Latar belakang murid yang berbeda-beda berdampak pada pembentukan karakter murid. Guru yang bertugas hanya beberapa jam di sekolah hanya dapat mengendalikan. Jadi diperlukan sebuah keyakinan kelas untuk penguatan budaya positif di sekolah demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila.
Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya (Dewantara, 1961: 20)”.
UU No 20 tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Kedua hal mengenai tersebut melahirkan sebuah pedoman yaitu Profil Pelajar Pancasila. Untuk memantapkan pembentukan watak dan peradaban yang dapat dilakukan dengan cara menerapkan budaya positif di sekolah. Dengan budaya positif dapat mewujudkan sikap disiplin yang dapat memunculkan motivasi dari dalam diri bukan karena hukuman atau mengharap imbalan.
Guru jangan hanya menuntut. Tapi harus menuntun. Karena setiap murid sejak lahir sudah memiliki karakter sendiri-sendiri. Dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Tugas guru menuntun murid sesuai kodratnya melalui teladan-teladan yang baik. Hingga dapat mewujudkan perilaku yang berkarakter. Meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa.
Sebagai langkah awal untuk penerapan budaya positif, bisa dimulai membuat kesepakatan kelas atau keyakinan kelas. Menurut Gossen (1998), “suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan”
Kesepakatan kelas dibuat di awal tahun pembelajaran atau di awal semester. Dengan cara menuliskan di selembar kertas kecil dengan langkah-langkah sebagai berikut: pertama guru mengajak murid untuk berpikir tentang impian kelasnya, kedua murid menuliskan sesuai impiannya di kertas untuk di tempel dan bisa dibaca semua orang, ketiga setelah menulis semua dan ditempel lalu dibacakan satu persatu, keempat guru mengajak murid berdiskusi membahas impian-impian tentang kelasnya yang sudah mereka tulis untuk menemukan kesamaan yang mereka miliki.
Kelima guru dan murid membaca hasil kesepakatan kelas yang telah disetujui, kemudian murid menandatangani kesepakatan tersebut sebagai tanda persetujuan. Setelah terbentuk kesepakatan kelas lalu diyakini adanya nilai-nilai kebajikan yang menjadikan keyakinan kelas.
Murid akan berpikir dua kali untuk melanggar keyakinan kelas yang sudah disepakati bersama. Sehingga murid dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, yang akan tercipta disiplin positif yang membawa ke budaya positif.
Dengan menjalankan budaya positif di sekolah maka akan mempermudah tercapainya tujuan pendidikan Nasional yang berpihak pada murid dan bersifat menuntun tumbuh atau hidupnya dan kekuatan kodrat yang ada pada diri murid. Budaya positif dapat terwujud dengan kolaborasi dengan semua warga sekolah. Adanya keyakinan sekolah yang harus disepakati dan dijalankan bersama.
Penerapan budaya positif dapat menciptakan lingkungan sekolah yang positif, aman, nyaman, berpihak pada murid. Sehingga murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri dan bertanggung jawab. (gp/fth)
GURU KELAS I SDN 01 Ponolawen Editor : Agus AP