RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bisa diterima oleh siswa yang dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari — hari.
Meski tidak semua materi ajar bisa diterapkan dalam kehidupan sehari — hari, tetapi setidaknya pembelajaran dapat mengubah pola pikir anak agar lebih maju.
Menurut Wina Sanjaya, minat belajar adalah aspek yang dapat menentukan motivasi seseorang dalam melakukan aktivitas tertentu.
Sedangkan menurut Slameto, minat belajar adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktvitas tanpa ada yang menyuruh.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah dorongan rasa ketertarikan akan sesuatu.
Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan sehari—hari oleh orang Jawa.
Tetapi sekarang ini anak — anak lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari — hari.
Sehingga pengguaan Bahasa Jawa dalam kehidupan mereka menjadi berkurang.
Perbendaharaan kata Bahasa Jawa yang mereka miliki juga berkurang.
Salah satu materi Bahasa Jawa di kelas V adalah aksara jawa. Materi ini dirasa sangat sulit bagi anak—anak.
Karena mereka tidak pernah menerapkan aksara jawa pada kehidupan sehari-hari. Bahkan penggunaan aksara jawa di sekitar lingkungan anak juga jarang dijumpai.
Sehingga aksara jawa itu sendiri terasa asing dan tidak dekat dengan anak.
Selain itu, pengenalan aksara jawa hanya dikenalkan di bangku sekolah.
Dimulai dari kelas II. Kebanyakan dari mereka merasa bahwa aksara jawa sangat sulit untuk dipelajari.
Mengenalkan aksara jawa memang seharusnya dimulai sejak kecil, kemudian diajarkan untuk mulai menulis aksara jawa.
Munculnya kesulitan ini bisa terjadi karena minat belajar anak kurang.
Sehingga mereka mengganggap bahwa aksara jawa itu sangat sulit dan malas untuk mempelajariya.
Untuk mengenalkan dan memberikan fasiltas belajar agar memotivasi minat belajar anak, penulis berusaha membuat alat peraga yang dekat dengan anak, dan bisa diakses oleh setiap anak yang ada di kelas.
Yaitu, membuat pohon aksara jawa atau disingkat Poksarja.
Mengakomodasi dari pohon literasi, penulis membuat Poksarja di kelas V SD Negeri Kenconorejo 01.
Poksarja memadukan gambar pohon besar yang dilukis di dalam ruang kelas, kemudian menempelkan buah yang sudah diberi tulisan aksara jawa.
Dimulai dari aksara jawa, pasangan, dan sandhangan menjadi pohon aksara jawa.
Semua siswa di dalam kelas bisa mengakses pohon tersebut.
Karena lebih dekat dengan anak — anak, terutama pada saat pembelajaran Bahasa Jawa berlangsung.
Anak — anak akan riuh untuk melihat Poksarja tersebut. Mereka merasakan hal baru yang belum perah mereka lihat dan coba sebelumnya.
Sehingga minat mereka semakin bertambah terhadap pembelajaran bahasa jawa, terutama materi aksara jawa.
Meski ada beberapa anak yang masih malu — malu untuk ikut melihat dan mencoba Poksarja.
Pembelajaran yang tadinya membosankan dan menakutkan ternyata menjadi lebih bersemangat untuk diikuti.
Meskipun Poksarja ini bukanlah hal besar untuk meningkatkan prestasi siswa. Namun dengan adanya Poksarja, siswa tidak lagi merasa bahwa pembelajaran aksara jawa begitu menakutkan.
Aksara jawa tidak hanya untuk dilihat dan dicoba oleh anak — anak, tetapi harus tetap dihafalkan dan belajar latihan menulis akasara jawa.
Dengan meningkatnya minat belajar aksara jawa, maka akan berdampak pula pada minat belajar untuk menghafalkan huruf aksara jawa tersebut. (on/aro)
Oleh : Erna Setyoningrum, S.Pd.
Guru SD Negeri Kenconorejo 01, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang
Editor : Tasropi