Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

TREE Principles dalam Pembelajaran Penjasorkes

Agus AP • Rabu, 18 Agustus 2021 | 21:27 WIB
Deny Firianto Utomo, S.Pd, M.Or
Deny Firianto Utomo, S.Pd, M.Or
RADARSEMARANG.ID, Penjasorkes bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap anak setinggi-tingginya. Dalam perkembangannya Penjasorkes semakin mengalami proses kemajuan seiring dengan perkembangan kurikulum dan model pembelajaran yang akan sangat mempengaruhi ciri khas dari mata pelajaran ini.

Membahas mengenai TREE Priciples yang dapat diartikan prinsip TREE dimana TREE sebenarnya merupakan singkatan dari teaching style, rules and regulations, environment dan equipment. Pertama, teaching style (gaya mengajar) gaya mengajar bisa disama artikan dengan model pembelajaran, pada pembelajaran Penjasorkes ada gaya mengajar atau model pembelajaran Mosston. Pada tahapan memutuskan untuk penggunaan salah satu gaya mengajar atau model pembelajaran yang sesuai, maka guru diharapkan mampu melihat dengan jeli beberapa hal seperti : karakteristik materi, pilihan komunikasi yang hendak digunakan dan perkembangan mental karakter peserta didiknya. Meskipun demikian tidak boleh ada pertentangan gaya atau model pembelajaran mana yang terbaik untuk digunakan karena semua digunakan berdasarkan pertimbangan karakteristik antara lain karaktersitik materi, karakteristik peserta didik, karakter lingkungan dan karakter satuan pendidikan.

Kedua, rules and regulations (peraturan dan regulasi) mengenai hal ini, maka modifikasi berbagai aturan dan berbagai regulasi dari peraturan maupun regulasi standar bisa dijadikan solusi untuk memecahkan masalah yang mungkin muncul berkaitan keadaan yang tidak semestinya. Seperti contoh kasus pada saat pembelajaran PJOK berlangsung dan guru diharuskan mengajarkan teknik dasar passing bola voli kepada para peserta didik yang pada kenyataannya memiliki berbagai kemampuan dan keterampilan yang berbeda. Guru harus jeli melihat kondisi dan meminta peserta didik melakukan gerakan passing bola sederhana sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Ketiga, environment (kondisi lingkungan). Secara khusus environment memiliki arti lingkungan. Sementara dalam Penjasorkes environment tersebut dapat diartikan ke dalam banyak hal seperti : pengelolaan kelas (berpasangan, kelompok kecil, kelompok besar, individual atau dengan siswa yang sesuai dengan kemampuan), kondisi geografis seperti: luas lapangan, kondisi lapangan (tempat miring atau landai), modifikasi jumlah pemainan dan masih banyak lainnya. Berdasarkan uraian tersebut di atas akan muncul pertanyaan bagaimana bila sekolah tidak memiliki lapangan dengan ukuran standar ? Bagaimana caranya mengajarkan materi bola voli padahal lapangan yang dimiliki adalah lapangan bulu tangkis. Hal tersebut tidak akan menjadi masalah, dengan catatan peserta didik harus merasakan melakukan gerakan dasarnya. Untuk menyelesaikan tantangan ataupun tugas dengan berdasarkan beberapa perbedaan karakteristik tersebut, sehingga proses pembelajaran bisa dilakukan di mana saja.

Keempat, equipment (peralatan) equipment memiliki arti peralatan yang akan mendukung pelajaran. Pada proses pelaksanaan pembelajaran Penjasorkes berbagai alat praktik sebagai sarana pendidikan diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien. Apabila di sekolah tidak memiliki peralatan yang memadai sebagai guru sudah seharusnya mampu mengambil inisiatif bahkan ide kreatif untuk menyediakan atau memodifikasi peralatan sehingga siswa masih tetap berada dalam lingkup pemahaman yang cukup. (dd1/ton)



Guru Penjasorkes SMA Negeri 3 Salatiga Editor : Agus AP
#Guru SMA #Penjasorkes