Sabar atas Cobaan, Tafsir Surah Al-Baqoroh 153-157

Ngaji Bersama KH Masruchan Bisri, Pengasuh Ponpes Roudlotul Muttaqin (Salaf) Polaman Mijen Semarang

3580
KH Masruchan Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Muttaqin (Salaf) Polaman Mijen Semarang

“YĀ ayyuhallażīna āmanusta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma’aṣ-ṣābirīn

(Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar) (QS Al Baqoroh:153).

Kata الصبر secara lughoh artinya  الْحَبْسُ (menahan atau mengekang) dan secara istilah sabar ialah mengekang atau menahan diri dalam hal yang tidak disukai.

Sabar terbagi menjadi tiga macam:

Pertama, Sabar dalam menghindari maksiat, yaitu menahan diri untuk tidak ikut atau tidak melakukan maksiat. Kedua, Sabar dalam melaksanakan ketaatan, artinya terus menerus melakukan toat (دوام فعلها) dan yang, ketiga, adalah sabar dalam menghadapi musibah dan bencana, artinya menahan diri untuk tidak marah dan melakukan hal-hal yang melanggar syariat. Abdurrohman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Sabar itu ada dalam dua bab. Bab karena Allah dengan melaksanakan kewajiban dari-Nya, meskipun berat bagi jiwa dan raga, serta sabar karena Allah dalam meninggalkan hal-hal yang dibenci-Nya, meskipun hawa nafsu sangat cenderung kepadanya.”

Di dalam ayat ini, dikhususkan tentang pembahasan sabar dan salat. Sebab sabar merupakan amal batin yang terberat. Sabar adalah faktor mental yang paling kuat pengaruhnya terhadap jiwa, dan salat merupakan perbuatan dhohir yang terberat pula.

Kata salat secara lughoh dalam bahasa Arab artinya doa. Kalau dari malaikat ia bermakna istighfar, sedangkan kalau dari Allah ia bermakna rahmat. Allah secara khusus menyebutkan salat karena ia berulang-ulang dikerjakan dan nilainya sangat agung. Salat merupakan induk segala ibadah, salat adalah jalan penghubung dengan Allah, sarana untuk bermunajat kepada-Nya. Salat merupakan wasilah atau lantaran untuk meraih ketenangan jiwa bagi orang-orang yang beriman.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “ketenangan tertinggi aku raih dalam salat.” Menurut sebuah riwayat, apabila Rasullulah SAW sedang mengalami kesusahan akibat suatu persoalan, maka biasanya Rasulullah SAW mencari ketenangan dengan mengerjakan salat dan membaca ayat ini. إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّابِرِينَ (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar). Di sini Allah menyebut secara khusus, bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar, meskipun pada hakikatnya Allah bersama setiap orang, karena yang dimaksud dengan kebersamaan khusus (معيّة مخصوصة) adalah pertolongan Allah (الْعوْن وَالْاغاثة), dan yang dimaksud kebersamaan umum atas Allah bersama setiap orang adalah pengertian dan kekuasaan Allah (معيّة علمٍ وَقُدْرةٍ). Orang-orang yang sabar mendapat pertolongan dari Allah, dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Tidak henti-henti hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunah (نَوَافِلُ) hingga Aku mencintainya.”

Setelah selesai menjelaskan perintah untuk bersyukur, lalu Allah SWT memulai penjelasan tentang kesabaran dan permohonan pertolongan (kepada Allah SWT) dengan sabar dan salat, sebab seorang hamba tentu berada dalam salah satu dari dua keadaan yaitu mendapat nikmat (agar bersyukur) atau mendapat musibah (agar bersabar).

Dalam suatu hadis shahih, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sungguh mengagumkan seorang mukmin, Allah tidak memutuskan untuknya satu keputusan, kecuali hal itu baik baginya, jika ia mendapatkan kenikmatan, lalu ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia mendapatkan musibah, lalu ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”

Wa lā taqụlụ limay yuqtalu fī sabīlillāhi amwāt, bal aḥyā`uw wa lākil lā tasy’urụn “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS Al-Baqoroh:154).

( أَمْوَات بَلْ أَحْيَآء) kedua kalimah ini adalah kalimah isim yang berkedudukan marfu`karena masing-masing adalah khobar bagi mubtada` yang terbuang (مَحْذُوْف) taqdirnya adalah (هُمْ اَموات بَلْ هُمْ اَحْيَاء). Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang muslim yang mati terbunuh dalam perang badar. Mereka berjumlah empat belas, enam dari kaum muhajirin dan delapan dari kaum Anshor.

Kaum musyrikin dan kaum munafiqin mengatakan: “Mereka benar-benar telah mati, mereka menyia-nyiakan dirinya sehingga mereka tidak bisa merasakan kenikmatan dunia dan mereka mengaku bahwa matinya dalam keridhoan Muhammad”. Atas kejadian ini, maka Allah memberitahukan kepada orang-orang munafiq dan musyrik bahwa mereka yang terbunuh dalam perang Badar tidak mati, tetapi mereka hidup dan bahkan mereka mendapat rezeki dari Tuhannya yang tidak akan putus dan mereka dalam keadaan gembira. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surat Ali Imron ayat 169-170 “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizqi. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

 Penjelasan tambahan dari Penulis

Perlu kita ketahui bahwa orang-orang yang mendapat balasan yang sangat besar itu adalah mereka yang benar-benar berjuang menegakkan ajaran Islam dan kehormatan serta keamanan kaum muslimin, dalam situasi dimana ajaran Islam tidak boleh berkembang dan kaum muslimin diusir dari kampung halamannya serta didzoliminya, maka dalam keadaan seperti ini mereka memerangi serta menghalau kaum musyrikin dan munafiqin (اعداءالدين) dalam rangka menegakkan ajaran Islam dan kehormatan kaum muslimin. Apabila di antara mereka yang gugur di medan peperangan, maka ia berhak menyandang gelar sebagai syahid (orang yang mati syahid) dan ia berhak mendapat balasan yang besar seperti yang telah dijelaskan oleh Allah dalam ayat-ayat tersebut di atas, karena ia adalah syahid yang sesungguhnya, bukan syahid buatan sendiri atau ngaku-ngaku syahid seperti melakukan bom bunuh diri di tempat-tempat tertentu misal di hotel, gereja, pos polisi bahkan di masjid, orang yang mati seperti ini bukan mati syahid, namun mati dalam rangka melakukan kejahatan dan ia akan mendapatkan siksa berat kelak di akhirat seperti yang ia lakukan ketika membunuh dirinya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis sahih riwayat Bukhori dan Muslim, “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu kelak akan berada di tangannya dan akan dia gunakan untuk menikam perutnya sendiri di dalam neraka Jahannam, kekal di sana selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka kelak ia akan meminumnya sedikit-demi sedikit di dalam neraka Jahannam, kekal di sana selama-lamanya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, maka dia akan dijatuhkan dari tempat yang tinggi di dalam neraka Jahannam, kekal di sana selama-selamanya.”

Oleh karena itu, sebelum kita menobatkan diri sebagai mujahid, hendaknya kita persiapkan terlebih dahulu perbekalan yang cukup terutama pengetahuan di bidang keagamaan, kita harus mengaji, menuntut ilmu dengan guru yang berkompetensi, kita memilih guru yang ucapan dan tindakannya bisa kita tiru, dalam kitab Ta`lim yang sering diajarkan di pondok-pondok pesantren di bahas dalam fashol “في اختيارالْعلْمِ وَالأُسْتَاذ وَالشرِيْك والثبات “.

Karena jika kita mau belajar dengan ustad yang tidak hanya pandai dalam membaca Alquran dan lincah dalam berceramah, namun juga pandai mengaji, pandai memberi contoh serta memiliki akhlak yang terpuji, maka niscaya kita akan memperoleh ilmu pengetahuan yang bisa mencerahkan dan akan menambah wawasan kebangsaan serta kita akan selalu terinspirasi untuk senantiasa berbakti dan selalu berupaya untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi umat, masyarakat, agama, nusa dan bangsa.

Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqoroh:155).

( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ ) : huruf lam (والام) adalah jawab dari qosam (sumpah), taqdirnya ialah: والّلهِ لَنَبْلُوَنَّكُمْ       (Demi Allah, sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu). Kata بَلَاء artinya : ujian atau cobaan. بَلَاء terbagi menjadi dua macam yaitu berupa malapetaka atau kejelekan (اِبْتِلَاء) dan berupa kenikmatan atau kebaikan (اِنْعَام ).

Dunia adalah negeri (tempat) ujian dan cobaan. Ujian adakalanya berupa kebaikan dan adakalanya berupa kejelakan, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Anbiya:35, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu di kembalikan.”

(بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ ), pemakaian bentuk nakiroh berfungsi untuk menyatakan sedikit, بِشَىْءٍ attaqdir : بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْجُوعِ : sedikit dari ketakutan dan sedikit dari kelaparan.

Maksud ayat ini adalah, “Kami akan memberikan kalian cobaan untuk menguji keadaan kalian, dengan sedikit rasa takut (ketakutan), sedikit kelaparan (paceklik), kekurangan harta karena rusak, kekurangan jiwa karena terbunuh, meninggal atau menderita penyakit dan kekurangan buah-buahan karena terserang hama atau karena yang lain, dan kami akan melihat apakah kalian sabar atau tidak.

(وَبَشِّرِ ٱلصَّابِرِينَ ): dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar menghadapi ujian bahwa mereka akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Menangis dan bersedih, tapi hati tetap rida dan menerima qodho dan qodar dari Allah SWT adalah tidak merusak kesabaran dan tidak berdosa.

Disebutkan dalam Sahih Bukhori dan Sahih Muslim bahwa Nabi SAW menangis ketika putra beliau yang bernama Ibrahim meninggal, seseorang lantas bertanya, “Bukankah kamu melarang berbuat demikian?” Beliau bersabda: “Ini adalah ungkapan rasa kasih sayang.” Lalu beliau melanjutkan, “Air mata bercucuran dan hati bersedih, tapi kami tidak mengucapkan selain perkataan yang di rida Tuhan kami, dan sungguh kami berduka dengan kematianmu, wahai Ibrahim.”

Allażīna iżā aṣābat-hum muṣībah, qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ụn “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,” (QS Al-Baqoroh:156).

Kata مُصِيبَةٌ adalah isim mufrod dan jamaknya adalah مصائب. Musibah artinya segala apa yang diderita oleh seorang mukmin atau malapetaka yang menimpa terhadap seorang mukmin baik yang bersifat berat atau ringan. Nabi bersabda: ” كل ما اذى الْمؤمنَ فهو مصيبة ” (Segala sesuatu yang menyakitkan orang mukmin adalah musibah). Makna “إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ”

إِنَّا لِلَّهِ (sesungguhnya kami milik Allah), ini adalah sebuah ucapan tauhid (pengesaan Tuhan) dan kesaksian atas kepemilikan dan penyembahan kepada-Nya.

وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ : (dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami juga akan kembali). Ini adalah kesaksian kita atas kepastian binasanya setiap manusia, pembangkitan dari kubur mereka, dan keyakinan bahwa setiap perkara pasti akan dikembalikan hanya kepada-Nya.

Said bin Jubair mengatakan: “Kalimat ini tidak diberikan kepada satu Nabi pun kecuali Nabi Muhammad SAW, seandainya Nabi Ya`qub telah mengetahuinya pastilah ia tidak akan mengatakan : يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf” (QS Yusuf:84).

Ucapan Ketika Mengalami Musibah

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim Nabi SAW bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang mengalami musibah, lalu ia mengucapkan (sesuai dengan) ucapan yang diperintah oleh Allah kepadanya (yaitu): “إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُون اللّهُمّ أْجُرْنِىْ فِى مُصِيْبَتِى وَأخْلِفْ لِىْ خَيْرًامِنْها ” (inna lillahi wainna ilahi roji`uun, Allahumma`jurniy fii mushiibatiy wakhlifliy khoiron minha), kecuali Allah akan menggantikan yang lebih baik untuknya.

Jika seseorang mendapat musibah yang berat maka hendaknya ia mengingat musibah yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad SAW, karena musibah beliau jauh lebih berat dari pada musibah yang dialami oleh umatnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Thobroni dan Baihaqi. Nabi SAW bersabda: Jika salah seorang dari kalian mengalami suatu musibah, maka bandingkanlah musibahnya dengan musibahku, karena musibah (yang aku alami) adalah musibah yang terberat. Termasuk ujian atau cobaan yang berat adalah tetap terus berbuat kebaikan dan kemaslahatan serta istiqomah dalam perjuangan meskipun situasi kurang nyaman dan serba kekurangan, sebagaimana yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yaitu beberapa waktu setelah hijrah dari Makah ke Madinah, orang-orang mukmin hidup dalam kekurangan, karena harta benda yang dimilikinya tertinggal di Makah dan Madinah pada saat itu sedang ada wabah penyakit demam yang menular dan mengancam kematian. Namun meskipun keadaan demikian, para sahabat tetap sabar dan tetap taat, begitu pula ketika kafir Quraisy berkoalisi dengan Yahudi Madinah dalam Perang Tabuk dan Perang Khondaq para sahabat tetap terus berjuang untuk menghalau musuh-musuh agama Allah, meskipun mereka dalam keadaan sangat kekurangan, sehingga mereka hanya mengisi perutnya dengan beberapa butir kurma.

Ulā`ika ‘alaihim ṣalawātum mir rabbihim wa raḥmah, wa ulā`ika humul-muhtadụn

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS Al-Baqoroh:157).

Ibnu Abbas berkata : kata صلوات artinya مغفرة (ampunan) dan menurut Azzujaj الصلاة من الله adalah الغُفران والثناءُالحسن (ampunan dan pujian yang baik), dan arti رحمة menurut suatu pendapat كَشْف الْكُرْبةوقَضَاءِالْحَاجة (hilangnya kesulitan dan terpenuhinya kebutuhan).

Maksud ayat ini adalah : Orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah, maka mereka akan mendapat tiga balasan dari Allah SWT, yaitu pertama akan mendapat ampunan dan pujian yang baik dari Allah, kedua kesulitannya akan hilang dan terpenuhinya kebutuhan dan ketiga Allah akan memberinya hidayah atau petunjuk ke jalan yang haq dan benar.
Orang-orang yang sabar akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat (الذين فازُوْابخيري الدنياوالاخرة ).

Namun sabar yang akan mendapatkan balasan yang besar itu adalah sabar ketika awal datangnya musibah atau malapetaka ( عند صدْمة الاوْلى). Dalam sebuah hadis riwayat Bukhori, Nabi bersabda: “Kesabaran (yang mendapat pahala besar) adalah yang ada pada saat musibah baru saja menimpa.” (*/bis/ida/bas)

(Penjelasan ini diambil dari beberapa kitab tafsir, antara lain Tafsir Thobari, Tafsir Qurtubhi, Tafsir Maroghi, Tafsir Baidhowi, Tafsir Showi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir dan Tafsir Al Ma`tsur)





Tinggalkan Balasan