Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Asyik Belajar Bilangan Bulat Cara BUKoPiN

Agus AP • Minggu, 22 Agustus 2021 | 01:37 WIB
Tri Nur Rahayu, S. Pd. SD
Tri Nur Rahayu, S. Pd. SD
RADARSEMARANG.ID, Matematika seringkali menjadi momok bagi siswa karena sulit, membingungkan, ditambah guru matematika biasanya “galak” tidak suka humor. Tapi dinamika seperti itu kini mulai terkikis, guru matematika tidak lagi “galak” tapi “semanak” juga kreatif inovatif, sehingga siswanya senang dan nyaman. Sebagai guru kelas yang harus menguasai berbagai bidang mata pelajaran maka guru sekolah dasar (SD) harus menguasai seluruh mata pelajaran.

Seperti kelas 4 di SD Negeri Soronalan 1, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif negatif, siswa kesulitan memahami konsep. Maka guru menggunakan alat peraga berupa BUKoPiN yang merupakan singkatan dari “Bilangan Bulat Koin Positif Negatif” guna menanamkan konsep bilangan bulat dengan mudah dan menyenangkan.

Menurut Wijaya dan Rusyan (1994) alat peraga adalah media pendidikan berperan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa menjadi tidak bosan dalam meraih tujuan belajar. Tujuan penggunaan alat peraga di antaranya agar proses pembelajaran lebih efektif dengan meningkatkan semangat belajar siswa.

Alat peraga juga memiliki manfaat supaya belajar lebih cepat bersesuaian antara belajar di kelas dan di luar kelas. Alat peraga memungkinkan mengajar lebih sistematis dan teratur.

Berdasarkan pengertian tersebut penulis menggunakan alat peraga BUKoPiN dalam pembelajaran hitung bilangan bulat. Pertama siapkan kertas BC dengan warna berbeda. Penulis menggunakan warna merah dan biru. Kemudian gambar lingkaran dan di tengahnya diberi tanda positif untuk kertas merah dan tanda negatif untuk kertas biru. Lalu potong dan jepit dengan bambu.

Cara bermain, setiap anak memegang satu koin, bisa koin positif atau koin negatif. Lalu guru memberikan beberapa soal penjumlahan bilangan bulat positif dan negatif. Siswa mencari pasangannya, jika dia pegang koin positif harus mencari teman yang pegang koin negatif atau sebaliknya. Siswa yang tidak mendapat pasangan itulah jawaban dari soal yang diberikan, bisa berupa koin positif berarti hasil penjumlahan atau pengurangannya merupakan bilangan positif. Sebaliknya, jika yang tidak mendapatkan pasangan adalah siswa yang memegang koin negatif itu menunjukkan jawaban dari soal yang diberikan guru berupa bilangan negatif. Ternyata dengan alat peraga koin positif negatif (BUKoPiN) membuat siswa semangat, senang, dan sehingga lebih bermakna, serta konsep bisa dipahami dengan mudah.

David Paul Ausubel (25 Oktober 1918 – 9 Juli 2008) ahli psikologi pendidikan dari Amerika Serikat, mengemukakan belajar bermakna merupakan proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam strukutr kognitif seseorang.

Menurut Ausubel faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna adalah struktur kognitif yang telah ada, stabilitas, kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi, dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul pada waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu. Demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi.

Dan BUKoPiN mengaitkan pengetahuan siswa tentang bilangan bulat positif dan negatif dalam operasi hitung bilangan bulat lebih mudah dan bermakna.

Hasil belajar siswa meningkat setelah penggunaan alat peraga BUKoPiN. Sebelum menggunakan BUKoPiN nilai di atas KKM hanya 75% setelah menggunakan BUKoPiN nilai siswa 100% lulus KKM. Itu artinya pembelajaran yang terjadi bermakna bagi siswa.

Pada dasarnya siswa usia sekolah dasar pola pikir operasional konkret, sehingga penggunaan alat peraga bisa membantu siswa dalam mengonkretkan hal yang masih abstrak. Seperti bilangan bulat positif dan negatif. Melansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menurut J. Piaget, awal masa remaja terjadi transformasi kognitif yang besar menuju cara berpikir yang lebih abstrak, konseptual, dan berorientasi ke masa depan (future oriented). Maka, konsep-konsep yang abstrak bagi siswa harus lebih disederhanakan lagi sehingga siswa mudah memahami konsep yang dipelajarinya. (pm1/lis)



Guru SDN Soronalan 1, Kec. Sawangan, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP
#Belajar Bilangan #Guru SD #MATEMATIKA