alexametrics

Sate Kambing Pak Edong, Suguhkan Daging Kambing Muda, Pedasnya Nagih di Lidah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bagi pecinta kuliner sate, kurang lengkap jika belum mengunjungi Sate Kambing Pak Edong Sido Makmur. Daging kambing muda dipadukan dengan olahan bumbu rempah yang melimpah membuat rasanya bikin nagih di lidah.

Sate kambing hanya menggunakan kambing Balibul atau daging kambing mudah dibawah lima bulan.  Tekstur kenyal daging semakin makin enak karena disajikan dengan saus kecap manis. Ditambah dengan rempah yang melimpah, menjadikan sate ini banyak incaran pecinta kuliner. Satu gigitan langsung terasa gurih, pedas, dan terasa nikmat di lidah.

Sate Kambing Pak Edong berada di Jalan Atmodirono, Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan. Persisnya dekat perempatan Bangkong, arah masuk menuju SMK Negeri 3 Semarang. Tempatnya cukup sederhana hanya warung tenda. Tetapi tidak pernah sepi dari pembeli. Mulai pejabat, politisi, masyarakat umum sudah pernah merasakannya.

Baca juga:  Balungan Dinosaurus, Manjakan Lidah dengan Olahan Sapi

Selain sate, juga menyajikan tongseng, bistik, balungan sumsum dan gule.  Setiap hari biasanya bisa menghabiskan sampai 15 kilogram daging kambing, untuk semua menu. “Kambingnya pilihan, yang masih lima bulan. Jadi tekstur dagingnya lebih empuk,” kata pemilik sate Kambing Pak Edong, yang bernama Winardi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Untuk menikmati seporsi sate cukup merogoh kocek Rp 55 ribu. Tongseng Rp 55 ribu, bistik Rp 55 ribu, gule Rp 30 ribu. Selain sate, menu favorit yang banyak dicari pecinta kuliner adalah tongseng. “Banyak peminatnya juga,” ujarnya.

Winardi mengaku sudah membuka usaha di tempat tersebut delapan tahun silam. Sebelumnya, buka di Jalan Ki Mangunsarkoro. Ia tetap melanjutkan usaha warisan orang tuanya yang sebelumnya jualan keliling di Solo. Sate kambing dan gule dengan cita rasa yang khas. “Olahan bumbu diracik isteri, jadi sangat istimewa rasanya,” akunya.

Baca juga:  Bubur Ayam Pak Sugiyo, Langganan Pejabat dan Chef Juna

Sedangkan ia bersama dengan sejumlah karyawan hanya memasak dari pesanan pelanggan. Untuk menghasilkan cita rasa yang spesial, api yang digunakan semua dari arang kayu.

“Setiap hari bisa sampai ratusan porsi. Alhamdulillah setiap hari habis,” tambahnya. Sejak 2001 warung sate ini sudah berdiri sampai sekarang dan terus diminati. Belum belum membuka cabang. (mha/fth)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya