Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Semangat Inovasi menjadi Roh dari Program Merdeka Belajar

T
Penulis: Tasropi❯
Dra Sunarsih
Dra Sunarsih

RADARSEMARANG.ID, KEBIJAKAN Merdeka Belajar memberi kemerdekaan setiap unit pendidikan berinovasi. Konsep ini harus menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infra struktur.


Advertisement

Untuk itu harus menyiapkan strategi agar tidak keluar dari esensi pendidikan yaitu kualitas guru.

Guru tidak akan bisa digantikan dengan teknologi. Teknologi hanya merupakan alat bantu guru untuk meningkatkan potensi pembelajaran. Mendengar istilah Merdeka Belajar, penulis merasa skeptis.

Selain itu, pendidik juga perlu mengoptimalkan gawai yang telah dimiliki oleh peserta didik, guna menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif.

Advertisement

Roh kedua program Merdeka Belajar adalah budaya belajar. Dalam menyediakan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didiknya.

Pendidik dituntut untuk senantiasa belajar lebih jauh lagi, pendidik juga tidak boleh takut untuk menjelajah dan bereksperimen dengan metode-metode pembelajaran yang lain.

Untuk mewujudkan budaya belajar ini, pendidik harus terlibat dalam jejaring profesinya, baik lingkup lokal maupun global.

Advertisement

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) perlu dirancang secara matang agar dapat memfasilitasi pembelajaran peserta didik secara optimal. Banyak prinsip-prinsip desain pengajaran yang tersedia di literatur untuk melakukannya.

Di sini SMP Negeri 6 Semarang menerapkan prinsip “pengajaran sebagai interaksi” sebagai kerangka dalam mendesain PJJ. Mengapa prinsip ini? Prinsip ini mengakui bahwa pengajaran melibatkan proses yang kompleks antarpelaku pembelajaran.

Pelaku-pelaku pembelajaran tersebut saling bergantung satu sama lain. Selanjutnya, prinsip ini dapat memberikan gambaran interaksi-interaksi antarpelaku pembelajaran yang terjadi di dalam PJJ.

Prinsip ini juga memberikan peluang bagi pendekatan pembelajaran modern yang mensyaratkan adanya interaksi antar peserta didik di dalam lingkungan belajar daring, misalnya pembelajaran kolaboratif berbantuan komputer atau computer-supported collaborative learning (CSCL).

Prinsip pengajaran sebagai interaksi memiliki aksioma bahwa pengajaran adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik di seputaran konten pembelajaran.

Dengan kata lain, prinsip ini memaknai pengajaran sebagai apa yang pendidik lakukan, katakan, dan pikirkan bersama dengan peserta didik.

Jadi maksud dari Merdeka Belajar disini adalah bahwa setiap siswa, sekolah, dan daerah memiliki tingkat kompetensi fundamental, literasi, dan numerasi yang berbeda.

Sehingga, kurang masuk akal jika memaksakan suatu tingkat standar di setiap tahun pembelajaran dalam kurikulum. Tidak mungkin menyamaratakan semua siswa dalam satu tingkat standar karena latar belakang yang berbeda-beda. (bp2/ida)

 

Oleh : Dra. Sunarsih, Guru IPS SMPN 6 Semarang

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Belajar Numerasi Lewat Lingkungan Sekitar, Tri Sugiyono Kenalkan EVI Map di Kombel Tugu Muda

Belajar Numerasi Lewat Lingkungan Sekitar, Tri Sugiyono Kenalkan EVI Map di Kombel Tugu Muda

Belajar numerasi kini tak melulu soal menghafal rumus dan mengerjakan soal di dalam kelas. Kepala SDN Pekunden Kota Semarang, Tri Sugiyono punya cara jitu yang bikin anak-anak semangat belajar lewat EVI Map.

Lia Maylani Bagikan Inovasi Buku Pop-Up Kearifan Lokal untuk Tingkatkan Literasi dan Numerasi

Lia Maylani Bagikan Inovasi Buku Pop-Up Kearifan Lokal untuk Tingkatkan Literasi dan Numerasi

Upaya meningkatkan minat baca dan kemampuan numerasi siswa sekolah dasar terus dilakukan para pendidik di Kota Semarang. Salah satunya melalui inovasi pembelajaran yang dikembangkan Kepala SDN Jatisari, Lia Maylani.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer