alexametrics

PHP2D UKKI Upgris Beri Pelatihan Angklung Siswa SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tim PHP2D (Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa) Unit Kegiatan Kerohanian Islam Universitas PGRI Semarang (UKKI Upgris) menyelenggarakan pelatihan angklung dengan sasaran anak-anak SD di Desa Gubug, Grobogan, pelatihan itu sebagai upaya melestarikan aset budaya daerah.

PHP2D merupakan program yang dikembangkan langsung di bawah naungan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Sekaligus menggandeng organisasi mahasiswa sebagai penggeraknya. Kegiatan PHP2D ini dilaksanakan selama 6 bulan. Yakni terhitung mulai Juli hingga Desember 2021.

Dalam program ini, tim PHP2D UKKI Upgris mengusung tema Optimalisasi SATE SAGU (Wisata Tengah Sawah Desa Gubug) Berbasis Eduecowisata Javanese Cultural Desa Gubug, Kabupaten Grobogan. Dengan dosen pembimbing Arisul Ulumuddin, tim ini beranggotakan 12 orang yang diketuai Alfina Harubi Wijayanti (Prodi PGSD).

Baca juga:  Rekrut Talenta Berbakat, Ini Dua Program Andalan BRI untuk Millenials

Adapun anggota lainnya yakni Azmi Nur Azizah (Prodi Pendidikan Matematika), Siti Umi Badriyatun (Prodi Manajemen), Azizah (Prodi PGSD), Muhammad Ainul Yaqin (Prodi Manajemen), Fathur Khoirurrofik (Prodi Manajemen), Panji Khoirul Majid (Prodi PGSD), Widya Astuti (Prodi Manajemen), Umi Aisyatul Wakhidah (Prodi Manajemen), Sukma Dwi Febriyanti (Prodi Pendidikan Matematika), Agrani Amania (Prodi Pendidikan Matematika), dan Ulfi Farisyah (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris).

“Kami ingin melestarikan budaya Jawa di Desa Gubug melalui beberapa pelatihan. Salah satunya yaitu pelatihan angklung,” kata Alfina Harubi Wijayanti, ketua program PHP2D UKKI Upgris kepada Jawa pos Radar Semarang.

Adapun pelatihan ini mneyasar kepada anak-anak SD. Sekaligus rutin dilaksanakan dua kali seminggu. Yakni setiap weekend di SD Negeri 4 Gubug.

Baca juga:  Jahe Merah Bantu Hadapi Virus Corona

“Nah, kegiatan ini dilatih langusng 2 orang dari tim kami. Yaitu Azizah dan Panji. Karena mereka yang memiliki basic di dnia PGSD,” sambungnya.

Dalam mempelajari alat musik angklung, anak-anak dituntut untuk menghafal notasi. Itu sesuai dengan anak-anak usia sekolah dasar yang memiliki daya ingat dan daya tangkap yang kuat. Juga memungkinkan mereka mengikuti pembelajaran dengan cepat.

Adapun cara yang dilakukan tim ini untuk mengenalkan angklung kepada anak-anak yaitu, dengan menanamkan rasa cinta terhadap alat musik itu. Serta dimaksudkan untuk melestarikan aset warisan budaya.

“Awalnya kami mengenalkan teknik memegang angklung, membunyikan angklung, hingga mereka dapat memainkan lagu dari bunyi harmonisasi. Setelah it, kami ajarkan mereka lagu nasional dan daerah sesuai dengan tema program kami juga yang mengangkat budaya jawa,” ujar Azizah.

Baca juga:  Terbitkan Green Bond, BRI Ajak Masyarakat Berinvestasi Sekaligus Selamatkan Bumi

Sementara itu, Panji, salah satu anggota tim, menyatakan pelatihan ini dapat melatih konsentrasi dan rasa percaya diri anak. Kendati begitu, Panji dan tim juga mengalami kendala. Seperti kesulitan memberi konsep pembelajaran. Lantaran harus berpikir kreatif agar pembelajaran tidak monoton dan membosankan bagi anak.

“Kami berusaha sebisa mungkin untuk mencegah hal itu terjadi. Yakni dengan menyelipkan ice breaking atau games- games ringan. Supaya pembelajaran lebih menarik bagi siswa,” tambah Panji.

Rencananya, tim PHP2D UKKI Upgris ingin menampilkan anak-anak yang dilatihnya dalam acara lokakarya di Wisata Tengah Sawah Desa Gubug. Lokakarya itu menjadi puncak kegiatan PHP2D UKKI Upgris. (dev/bis/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya