Paket Pangan yang Bahagiakan Warga Makula

156

RADARSEMARANG.ID – Ama begitu bersyukur saat anaknya mendapatkan susu formula. Namun, ada sedikit kekhawatiran dalam diri Ama (47) saat menerima bantuan pangan susu formula untuk balitanya. Ibu tunggal dari delapan anak itu khawatir kalau nanti anaknya malah gemar minum susu.

“Saya khawatir kalau dia minta terus-terusan dan menangis karena saya tidak  mampu membelikan,” cerita Ama kepada Miftahul Jannah (24), relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan beberapa bulan lalu. Ama adalah salah satu warga Kampung Makula, Kecamatan Lembang, Pinrang, yang bekerja sebagai buruh kopi.

Sama seperti Ama, sebagian besar warga Kampung Makula adalah buruh kebun kopi. Mereka bekerja merawat tanaman kopi hingga memanen hasil kopi para pemilik kebun. Miftah bercerita, tidak jarang, untuk makan sehari-hari warga memanfaatkan hasil kebun. “Kalau ada jagung di kebun ya makan jagung, begitu juga sayur-sayuran,” cerita Miftah.

Dalam rangkaian program bertajuk “Bangkitkan Islam Bangun Peradaban”, Aksi  Cepat Tanggap (ACT) dan tim MRI Sulawesi Selatan melakukan pengabdian masyarakat di Kampung Makula. Kampung ini merupakan lokasi relokasi sejumlah warga yang tadinya tinggal berjauhan. “Saya sangat kagum dengan ketekunan warga Kampung Makula. Mereka rela memindahkan rumah untuk belajar agama lebih baik,” lanjut penanggung jawab program pembinaan Makula itu.

Akhir Oktober lalu, Senin (28/10), MRI Pinrang sebanyak 35 paket pangan untuk warga Kampung Makula. Paket pangan itu merupakan amanah bantuan dari dermawan ACT dan Bukalapak. Miftah mengatakan, paket pangan tersebut berisi kebutuhan pangan pokok seperti beras, gula, dan susu. Menurut Miftah, bantuan pangan itu sangat disyukuri warga Kampung Makula.

“Ketika kami berkunjung ke salah satu rumah warga, mereka menyuguhkan kami teh manis. Di sana tuan rumah bercerita kalau tidak pernah meminum teh, apalagi teh manis, selain dari bantuan pangan yang mereka terima saat ini,” ungkap Miftah.

Medi (50), ibu enam anak, turut bersyukur dengan bantuan pangan yang ia terima. Sehari-hari, perempuan yang biasa disapa indo (ibu) Medi dan suaminya menjual hasil kebun kopi. Keluarga Medi memindahkan rumah ke Kampung Makula pada awal bulan lalu. “Kami cicil rumah satu-satu. Kadang kayu penyangga dulu, lalu kami susun lagi,” ceritanya. Selama menunggu susunan rumahnya lengkap, Medi dan keluarga tinggal di tenda.

Sebagian besar warga Kampung Makula memang memindahkan rumahnya dari wilayah pegunungan. Selama ini, mereka tinggal berjauhan. Kini ada 35 kepala keluarga di Kampung Makula yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan darat selama enam jam dari Kota Makassar itu.

Sejak Desember tahun lalu, ACT dan relawan MRI Sulawesi Selatan melakukan pendampingan warga Kampung Makula yang seluruhnya mualaf. Menurut keterangan Miftah, berkumpulnya warga kampung saat ini adalah tekad kuat mereka yang mau belajar Islam lebih jauh.

Selain pangan kata Suroto, Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap Jawa Tengah (ACT Jateng) juga melakukan sejumlah program di Kampung Makula. “Oktober ini kami juga menyampaikan bantuan beaguru. Kami juga tengah membangun masjid bekerja sama dengan mitra. Kami juga tidak akan meninggalkan mereka. Saat ini di Kampung Makula juga sedang mengabdi seorang dai dari Program Dai Nusantara ACT,” jelas Suroto.

Berbagai jenis program pendamping terus dikembangkan oleh para relawan mulai dari program pendidikan, layanan kesehatan,  pendampingan administratif, hingga pengadaan sarana dan prasarana. (act/web/ap)