Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membentuk Karakter Religius Peserta Didik melalui P3R

T
Penulis: Tasropi❯

 

Retno Eka Prastiwi, S.Pd.SD
Retno Eka Prastiwi, S.Pd.SD


Advertisement

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan pada dasarnya diharapkan membawa perubahan menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya.  

Pada kurikulum merdeka, pendidikan diarahkan untuk menghasilkan peserta didik yang percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi warga negara yang berdemokrasi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pada kurikulum merdeka ini penekanan utamanya berada pada pembentukan karakter peserta didik yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

Advertisement

Pendidikan karakter harus ditanamkan sedini mungkin pada peserta didik seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan maraknya pengaruh teknologi membuat generasi muda jauh dari kaidah-kaidah agama dan tatanan moral yang ada  di tengah masyarakat.

Untuk itu perlu memfokuskan pembinaan terhadap akhlak dan karakter peserta didik agar tidak tergerus dampak negatif yang ada.

Advertisement

Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri Jumoyo 4, peserta didik semakin jauh dari penerapan karakter religius.

Menurut Agus Wibowo (2012) karakter religius diartikan sebagai sikap atau perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah, dan hidup rukun dengan sesama.

Pembentukan karakter religius dapat dilakukan melalui beberapa metode, di antaranya dengan menggunakan metode keteladanan, pembiasaan, nasihat, perhatian/pengawasan, dan hukuman (Ulwah, 2013).

Penerapan yang dilakukan sekolah untuk membentuk karakter religius peserta didik melalui P3R, yaitu Program Pembiasaan Perilaku Religius.

Menurut Supendi (2015) pembiasaan merupakan suatu kegiatan untuk melakukan hal-hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan memperkuat atau menyempurnakan suatu keterampilan agar menjadi terbiasa.

Dengan kata lain pembiasaan merupakan cara mendidik anak dengan penanaman proses kebiasaan.

Program Pembiasaan Perilaku Religius (P3R) diterapkan pada peserta didik melalui kegiatan keagamaan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin dan terjadwal, baik dilaksanakan harian, mingguan, bulanan,  tahunan maupun kegiatan yang bersifat insidental.

Pembiasaan perilaku religius di SD Negeri Jumoyo 4 dilakukan dengan beberapa kegiatan yaitu :

1. Membaca Asmaul Husna setiap hari sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.

2. Selalu berdoa ketika mengawali dan mengakhiri kegiatan belajar.

3. Salat duhur berjamaah yang diikuti oleh siswa kelas III, IV, V, dan VI.

4. Kegiatan tadarus Alquran setiap hari Selasa dan Sabtu dimulai pukul 06.30.

5. Melaksanakan doa bersama jika ada warga sekolah yang sakit atau mendapat musibah.

6. Berjabat tangan dengan guru di sekolah.

7. Sedekah atau infak setiap hari Jumat.

8. Peringatan hari besar keagamaan.

9. Pengembangan budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun dalam bertutur kata.

10. Penegakan tata krama dan tata tertib sekolah.

Program Pembiasaan Religius (P3R) di sekolah sebagai langkah nyata dalam membentuk karakter peserta didik.

Pembiasaan dilakukan secara berkelanjutan, terstruktur dan terprogram yang pada akhirnya akan terbentuk sebuah kebiasaan permanen.

Dengan dilaksanakannya P3R di SD Negeri Jumoyo 4 dapat memberikan dampak positif terhadap perilaku peserta didik, yaitu membentuk karakter peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (pf/lis)

 

Oleh : Retno Eka Prastiwi, S.Pd.SD

Kepala SDN Jumoyo 4, Kec Salam, Kabupaten Magelang

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rasa Nusantara Siap Gebrak Salatiga, Paduan Suara dan Orkestra Makin Intens Berlatih

Rasa Nusantara Siap Gebrak Salatiga, Paduan Suara dan Orkestra Makin Intens Berlatih

Konser “Rasa Nusantara” tidak sekadar mengejar kemegahan pertunjukan. Konser ini membawa misi mengenalkan kembali kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda melalui musik.

Ferry Irwandi Bagikan Rahasia Storytelling yang Mampu Menggerakkan Banyak Orang

Ferry Irwandi Bagikan Rahasia Storytelling yang Mampu Menggerakkan Banyak Orang

Kemampuan bercerita atau storytelling menjadi bekal penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital. Konten kreator sekaligus aktivis Ferry Irwandi mengajak mahasiswa untuk menyampaikan pesan.

 Momentum Jaga  Harkitnas  Generasi Muda di Era Digital

Momentum Jaga Harkitnas Generasi Muda di Era Digital

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 harus menjadi momentum menjaga generasi muda di tengah derasnya gempuran informasi digital. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer