Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Masjid Kauman Gogodalem Masih Pertahankan Peninggalan Sejarah, Mulai dari Bangunan Asli hingga Alquran Blawong

Nurfa'ik Nabhan • Minggu, 24 Maret 2024 | 20:34 WIB
Bangunan lama masjid yang masih dipertahankan yang terbuat dari kayu jati
Bangunan lama masjid yang masih dipertahankan yang terbuat dari kayu jati

RADARSEMARANG.ID, Bringin - Di Kabupaten Semarang banyak terdapat masjid-masjid tua yang berusia ratusan hingga ribuan tahun serta terdapat sejarah panjang di dalamnya.

Salah satunya yang berada di Dusun Kauman, Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin.

Sekilas tampilan dari luar masjid yang satu ini terlihat seperti masjid modern pada umumnya dan memiliki serambi.

Namun saat masuk kedalam bangunan masjid maka akan menemukan keaslian bangunan masjid yang masih dipertahankan.

Bangunan asli yang berbentuk joglo dengan empat soko guru yang menopangnya masih terlihat segar dan gagah.

Kemudian didalam masjid terdapat tangga menuju puncak mustaka yang dahulunya digunakan untuk mengumandangkan adzan sebelum terdapat speaker. 

Menurut pengakuan dari Kadus Kauman, Nasirudin, Masjid Attaqwa atau Masjid Kauman Gogodalem ini masih tidak lepas dari sosok Raden Bagus Mertowongso dan Dewi Suni yang merupakan anak dari Simbah Marto Ngasono yang merupakan salah satu aulia dan penyebar agama Islam.

Kedua anak dari Simbah Marto Ngasono ini kemudian memindahkan masjid yang dibangun oleh ayahnya tersebut ke Desa Gogodalem yang sebelumnya bernama Desa Selomiring. 

"Dewi Suni yang dibantu oleh warga sekitar kemudian membawa perkakas dan perabot masjid ke Desa Selomiring termasuk kayunya. Hingga akhirnya berdiri masjid ini," ungkapnya saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Semarang. 

Simbah Marto Ngasono sendiri merupakan satu dari tiga aulia di desa tersebut. Dua lainnya yakni Wali Raden TMG Nitinegoro yang makamnya juga berada di dukuh tersebut, dan Kiai Jamaluddin yang mewariskan Alquran yang ditulis tangan dan oleh warga setempat dikenal sebagai Alquran Blawong.

Sejarah panjang berdirinya masjid yang satu ini hingga penamaan Desa Selomiring hingga berganti menjadi Desa Gogodalem masih diingat oleh warga sekitar.

Meskipun tidak banyak literasi dan dokumentasi yang menjelaskan tentang sejarah tersebut.

Bentuk bangunan masjid Attaqwa yang lama juga masih dipertahankan hingga sekarang. Mulai dari tiang penyangga berikut pemancangnya, kemudian bekas dinding masjid yang kini dipindah ke atas sebagai penyambung antara dinding tembok dengan atap.

"Kemudian ada beberapa peninggalan seperti bedug, piring, hingga Alquran Blawong yang ditulis langsung oleh Kiai Jamaluddin yang masih kita simpan," katanya.

Menurut penelitian-penelitian yang sudah dilakukan kertas yang digunakan untuk menulis Alquran Blawong itu diperkirakan kertas pada masa pemerintahan VOC.

Serta hingga saat ini Alquran Blawong sudah menjadi salah satu benda cagar budaya.

"Kalau sampulnya aslinya sudah disamak atau sampul baru agar bisa terjaga keawetannya. Kondisinya juga sudah agak sobek-sobek," jelasnya.

Alquran Blawong tersebut dikeluarkan dan dibaca pada momen-momen tertentu. Diantaranya kalau dulu dikeluarkan setiap tanggal 20 Syaban, kemudian saat ini dibaca setiap selapan atau 35 hari sekali.

"Dan itu rutin dilakukan setiap Senin Wage masyarakat disini membaca Alquran Blawong satu juz dilanjutkan Khotmil Quran 30 juz," tandasnya.

Banyak hal yang menarik yang bisa dilihat baik dari barang peninggalan ataupun sejarah panjang Masjid Attaqwa.

Seperti keberadaan bedug, dimana dikatakan dahulunya berasal dari satu batang kayu utuh.

Yang mana bagian pangkal atau bongkot berada Pringapus, bagian tengah di masjid ini, dan bagian ujung berada di Demak.

"Bangunan masjid ini pertama kali direhab atau direnovasi sekitar tahun 1987. Dan kita memang masih mempertahankan soko empat penyangga dana blandar-blandarnya masih asli," terangnya. 

Proses renovasi pertama kali mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui Yayasan Amal Bakti Pancasila. Kemudian dilanjutkan dengan bantuan dan swa daya dari masyarakat sekitar. (nun/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Bringin #Gogodalem #Masjid #peninggalan #CAGAR BUDAYA #al quran