Pendidikan yang menjadi kebutuhan pokok bagi anak-anak usia sekolah pun ikut mengalami imbas dari wabah pandemi ini. Keadaan seperti saat ini yang tidak menentu berdampak pada emosi seseorang. Keadaan yang di luar kendali kita membuat emosi kita naik turun. Jika kita tidak bisa mengendalikan emosi maka kehidupan kita menjadi tidak produktif karena tenaga dan pikiran terkuras hanya untuk memikirkan hal yang tidak pasti.
Dari keadaan yang tidak menentu ini, peserta didik diajak untuk bisa beradaptasi dengan keadaan sesulit apapun. Harapannya kelak bisa menjadi remaja yang tangguh dan bisa mengendalikan keadaan bukan kebalikannya.
Sebagai guru BK di SMK Negeri 3 Purworejo, cara mengelola emosi menjadi topik materi layanan bimbingan klasikal. Adapun langkah yang bisa dilakukan untuk mengelola emosi dengan baik sebagai berikut :
Keteguhan iman. Iman yang teguh adalah pondasi kuat dalam kehidupan. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Apapun yang akan kita lakukan jika didasari iman yang kuat pasti akan berjalan lancar dan menghasilkan hasil sesuai harapan. Peserta didik diberi penguatan akan imannya, supaya mereka lebih mendekatkan diri pada Tuhan dengan rajin beribadah.
Mulai sekarang juga. Segala sesuatu perlu dicoba. Peserta didik mempunyai energi aktif perlu diarahkan untuk mencoba membuat karya dan menawarkan hasil karyanya kepada orang lain. Sebagai contoh : ada yang gemar menjahit, lalu disalurkan untuk menjahit masker dan menawarkan kepada bapak/ibu guru untuk membelinya. Jika ada kekurangan dalam jahitan atau penampilan, langsung diadakan perbaikan. Apabila dirasa sudah bagus, produk masker bisa ditawarkan secara lebih luas dengan bantuan media sosial.
Bahan mudah didapat. Peserta didik dibimbing untuk dapat menggunakan waktu dan kesempatan dengan mengisi kegiatan membuat sebuah karya, karya dibuat sesuai dengan bakat/minat yang dimilikinya. Karya bisa terbuat dari bahan-bahan sederhana yang mudah didapat, harganya murah dan terjangkau. Dalam menyiapkan peralatan yang digunakan pun tidak kesulitan. Sebisa mungkin keuntungan yang didapat sebanding dengan bahan/peralatan yang digunakan. Misalnya mendaur ulang kain perca menjadi keset dan lain sebagainya.
Menghargai proses. Peserta didik saat ini merupakan remaja milenial yang identik dengan hal yang serba instan, tidak mau ribet, dalam menghasilkan sesuatu ingin hasilnya segera didapat. Guru BK semakin membekali peserta didik untuk menghargai sebuah proses, dengan begitu mereka akan menghargai produk yang dihasilkannya.
Relasi baru prestasi. Manusia adalah makhluk sosial. Tanpa adanya relasi yang hangat dengan orang lain, usaha apapun tidak akan berhasil dengan maksimal. Guru BK perlu menekankan pada peserta didik bahwa relasi yang baik akan menghantarkan pada sebuah prestasi/keberhasilan.
Hemat. Ajak peserta didik untuk hidup hemat, salah satunya dengan menabung. Menghindari membeli sesuatu hal yang kurang berguna dan menyisihkan uang untuk ditabung akan sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan di masa depan.
Budaya membaca. Perlu ditekankan kepada peserta didik bahwa membaca akan menambah wawasan. Guru BK mengarahkan peserta didik untuk memiliki kebiasaan membaca (baik membaca buku atau media online) yang mendukung bidang yang digeluti, agar semakin menambah cakrawala dalam mengembangkan usaha yang dibangun.
Jika peserta didik bisa mengelola emosi dan disalurkan menjadi suatu kegiatan yang positif maka kehidupan mereka akan menjadi bermakna. Apalagi jika sampai menghasilkan suatu karya dan mendapat penghasilan maka akan timbul rasa percaya diri dalam diri mereka. (pg2/ton)
Guru BK SMK Negeri 3 Purworejo. Editor : Agus AP