alexametrics

Peluang Investasi Potensial di Pasar Rejowinangun Kota Magelang

Potensi Investasi Kota Magelang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pasar Rejowinangun punya historis kuat yang tidak dapat dipisahkan dari peradaban Kota Magelang. Kemunculannya natural seiring beroperasinya jalur kereta api di Magelang oleh perusahaan swasta, Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij (NIS) sekitar tahun 1899. Di Kelurahan Rejowinangun itu pun terdapat stasiun kereta.

Dari sinilah, kegiatan perekonomian mulai berjalan. Pasar Rejowinangun terbentuk, dan berubah menjadi pasar terbesar di Karisidenan Kedu. Namun pada 28 Juni 2008 pasar ini terbakar. Menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemkot Magelang untuk mengembalikan kejayaan Pasar Rejowinangun. Melalui proses panjang, pasar tersebut kembali dibangun pada tahun 2011. Memanfaatkan lahan seluas 24.314 meter persegi, dengan mengusung konsep_one stop service.

Bangunannya dirancang megah dua lantai, dengan sentuhan gaya modern, dan tradisional. Terdapat 2.022 los/kios. Dilengkapi pula dengan delapan musala, 64 toilet, lahan parkir, tempat penitipan anak, pos kesehatan, pos keamanan, pipa hidran, ruang CCTV, tempat ukur timbangan atau tera ulang, ruang manajemen, ruang laktasi, pusat kuliner, dan sebagainya. Akses pasar ini pun dirancang dapat dilalui mobil pemadam kebakaran (damkar) sampai ke lantai dua. Juga memudahkan pedagang pasar untuk bongkar muatan. Pasar ini juga punya akses jalan untuk kursi roda, sehingga ramah bagi disabilitas.

Baca juga:  Samakan Persepsi Regulasi, GP Farmasi Gelar Rakerprov

Kerja keras ini membuahkan hasil. Pasar Rejowinangun mampu mencapai 44 indikator sebagai pasar rakyat yang memenuhi standarisasi nasional. Predikat SNI pun didapat. Saat ini, Pasar Rejowinangun dihuni 3.000-an pedagang. Beragam komoditi diperjualbelikan, membuat pasar ini sangat lengkap. Selaras dengan misi Pemkot Magelang menjadikan Pasar Rejowinangun tidak hanya sebagai penyokong jasa perdagangan, namun juga mendukung pariwisata. “Para pedagang sudah ditata, tidak ada lagi yang mengganggu akses jalan, tidak ada kesan kumuh, dan becek,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang Catur Budi Fadjar Sumarmo.

Pasar ini pun mulai ramai dikunjungi oleh masyarakat Magelang, dan sekitarnya. Juga sebagai jujukan pusat kulakan, dan berbelanja kebutuhan rumah tangga dengan harga terjangkau. Menurut Catur, masih banyak peluang usaha di Pasar Rejowinangun. Potensi yang bisa dikembangkan adalah pusat oleh-oleh khas Magelang, yang lokasinya di lantai dua, dekat kantor UPT pasar. “Kalau banyak pedagang oleh-oleh yang masuk ke sini, pasti pasar ini akan semakin ramai,” ujarnya.

Baca juga:  Data Aman dan Proteksi COVID-19 di Aplikasi PeduliLindungi

Keramaian pasar juga ia lihat dari tingkat produksi sampah organik  dan anorganik yang dihasilkan. Volumenya mencapai 8-10 kubik per hari. Sampah-sampah itu kemudian dikirim ke TPSA Banyuurip. Namun demikian, Catur mengakui bahwa pihaknya membutuhkan inovasi pengolahan sampah. Supaya sampah organik bisa diolah menjadi pupuk cair maupun basah yang bermanfaat bagi pertanian. “Cara ini untuk memperkecil volume sampah yang dibuang ke TPSA,” jelasnya.

Ia butuh investor yang bisa menangani sampah secara profesional. Proyek percontohan akan diterapkan di Pasar Rejowinangun. Selanjutnya merambah ke pasar-pasar tradisional lainnya. Yakni, Pasar Gotong Royong, Pasar Cacaban, Pasar Kebonpolo. “Kami akan sediakan lahannya,” ujarnya.

Sebelum ini, pihaknya bersama Balitbang Kota Magelang berkolaborasi mengatasi sampah organik di pasar tradisional. Melalui budidaya maggot, atau larva dari lalat jenis black soldier fly (BSF). Dalam pengelolaannya, ia kekurangan SDM. Maggot tersebut habis diserang hama tikus. (prokompim/kotamgl)

Baca juga:  Eks MT Theater Diusulkan Jadi Balai Kota Magelang

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya