RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Semarang Tuntang Kesongo 2 Ngreco Desa Lopait Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang menerapkan standar terbaik dalam pemenuhan menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
SPPG ini diresmikan oleh Bupati Semarang Ngesti Nugraha. Hadir Wabub Semarang Nur Arifah, Wali Kota Salatiga Robby Hernawan dan Wawali Nina Agustin, serta Forkopimda.
Menurut Kepala SPPG Semarang Tuntang Kesongo 2 Farhan Zhali Funnas, standar tersebut diterapkan sejak SPPG tersebut mulai beroperasi.
Mulai dari relawan dan menu makan, semua harus memenuhi standar yang ditetapkan tersebut.
"Sehingga makanan yang disantap penerima manfaat memenuhi standar gizi pemerintah," ujarnya, Rabu (24/12/2025).
Farhan mengatakan dapur SPPG Ngreco, demikian biasa disebut, dibangun dan dikerjakan dengan profesional.
"Semua harus higienis. Sehingga petugas yang masuk wajib memastikan kebersihan tangan dan badan," ungkapnya.
Bangunan dua lantai di lahan seluas kurang lebih 800 meter persegi. Luasan mencapai dua kali standar minimal. Sehingga memiliki daya tampung yang banyak.
Penataan ruang bisa maksimal. Lantai bawah terdiri ruangan penyimpanan bahan makanan basah dan kering yang terpisah, ruang penyimpanan alat makan, dapur, pemorsian, hingga saat packing sebelum diangkut untuk distribusi.
"Sementara yang lantai atas untuk keperluan administrasi, rapat menentukan menu, ruang ahli gizi," kata Farhan.
"Piranti dapur menggunakan stainless, itu salah satu cara menjaga mutu dan kualitas makanan. Ruang pemorsian dibuat tertutup dengan suhu ruang yang diatur demi menjaga kualitas makanan," ujarnya.
Sementara, Farhan mengungkapkan proses pencucian ompreng juga steril karena menggunakan air panas mendidih.
"Dapur ini juga memiliki mesin pengering ompreng bersuhu hingga 1.000 derajat. Setelah dicuci, ompreng langsung dimasukkan ke pengering agar bakteri-bakteri yang menempel pasti mati dan steril,” kata dia.
Guna menghindari hal tak diinginkan, ada prosedur pengawasan khusus.
“Di ruang pemorsian itu ada satu kotak etalase untuk menyimpan sampel-sampel makanan. Kita ambil satu sampel untuk dimasukkan ke dalam etalase tersebut, kita kunci dan itu dilakukan setiap jam. Jadi misal ada kejadian yang tidak diinginkan, bisa melakukan uji lab dengan sampel tersebut,” ungkap Farhan.
Sementara Devinta Fitriani Rudin, Ahli Gizi SPPG Ngreco mengatakan, selain menu-menu paten yang telah ditetapkan, juru masak dan tim selalu berinovasi menciptakan menu baru.
"Jadi tidak hanya menu yang itu-itu saja yang disajikan, ada menu basis masakan Indonesia, western, atau yang lain. Tapi tetap menu baru tersebut memenuhi ketentuan kandungan gizi, mulai dari protein, karbohidrat, serat, dan vitamin," ungkapnya.(sas)
Editor : Baskoro Septiadi