).

Adapun segmentasi industri rokok ini masih berada di kisaran 1 persen dari total perokok di Indonesia. Namun, kontribusi cukai dari 2018 hingga 2020 terus mengalami peningkatan.

Melalui produk barunya itu, perusahaan ini mencoba melakukan campaign kepada perokok aktif di Indonesia untuk menerapkan pola rokok yang sehat.

“Salah satunya melalui e-liquid herbal ini. Karena liquidnya berasal dari ekstraksi tembakau dan bahan obat seperti temulawak juga,” ujar Direktur PT Puff Sains Lab Tay Ferdinand sambil menunjukkan e-liquid herbalnya.

Baca juga:  Exynos 2100, Juru Kunci dibalik Performa dan Kamera yang Epik dari Samsung Galaxy S21 Series 5G!

Tak hanya itu, kedua perusahaan itu telah melakukan riset selama 2 tahun melalui teknologi Low Pressure Low Temperature (LPLT) dan High Pressure Low Temperature (HPLT).

“Di sini kami memang menggunakan tembakau. Dan produksinya masih 0,5 persen. Jadi belum menggunakan supley tembakau dari petani. Dan kami juga belum sebesar perusahaan rokok,” terangnya. (dev/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya