alexametrics

Masa Depan Pesantren

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Jika semua yang berasrama mendefinisikan dirinya sebagai pesantren, maka akan datang suatu masa di mana pesantren akan dianggap sama dengan lembaga pendidikan lainnya. Tidak ada distingsi, dan juga kekhasan.

Akan datang masa di mana anak-anak yang ada didalamnya yang menginap dalam gedung-gedung itu tidak mengaji kitab kuning. Mereka hanya mengerjakan tugas-tugas pelajaran di sekolah.

Akan datang masa di mana banyak anak-anak yang hafidzul Quran, tapi kurang menguasai tahsinul Quran. Hafalannya lancar, tapi diminta membaca banyak makhorijul hurufnya yang meleset.

Akan datang masa di mana anak-anak yang belajar itu hanya mengenal ustadnya, tanpa mengenal kiai atau bu nyai-nya, karena beliau-beliau sudah digantikan sistem, atau digantikan figur berdasarkan SK yang datang silih berganti secara periodik.

Pesantren yang selama ini dikenal dengan kekhasan kitab kuningnya, yang dikenal dengan penguasaan ilmu dan keluhuran budinya, yang dikenal dengan kemandirian dan kesederhanaannya, lambat laun akan hilang, dihilangkan mereka yang tidak mengaji kitab kuning, tidak memiliki kiai sebagai figur panutan, berkehidupan mewah, dan tidak mandiri, tetapi memiliki ijin operasional atau tanda daftar sebagai pondok pesantren. Demikian ini sangat memprihatinkan.

Baca juga:  HUT ke-126 BRI: Wujud Transformasi, Memberi Makna Indonesia

Pesan dan Harapan

Tinggal di pondok pesantren, takdzim kepada bapak kiai untuk menempuh ilmu pengetahuan demi masa depan dunia dan akhirat. Menjadi seorang santri, merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki diri dan bangsa ini. Dengan peringatan Hari Santri Nasional ini, sebaiknya para santri membuka kran berfikir produktif demi mewarnai kemajemukan dalam religiusitas masyarakat Indonesia. Sehingga tidak terkesan justru dijajah oleh bangsanya sendiri, sebab kiprah seorang santri dalam upaya mengangkat harkat dan martabat bangsa. Telah tampak para santri dinilai mampu memahami berbagai bidang keilmuan klasik yang ditulis para ulama, terlebih dengan kapabilitas keilmuan yang terbilang dinamis dan tidak kekang dimakan zaman.

Kitab gundul / kitab kuning dan pesantren tidak dapat dipisahkan, keduanya laksana dua sisi mata uang yang sama-sama memiliki nilai dan sudah menjadi ciri khas tersendiri, sekaligus menjadikan pembeda utama antara pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya. Sayang sekali dalam beberapa dekade terakhir, penguasaan santri terhadap kitab gundul/kitab kuning sudah mulai pudar. Terlebih dengan kemajuan teknologi membuat sebagian santri justru mulai mengacu pengetahuan dalam memahami kitab kuning berdasar ‘browsing‘. Dari arah itu Perlu disikapi secara serius agar santri mampu memahami isi kitab kuning secara mendalam . Selain menjadi ciri khas pesantren, penguasaan kitab kuning juga menjadi pembeda dengan jenis pendidikan lainnya.

Baca juga:  Xiaomi Luncurkan Redmi Note 10 Series Sebagai Jawaranya AMOLED dan Kamera 108MP, Dobrak Standar Segmen Mid-Range

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada dari sebelum zaman kemerdekaan. Kehadirannya di bumi Nusantara sebagai wadah mencerdaskan masyarakat Indonesia dalam perspektif agama dan juga nasionalisme.

Lembaga pendidikan yang sangat indigenous (asli) Nusantara ini memiliki banyak peranan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Setidaknya ada tiga peran pondok pesantren, yaitu sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan Islam, dan lembaga pengembangan masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, pondok pesantren bermetamorfosis (berubah) menjadi agen perubahan (agent of change) dan juga agen pengembangan masyarakat. Namun meskipun dengan perubahan yang sedemikian itu, institusi ini tidak meninggalkan tujuan utamanya, yaitu sebagai tafaqquh fid-din atau tempat mempelajari ilmu agama. Disinilah pesantren berperan sebagai ”Center of excellence” pusat keunggulan. Karena pesantren memiliki keunggulan komperatif, yaitu penekanan yang signifikan pada pendidikan agama dan akhlak (moralitas).

Baca juga:  Inovasi KUR Digital, BRI Raih IDX Channel Anugerah Inovasi Indonesia 2021

Hubbul wathan minal iman. Cinta tanah air adalah sebagian dari iman, begitulah penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam pondok pesantren. Sebagai lembaga pendidikan yang turut serta dalam perjalanan memajukan tanah air, sejak sebelum adanya penjajahan sampai berakhirnya penjajahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tentunya pondok pesantren selalu melakukan pengawalan terhadap bangsa dan negara ini. (*/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya