alexametrics

Sudah Ada Sejak 1990, Begini Asal Usul Nasi Gandul Pak Memet Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pecinta kuliner tidak boleh melewatkan mencicipi nasi gandul. Hidangan sederhana berisi daging, kuah manis dengan bumbu ringan. Sangat nikmat dan menggoda. Begitu dimakan akan merasakan sensasi rawon, pindang, dan gulai bercampur menjadi satu.

Nasi Gandul merupakan makanan khas Pati. Tapi sekarang bisa dinikmati di sejumlah daerah, termasuk di Kota Semarang. Salah satunya Warung Nasi Gandul Pak Memet di Jalan Dr. Cipto No.12 Semarang. Cita rasanya yang enak, menjadikan warung ini sebagai juara nasi gandul di Semarang.

Nasi gandul merupakan masakan berkuah berwarna kecoklatan. Dihidangkan sangat sederhana. Berisi nasi, irisan daging dan kuah dengan bumbu ringan. Sekilas mirip dengan gulai.  Ciri khas lain dari nasi gandul adalah disajikan dengan alas piring dari daun pisang.

Baca juga:  Warung Seafood Hezleem, Sajikan Cita Rasa Nano-Nano

Warung Nasi Gandul Pak Memet sudah cukup melegenda dan banyak diminati pecinta kuliner. Biasanya dilengkapi dengan berbagai varian lauk. Daging suwir, jeroan, babat, iso, ati, paru, lidah, tahu bacem, perkedel, hingga beberapa macam gorengan.

“Kalau nasi gandul ya daging dengan kuah. Tetapi dilengkapi lauk yang bervariasi tinggal pembeli memilih sesuai selera,” aku pemilik warung Nasi Gandul, Pak Memet Jawa Pos Radar Semarang.

Nasi Gandul yang memadukan daging dengan kuah membuat makanan ini banyak dicari pecinta kuliner. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sebenarnya nasi gandul dijual dengan dipikul. Nama ‘gandul’ berasal dari omongan para penjual yang menjajakan dengan cara dipukul. Dalam bahasa Jawa, pikul memiliki arti gandul. Jadi disebut nasi gandul. Ada juga yang menganggap nasi gandul berasal dari dunak (wadah nasi dan kuah) yang dipikul penjual.

Baca juga:  Jadi Jujugan Pemudik, Loenpia Mbak Liem Sehari Bisa Jual 5.000 Pcs Lumpia

Saat berjalan kedua wadah terlihat gondal-gandul. Penyajian dengan daun pisang memiliki fungsi tertentu. Yaitu agar kuah tidak terlalu panas, dan tidak cepat dingin. “Saya jualan nasi gandul di sini sejak tahun 1990,” ujarnya.

Pak Mamet menjaga cita rasa makanan khas Pati tersebut. Untuk bahan dan kecap yang digunakan didatangkan dari Pati. Warung ini selalu ramai pembeli. Biasanya buka jam 16.30 wib sudah habis pukul 21.00. Untuk satu porsi nasi hanya dipatok harga Rp 7 ribu. Seporsi kuah untuk dua orang Rp 7 ribu. Sementara untuk lauk Rp 11 ribu, kecuali telur Rp 5 ribu. “Ya cita rasa nomor satu, agar biar ada rasa khas di lidah. Ini kan makanan dari Pati, tanpa meninggalkan cita rasa tetapi bisa dinikmati semua kalangan,” tambahnya.

Baca juga:  Tercipta Tanpa Sengaja, Begini Asal Usul Soto Gudangan Ungaran

Seorang pecinta kuliner Semarang Yuli mengaku sering menikmati makanan khas Pati itu. Daging yang lembut dipadu dengan kuah yang cenderung manis membuatnya ketagihan. Ketika menikmati ia selalu melengkapi dengan tempe dan jeroan. “Cira rasa bikin nagih, kalau sudah coba pasti akan kembali lagi,” akunya.

Saking nikmatnya, semua pelanggan selalu menghabiskan pesanan dan tidak jarang nambah. “Biasanya setiap satu minggu sekali kesini bareng keluarga,” tambahnya. (dev/fth)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya