alexametrics

Soto Ayam Rombongan Pak Mul Semarang, Cita Rasa Nagih, Rebus Kuah dengan Kayu Bakar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bagi pecinta kuliner berkuah, harus mencoba Soto ayam Rombongan Pak Mul Semarang. Cita rasa yang ditawarkan benar-benar nagih. Kuah soto direbus dengan kayu bakar. Di warung ini menawarkan suasana keakraban antara pemilik dan penjual.

Aroma khas rebusan kuah ayam tercium ketika memasuki kedai di Jalan Anjasmoro No 3, Karangayu, Semarang Barat. Di depan kedai terlihat wadah besar yang dipanasi dengan kayu bakar.

Tak lama kemudian, terdengar suara cukup lantang. “Rombongan-rombongan” Semua pengunjung bisa mendengarnya. Meski hanya satu orang, tetap ada teriakan Rombongan-rombongan.

Itulah suasana setiap hari di Soto Ayam Rombongan Pak Mul Semarang. Warung soto spesial yang masih bertahan dengan kayu bakar. Sementara dalam teriakan rombongan-rombongan ada doa dari pemilik warung. Agar pengunjung datang dalam jumlah besar atau rombongan.

Baca juga:  Bumbu Rahasia Jadi Pembeda Rasa Sop Senerek

“Itu sebagai ciri khas. Begitu saya teriak begitu tidak lama kemudian benar-benar datang rombongan,” aku Pemilik Soto Ayam Rombongan Pak Mul Semarang Asiyah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Soto ayam pak Mul yang mempertahankan kayu bakar untuk merebus kuah soto. (ADDIN ALFATH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Soto ayam disni berbeda dengan soto pada umumnya. Tetap mempertahankan rebusan kuah dengan kayu bakar. Aromanya lebih enak. Sudah terasa sejak pembeli masuk warung. Rasa rempah lebih terasa karena bumbunya lebih banyak dan berani. Rebusan kuahnya pakai tulang dari ayamnya.  Kalau pakai kuah biasa tidak enak. Biasanya, satu kali rebusan jadi 2 dandang. “Bukan air biasa kasih bumbu, tapi kaldu ayam,” ujarnya.

Asiyah mengaku bahan ayam yang digunakan tidak sembarangan. Harus ayam kampung, ayam jago. Masuk kuahnya sama cakar-cakar. Ada ayamnya, ada setanya. Tidak ada resep rahasia. Semuanya terbuka. Ia sudah berjualan sejak 1992. Sebelumnya ikut pak Mul tahun 1984. Tahun 1977 masih jualan mikul. Baru pindah tempat sekali. Dari jalan Abdulrahman Saleh Manyaran ke Jalan Anjasmoro. “Anak-anak didikan saya, bisa jualan semuanya. Sudah ada di Manyaran. Sudah ada yang jualan sendiri. Di Magelang, Kebumen, dan Demak,” tambahnya.

Baca juga:  Kuliner Berbasis Oat, Dijalankan di Sela Kuliah Daring

Cita rasa yang khas membuat pelanggan berdatangan silih berganti. Pelanggan juga dari berbagai kalangan. Bahkan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pernah menikmati soto miliknya. “Alhamdulillah banyak pelanggan ketagihan dan terus datang. Katanya cita rasa yang enak dan bikin nagih,” tambahnya.

Selama pandemi, diakui membuat penjualan berkurang. Sebelum pandemi satu hari bisa menghabiskan 25 kg beras. Sedangkan, saat dalam pandemi hanya 7 kg.  Bahkan, untuk ayamnya paling 3 kg yang buat suwir. Buat sate 3 kg. Sebelum covid ayamnya bisa sampai 10 kg. Aromanya berani di bumbu. “Yang penting jualannya tetap berjalan. Bisa cukup kebutuhan,” akunya.

Ia berharap semoga pandemi bisa rampung dan bisa seperti dulu lagi. Ramai senang. Berjualan tenang, tidak ada masalah. Kalau kita kerja tenang, tidak ada masalah, pelanggan juga enak. Tidak ada yang takut. “Sekarang, batuk saja sudah membuat orang takut. Semoga kedepan bisa lebih baik lagi dan seperti dulu,” tambahnya. (cr1/fth)

Baca juga:  Tak Hanya di Sragen, Magelang juga Ada Mie Ayam Seporsi Rp 2.000

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya