Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Mempelajari Konflik Sosial Semakin Asyik dan Menarik dengan PBL

Agus AP • Senin, 18 Juli 2022 | 22:11 WIB
Rochana Nur Arifah, AKS
Rochana Nur Arifah, AKS
RADARSEMARANG.ID, Sebagai pendidik kita dituntut untuk bisa menciptakan suasana pembelajaran di kelas dengan berbagai metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Sehingga bisa menstimulasi daya pikir peserta didik untuk selalu terlibat aktif dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam proses pembelajaran.

Harapannya peserta didik mendapatkan pembelajaran yang bermakna sesuai dengan realitas sosial dalam kehidupan masyarakat yang dipelajari dalam mata pelajaran sosiologi.

Materi kelas XI di SMAN 1 Kota Mungkid Kabupaten Magelang tentang “Konflik Sosial dan Kekerasan“ pada semester genap lebih tepat menggunakan metode PBL. Dengan metode Problem Base Learning (PBL) pembelajaran di kelas semakin menarik dan peserta didik semakin asyik mempelajari materi tersebut.

PBL atau proses pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar.

Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) model Problem Base Learning (PBL) adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.

Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) PBL diartikan sebuah model pembelajaran yang di dalamnya melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan beberapa tahap metode ilmiah. Sehingga mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah sekaligus diharapkan memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.

Langkah-langkah dalam pembelajaran menggunakan metode PBL adalah sebagai berikut: pertama, orientasi peserta didik pada masalah. Kemudian mengorganisasi peserta didik untuk belajar. Lalu membimbing pengalaman individual/kelompok. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Selanjutnya menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Pada awal pembelajaran materi konflik sosial dan kekerasan, guru memberi penjelasan tujuan mempelajari materi tentang konflik sosial. Selanjutnya peserta didik dipandu dan difasilitasi guru untuk mencari tentang hakikat konflik sosial, penyebab, bentuk-bentuk konflik sosial, dampak beserta resolusi dari konflik secara konseptual melalui berbagai sumber baik buku pelajaran maupun melalui internet. Dengan pemahaman secara konseptual diharapkan peserta didik sudah memiliki gambaran tentang materi yang dipelajari.

Pada tahap selanjutnya peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan empat orang. Tiap kelompok diberi tugas untuk mencari salah satu contoh konflik sosial yang up to date di dalam masyarakat dalam bentuk video dari YouTube.

Mereka bebas menentukan bentuk konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Dari video yang diperoleh dari YouTube selanjutnya tiap kelompok mendiskusikan bersama kelompoknya. Mereka mengamati, menganalisis serta mengumpulkan data untuk menentukan bentuk konflik, faktor penyebab munculnya konflik serta dampak yang terjadi dari adanya konflik tersebut.

Dari hasil pengamatan tersebut peserta didik juga diminta untuk memberikan solusi untuk mengatasi konflik yang terjadi. Tentu saja hasil analisis juga dikaitkan dengan teori yang sudah dipelajari sebelumnya.

Tiap kelompok mempresentasikan video dari YouTube beserta hasil analisisnya. Kelompok lain ikut menyimak dan mengamatinya. Presentasi tiap kelompok menayangkan berbagai ragam bentuk konflik sosial yang nyata terjadi dalam masyarakat. Dengan demikian peserta didik dapat memahami dan menyimpulkan tentang berbagai macam bentuk konflik , penyebab, dampak dan solusinya.

Guru memberikan evaluasi dari hasil presentasi tiap kelompok. Selanjutnya bersama peserta didik merefleksi dari materi yang telah dipelajari. Dengan metode PBL materi lebih mudah dimengerti dan dipahami, sehingga pembelajaran lebih asyik dan menarik bagi peserta didik. (mj/lis)


Guru Sosiologi SMAN 1 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP
#Guru Sosiologi #konflik sosial #Problem Base Learning #SMAN 1 Kota Mungkid #PBL #Rochana Nur Arifah