alexametrics

Menikmati Bubur Setan, Kuliner Hemat di Blondo Kabupaten Magelang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di pertigaan lampu merah Blondo, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang terdapat warung bubur yang konon sempat jadi jujukan para pemandu karaoke. Namanya Warung Makan Bubur Mbak Srie. Sempat dikenal dengan nama Bubur Setan.

Warung ini berdiri sejak 10 tahun lalu. Atapnya terbuat dari terpal. Dindingnya dibangun dari bambu. Dilengkapi dengan tiga meja makan dan kursi plastik berwarna biru. Warung ini buka pukul 15.00 hingga 22.00 WIB.

Srie Rejeki, pemilik warung, menceritakan, awalnya kuliner ini dinamai Bubur Setan oleh pelanggan. Seperti sopir angkutan dan kuli bangunan. Sebab banyak pekerja pemandu lagu yang sering makan di tempat ini. “Tapi sekarang namanya sudah diganti, takut nanti diartikan negatif,” ucap perempuan yang sering disapa Mbak Srie ini.

Baca juga:  Makin Nikmat Dimakan sambil Nglemprak
Warung Makan Bubur Mbak Srie. (AULIA RIFA URBAH/JAWA POS RADAR Semarang)

Menu bubur sayur menjadi favorit di warung pinggir jalan ini. Konon yang membedakan dengan warung lainnya ialah teksturnya. Halus dan kental. Rasa gurih yang otentik membuat bubur ini cocok dipadukan dengan masakan sayur ala rumahan. “Sekarang sudah banyak penjual serupa di Magelang. Tapi bukan menjadi masalah karena mencari rezeki itu bareng-bareng,” jelas Srie.

Kuliner ini sangat cocok dikunjungi bagi yang ingin berkuliner hemat. Sebab, bubur dengan sayur hanya dihargai Rp 4.000, bubur dengan lauk dihargai Rp 7.000. Sedangkan jika memilih menu krecek atau gorengan bisa menambah Rp 1.000.

“Pengunjung pada hari kerja biasanya ramai datang setelah Isya, saat pulang bekerja. Kalau hari minggu biasanya sore setelah berolahraga,” jelas Maryati sambil mengangkat gorengan.

Baca juga:  Warung Legendaris Omah Mie Batang, 51 Tahun Bertahan, jadi Langganan Pejabat

Akan tetapi, sejak pandemi Covid-19, penjualannya berkurang. Mulanya bisa 10 kg bubur, sekarang berkurang menjadi 3 kg bubur per hari. “Pernah suatu hari saat masa PPKM, 3 kg bubur tidak habis,” tutur Srie.

Maryati, adik Mbak Srie menambahkan, awal PPKM warungnya sempat libur sampai 2 bulan. Sehingga mengharuskan pedagang untuk melakukan penutupan warung. “Bukanya setiap hari, kecuali tanggal merah dan hari raya,” kata Maryati.

Warung yang dikelola tiga orang ini berharap pandemi cepat berlalu. “Kalau pandemi reda, semoga semakin banyak masyarakat mencoba bubur Mbak Srie ini dengan aman dan tidak khawatir,” kata Maryati. (mg2/mg3/rhy/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya