alexametrics

Karyawan dan Staf PT Equityworld Futures Cabang Semarang Membiasakan Diri Jaga Kebersihan dengan Daun Sirih

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Karyawan dan staf PT Equityworld Futures Cabang Semarang saat ini telah membiasakan diri menjaga kebersihan dengan daun sirih. Mereka selalu mengonsumsi daun sirih dan mencuci tangan dengan air rendaman daun sirih. Kebiasaan yang sangat berguna di masa pandemi seperti saat ini.

Kebiasaan ini tak lepas dari warisan leluhur bangsa Indonesia. Sejak dulu, ada tradisi nginang. Nginang merupakan kegiatan mengunyah kinang yang terdiri dari pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur, dan cengkih.  Tradisi warisan ini sejak dahulu biasa dilakukan oleh orang yang suka memakan kudapan. Masyarakat Jawa masih sangat percaya terhadap dampak positif dari tradisi nginang. Mereka yakin bahwa dengan nginang maka gigi akan sehat dan kuat.

Di balik nginang, ada daun sirih yang sarat makna. Makna tersiratnya adalah untuk menjaga kesucian. Daun sirih ini yang digunakan untuk menjaga kesehatan dengan mengunyah daun sirih dan mencuci tangan menggunakan air rendaman daun sirih.

Kepala Cabang EWF Semarang Ismet Faradis merupakan penggagas kebiasaan ini. “Yang namanya warisan leluhur itu kan tidak cuma benda, tapi juga karyanya, adat istiadatnya,” katanya.

Menghargai warisan leluhur sejalan dengan semboyan tiga pilar yang dimiliki EWF, yakni spiritualisme, nasionalisme dan profesionalisme. “Bentuk nasionalisme itu adalah suatu bentuk dari ketika kita menggali warisan budaya, warisan adat, warisan kebiasaan, warisan dari obat-obatan, atau apapun bentuknya dari peninggalan sejarah.”

Baca juga:  Hormati Pahlawan dan Ulama Pejuang Kemerdekaan

Sisi spiritualisme, lanjut Ismet, bisa ditunjukkan pada saat proses mengkonsumsi daun sirih. Ia menyarankan untuk memilih daun sirih yang tulang daunnya ketemu. Kalau tidak ada, tidak apa – apa, tapi cari daun sirih yang muda. “Yang paling bagus adalah yang tulang daunnya ketemu di tengah. Pilih sirih yang hijau.”

Dalam melipat daun sirih, lanjut Ismet, jangan lupa memanjatkan doa. Diawali dengan bacaan Basmalah ketika mulai melipat. Pada lipatan pertama dengan membaca “Ya Latif”, lalu melipat perlahan ke arah depan. Lipatan kedua dengan membaca “Ya Latif”. Begitu juga dengan lipatan ketiga juga membaca “Ya Latif”. Saat proses llipatan keempat membaca “Ya Kaarim”. Lipatan kelima dari arah kanan ke kiri sambil membaca “Ya Rahman” dan lipatan keenam dari kiri ke kanan membaca “Ya Rahim”.

Setelah dilipat, kemudian kita mengucap “Bismillahirahmanirahim” dan makan daun sirihnya. Pada saat makan ini kita sambil membaca “Ya Khayu Ya Khuyum, Yang Maha Hidup dan Maha Menghidupkan”. “Jadi kita kunyah saja. Kunyah terus sampai meresap. Jangan minum dulu. Biar menjalar semua sari-sarinya, baru kemudian ditelan,” saran Ismet.

Baca juga:  Platform Pemberdayaan Digital BRI Bantu Pelaku UMKM Naik Kelas

Bagi yang merasa sudah punya gejala tidak enak seperti flu, sirih bisa dimakan setelah sarapan pagi dan setelah makan malam menjelang tidur. “Tapi untuk menjaga supaya kita tidak tertular penyakit karena mungkin kita berinteraksi dengan banyak orang, setiap kali kita sudah pulang, sudah makan malam, kita makan sirih itu 1 kali cukup.”

Dijelaskannya, daun sirih itu sebenarnya punya tugas secara alami. Secara natural akan menjaga kesehatan, dari mulai hidung, mulut sampai tenggorokan. “Kita melihat orang-orang tua zaman dahulu, tidak ada mereka pernah batuk dan pilek. Jadi sebenarnya, resepnya sudah kita dapatkan peninggalan dari mbah-mbah kita. Cuma kalau nginang kan gigi jadi warnanya jelek, jadi kita pakai daun sirihnya saja yang kita kunyah dan kita telan,” papar Ismet.

Dijelaskan lebih lanjut, memperhatikan adat dan selalu ada konten lokal menjadi modal untuk membuka peluang marketing. Dalam membangun image, ada personal image, ada institusinya tapi ada juga karya. “Jadi karya atau tulisan adalah bagian dari karya. Kok mau ya EWF memperhatikan hal-hal yang seperti ini? Kan menjadi poin plus. Nah, maksudnya itu di situ,” jelas Ismet.

Baca juga:  Siapa yang Menyuruh Laskar FPI Menyerang Polisi?

Karyawan dan staf EWF Semarang juga membiasakan diri mencuci tangan dengan air rendaman daun sirih dalam gentong. Sirih yang direndam berjumlah 7 lembar.

Ismet menjelaskan makna mengapa jumlah dauh sirih harus 7 lembar. Menurutnya, angka 7 memiliki banyak makna. Dalam ilmu fisika, bumi terdiri dari 7 lapisan. Atmosfer juga terdiri dari 7 lapisan.  Begitu juga dengan langit dengan 7 lapisan. “Semua yang berkaitan dengan alam itu ada 7 lapisan. Maka, logikanya kalau 7-nya kita penuhi, itu kan komplit jadinya.

Lanjut Ismet, surat Al Fatihah juga terdiri dari 7 ayat. Gerakan salat terdiri dari 7 buah. Ketika tawaf di Kakbah, jumlahnya 7 kali. Dalam Bahasa Jawa, 7 dibaca pitu, yang dimaknai dengan pitulungan. Sehingga dengan adanya keseimbangan dengan alam, diharapkan bisa selalu ada pertolongan dari Tuhan yang Maha Esa untuk mencapai keberhasilan seperti yang diharapkan. (*)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya