RADARSEMARANG.ID - Jika sering melewati jalan Soekarno-Hatta arah Solo-Semarang, pasti pembaca tidak asing dengan turunan Lemah Abang atau biasa disebut warga sekitar menjadi Mahbang.
Di sisi jalan sebelum lajur kiri menuju arah Bandungan, sedangkan jika lurus akan menuju jalur Kota Ungaran.
Terdapat sebuah monumen tugu perjuangan yang memiliki kisah penting terkait perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan.
Dinamakan sebagai Monumen Lemah Abang, monumen di Bergas, Kabupaten Semarang ini menyimpan sebuah kisah patriotik dari Pertempuran Ambarawa yang menyebar hingga Ungaran.
Sejarah Monumen Lemah Abang
Monumen ini merupakan tugu peringatan tentang sebuah peristiwa perjuangan yang dilakukan pasukan TKR dalam mempertahankan setiap jengkal tanah milik republik.
Mayor Soeyoto bersama pasukannya melakukan aksi pencegatan terhadap bala bantuan pasukan Sekutu-Belanda- Jepang yang akan menuju Ambarawa dari arah Semarang.
Peristiwa dimulai dari perintah Letkol Bambang Soegeng di Temanggung yang memerintahkan Mayor Soeyoto untuk maju dalam front Perang Ambarawa dari jalur Bandungan.
Di tanggal 28 November 1945, Mayor Soeyoto bersama pasukan menjumpai sebuah tank pasukan sekutu yang telah dilumpuhkan oleh Pasukan Soewito Haryoko dari Magelang di Simpang Tiga Dukuh Sikunir (Lemah Abang).
Kedua pasukan ini kemudian bertemu di Karangjati, dan berunding untuk melakukan pembagian tugas dalam menghalau pasukan sekutu yang akan melakukan konvoi.
Akhirnya diputuskanlah bahwa Pasukan Soeyoto akan mengadakan pencegatan di Ungaran, sedangkan Pasukan Soewito Haryoko akan bertahan di Karangjati, Pasukan Soeyoto akhirnya bermalam di Makam Gebugan dan sebagian lainnya di Pasar Babadan.
Saat dilakukan pengintaian di wilayah Ungaran, Letda Soedarsin yang diperintahkan oleh Mayor Soeyoto tidak menemukan tanda-tanda keberadaan musuh, lalu kemudian bersama regu Letda Sri Suwarno mereka melintangkan sebuah barikade berupa pedati yang diletakkan di tengah jalan.
Pagi harinya, dari arah Semarang datang konvoi pasukan sekutu yang dikawal dari arah udara oleh sebuah pesawat udara Mustang (cocor merah).
Baca Juga: Sejarah Gereja Girisonta yang Menjadi Saksi Bisu Masa Suram Penjajahan Jepang
Regu Letda Sri Suwarno terlibat dengan pertempuran dengan sekompi pasukan Gurkha dan Jepang yang berada di barisan depan, Sayangnya Letda Sri Suwarno gugur dalam pertempuran berdarah ini.
Sedangkan pasukan Mayor Soeyoto yang mengambil alih jalan pertempuran di Tandon Air Kalidoh dan balik menyerang bahkan dari jarak dekat sehingga harus menggunakan katana, sebuah pedang khas dari Jepang.
Semakin terjepit oleh tank-tank dan bombardir pesawat, Mayor Soeyoto pun akhirnya gugur tertembak didada ditambah dengan luka tebasan katana di wajahnya.
Mengetahui komandannya tewas, pasukan Mayor Soeyoto langsung kalap dan menyerang dengan membabi-buta. Sehingga menyebabkan kematian dengan jumlah besar dari kedua belah pihak.
Pada akhirnya, pasukan Mayor Soeyoto mengundurkan diri pada jam 14.00 dengan korban meninggal dunia sebanyak 21 orang, termasuk sang komandannya.
Tugas yang diembankan kepada Mayor Soeyoto berhasil diselesaikan dengan baik meskipun harus menyebabkan kematian bagi dirinya sendiri.
Namun, impian tentang negara yang merdeka serta kebebasan yang telah menggebu-gebu membuat mereka tak segan berkorban nyawa demi Negara Republik Indonesia.
Mayor Soeyoto berhasil menghambat bala bantuan sekutu yang datang dari Semarang menuju ke Front Pertempuran Ambarawa, sehingga Perang Ambarawa berhasil dimenangkan oleh pihak Republik.
Source: Monumen Perjuangan Jawa Tengah
Editor : Baskoro Septiadi