Keadaan aktif akan membentuk peserta didik bersemangat sehingga mereka mampu bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. Berangkat dari keadaan ini proses pembelajaran dapat berlangsung tidak hanya terbatas di sekolah tetapi juga belajar dari rumah (BDR).
Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pasca pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19 sudah mulai berlangsung di SD Negeri 01 Sumublor Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan seiring dengan kebijakan dari Kemendikbud dan pemerintah daerah.
Namun demikian masih banyak peserta didik yang belum dapat menyesuaikan diri dengan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka atau langsung di dalam kelas. Mereka kurang perhatian dan cenderung pasif dalam proses pembelajaran.
Dari permasalahan tersebut penulis menggunakan model pembelajaran tebak kata agar peserta didik dapat memperhatikan dan lebih aktif dalam proses pembelajaran misalnya pada muatan pelajaran ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial yang banyak mengandung aspek pengetahuan.
Model pembelajaran tebak kata merupakan rumpun model pembelajaran cooperative learning, yaitu model pembelajaran yang menggunakan media kartu teka-teki yang berpasangan dengan kartu jawaban teka-teki. Permainan tebak kata dilaksanakan dengan cara menjodohkan kartu soal teka-teki dengan kartu jawaban yang tepat.
Melalui permainan tebak kata selain peserta didik menjadi tertarik untuk belajar juga akan memudahkan peserta didik dalam menanamkan konsep pelajaran dalam ingatan. Selain itu peserta didik juga diarahkan untuk aktif yaitu memiliki kemampuan untuk bertanya dan mengemukakan gagasan.
Menurut Aqib (Ashari, 2014: 24), model pembelajaran tebak kata adalah model pembelajaran penyampaian materi ajar dengan menggunakan kata-kata singkat dalam bentuk permainan sehingga peserta didik dapat menerima pesan pembelajaran melalui kartu.
Sedangkan menurut Kurniasih dan Sani (2015:94), menjelaskan bahwa model pembelajaran tebak kata merupakan model pembelajaran yang menggunakan media kartu teka-teki yang berpasangan dengan kartu jawaban teka-teki.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran tebak kata adalah pertama guru menjelaskan kompetensi atau tujuan yang ingin dicapai. Kedua, guru meminta peserta didik untuk berdiri berpasangan di depan kelas. Sebaiknya anak laki-laki dengan laki-laki dan anak perempuan dengan perempuan.
Ketiga, seorang peserta didik diberi kartu yang berukuran 10 x 10 cm yang akan dibacakan pada pasangannya. Peserta didik lainnya diberi kartu yang berukuran 5 x 2 cm yang isinya tidak boleh dibaca, dalam kondisi dilipat kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di telinga.
Keempat, peserta didik membawa kartu berukuran 10 x 10 cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu tersebut. Jawaban dinyatakan tepat jika sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau di telinga.
Kelima, apabila jawabannya tepat sesuai yang tertulis di kartu, maka pasangan itu boleh duduk. Apabila jawabannya belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan, mereka boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asalkan tidak langsung memberikan jawabannya. Dan dilanjutkan sampai semua peserta didik mendapat bagian.
Dengan model tebak kata yang penulis laksanakan di kelas enam SD Negeri 01 Sumublor khususnya pada muatan pelajaran IPA dan IPS, peserta didik menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu peserta didik menjadi sangat tertarik dan bersemangat untuk belajar tergambar dari suasana kelas yang hidup sehingga memudahkan dalam menanamkan suatu konsep pelajaran. (pr1/lis)
Guru Kelas VI SDN 01 Sumublor, Kec. Sragi, Kabupaten Pekalongan Editor : Agus AP