Sahabat Guru Indonesia, Bentuk Apresiasi ACT pada Pengabdian Guru Prasejahtera

177
Foto bersama perwakilan para guru dari berbagai daerah dalam program "Sahabat Guru Indonesia" dengan tim manajemen Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam memperingati Hari Guru Nasional (25/11).

RADARSEMARANG.ID, JAKARTA- Mengabdi menjadi guru terkadang bukanlah sebuah jalan mudah, terutama untuk para guru yang kondisi ekonominya terbatas. Misalnya saja guru honorer dan guru tahfiz yang penghasilannya masih di bawah UMR. Menurut Data Pokok Pendidikan Nasional (Dapodik) Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, ada 1.070.662 guru yang masih berstatus honorer dengan pendapatan di bawah UMR (rata-rata Rp 300.000 sampai dengan Rp 500.000 per bulan). Fakta tersebut mendorong Aksi Cepat Tanggap menghadirkan program Sahabat Guru Indonesia, yakni program bantuan beaguru untuk guru prasejahtera, bertepatan dengan Hari Guru Nasional, Senin (25/11).

Ahyudin selaku Ketua Dewan Pembina ACT menyampaikan tujuan utama program Sahabat Guru Indonesia adalah untuk memberikan kontribusi perbaikan pada permasalahan pendidikan di Indonesia. Salah satunya pada kesejahteraan ekonomi para guru. ”Program ini sebagai medium untuk menyemangati guru-guru prasejahtera dalam mengabdi. Guru merupakan elemen penting dalam menentukan kualitas pendidikan, peran guru merupakan peran sentral untuk membangun karakter anak bangsa. Kami ingin terus menebar manfaat dan menjadi jembatan dari jiwa-jiwa dermawan baik nasional maupun global untuk masyarakat yang membutuhkan. Kami percaya barang siapa yang memberikan kemudahan (membantu) saudara yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat,” ungkapnya.

Direktur Program ACT Wahyu Novyan menambahkan fakta bahwa guru di berbagai pelosok negeri banyak yang berpendapatan sangat kecil. “Masih tingginya jumlah guru berpenghasilan rendah seakan menjadi pekerjaan rumah bersama. Mereka yang telah mengabdikan diri untuk pendidikan negeri butuh perhatian lebih. Misalnya, salah satu guru di Sikakap digaji 500 ribu per bulan. Itu pun tak dibayar tiap bulan karena keadaan perekonomian sekolah yang tak menentu. Walau begitu, para pengabdi negeri ini tak kenal lelah membimbing penerus bangsanya,” ungkap Wahyu.

Melalui program Sahabat Guru Indonesia, para guru prasejahtera di Indonesia akan menerima beaguru untuk menunjang ekonomi mereka. Adapun kriteria guru yang menerima manfaat dari program ini adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz), berasal dari wilayah prasejahtera, dan memiliki dedikasi mengajar yang tinggi untuk siswa-siswanya.

Sementara itu, tantangan untuk terus memajukan pendidikan anak bangsa pun terus muncul. Misalnya saja, sulitnya akses menuju sekolah, fasilitas sekolah yang belum memadai, hingga minimnya pendapatan para guru. Salah satu cerita pengalaman menjadi guru honorer selama 10 tahun di MI Al-Huda Rancapinang, hadir dari seorang guru bernama M. Ramsudin Fajri. “Pada tahun 2009 saya mengajar dengan sukarela tanpa ada yang bayar satu rupiah pun. Tapi semua itu terus saya jalani tanpa terhenti ditengah jalan karena pada waktu itu sekolah kami belum mendapatkan izin operasional dari Departemen Agama Kabupaten Pandeglang. Pada tahun 2010 sekolah kami baru mendapatkan izin operasional dari instansi terkait dengan jumlah murid sebanyak 21 orang dengan kondisi bangunan sekolah masih gubuk yang memiliki 2 ruang belajar dengan ukuran ruangan panjang 3×3 m2,” ungkap Fajri.

Semua operasional yang ada pun merupakan hasil jerih payah swadaya masyarakat. Pada tahun yang sama, para guru di sana baru mendapat gaji per bulan Rp 100.000 dan dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Sedangkan pada tahun 2013 sampai dengan saat ini, mereka mendapatkan gaji per bulan Rp 300.000 dan dibayarkan setiap 3 bulan sekali.

“Proses belajar mengajar terus berlangsung walaupun kami harus bergantian dengan guru lainnya demi bisa mencari nafkah buat istri dan anak-anak kami. Semua itu tetap tidak menyurutkan langkah kami untuk tetap mengajar di sekolah  karena saya yakin suatu saat Allah akan memberi kemudahan,” tambah Fajri.

Gaji yang sangat kecil ini sangat tak berbanding dengan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan oleh keluarga guru. Oleh sebab itu, tak sedikit dari mereka yang harus bekerja lagi sepulang mengajar. Lukman misalnya, guru honorer di SMP Terbuka 17 Bekasi sepulang mengajar akan melanjutkan pekerjaan sebagai pengemas produk madu. Usaha ini ia lakukan demi mencukupi kebutuhan keluarganya. “Kalau menggantungkan pemasukan dari mengajar saja tak cukup ya, tapi tak masalah. Saya mengabdikan diri sebagai guru, mengajarkan anak-anak yang sebagian besar datang dari keluarga perekonomian prasejahtera,” tutur Lukman.

*Dalam memperingati Hari Guru Nasional, masih banyaknya jumlah guru honorer prasejahtera menjadi  refleksi bersama untuk pendidikan Indonesia. “Program ini akan memberikan tunjangan kepada guru-guru dengan keterbatasan ekonomi di seluruh Indonesia, terlebih mereka yang masih berpenghasilan tak menentu dan rendah. Semoga program ini dapat menyemangati para guru dan pendidikan Indonesia bisa menjadi lebih baik,” tutup Wahyu Novyan. (act/web/ap)