alexametrics

Bubur Blendrang Muntilan, Sensasi Pedas dan Gurih di Suapan Pertama

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kuliner khas Desa Gunungpring, Kabupaten Magelang, tak hanya jemunak saja. Menu yang tersedia kala Ramadan. Tapi desa yang berada di wilayah Kecamatan Muntilan ini, juga memiliki kuliner khas lain. Namanya bubur blendrang. Terbuat dari tepung terigu dengan campuran tulang. Baik tulang ayam maupun kambing.

Salah satu rekomendasi Jawa Pos Radar Semarang yang patut dicoba adalah Bubur Blendrang Mbak Sri. Warungnya terletak di tengah perkampungan. Tepatnya di Dusun Bintaro. Sriningsih, pemilik warung, mengaku sudah 21 tahun berjualan kuliner ini.

Sriningsih menuturkan, bubur blendrang sudah menjadi kuliner turun-temurun di Desa Gunungpring. Hanya saja, semasa dia kecil Sriningsih, bubur blendrang tidak menggunakan campuran tulang. Melainkan menggunakan tahu dan tempe. “Mungkin karena dulu ketersediaan balung (tulang) belum melimpah,” ucapnya.

Baca juga:  Nasi Uwet Haji Zarkasi Pekalongan, Daging Kambing dan Jeroan Diikat, Rasanya Tidak Ruwet

Sriningsih mengolah bubur blendrang ayam dan kambing. Sehari, dia bisa menghabiskan paling tidak 3 kg tulang kambing. Bubur blendrang ayam, malah lebih banyak lagi. Bisa habis 7 hingga 8 kg.

Sriningsih berjualan bubur blendrang mulai pukul 10.00. Namun, ketika Jawa Pos Radar Semarang berkunjung pada Jumat (6/8/2021) sekitar pukul 11.45, bubur blendrang kambing sudah habis. “Kalau yang kambing, baru satu jam bisa habis,” ujarnya.

Tak punya pilihan lain, wartawan koran ini lantas memesan satu porsi bubur blendrang ayam.

Bubur blendrang ayam khas Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan. (RIRI RAHAYU/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sekilas, bubur blendrang tampak seperti cream soup. Namun, warnanya lebih pekat. Lengkap dengan tulang-tulang yang menyembul. Meski tampilannya agak pucat dan kurang menarik, namun jangan ditanya rasanya. Jos Gandos. Pada suapan pertama, menurut wartawan koran ini, sensasi pedas dan gurih begitu mendominasi.

Baca juga:  101 Madrasah di Kabupaten Magelang Siap Gelar PTM

Sriningsih pun mengakui cita pedas bubur blendrang karena komposisi bumbunya. Seperti jahe, kencur, dan cabai rawit. Bahkan ketika cabai rawit mahal, Sriningsih tetap tidak mengurangi jumlahnya. “Kalau nggak pedas, kurang enak,” tuturnya.

Soal harga, bubur blendrang dibanderol cukup murah. Dengan Rp 5.000, pembeli bisa mendapatkan satu porsi bubur blendrang kambing. Sementara bubur blendrang ayam Rp 3.000.

Dua dekade berjualan bubur blendrang, Sriningsih mengaku memiliki banyak pelanggan dari luar Desa Gunungpring. Malah, katanya, dia sering menjadi langganan mahasiswa Jogjakarta. Seperti mahasiswa kampus UPN, UNY, hingga UMY.“Banyak yang pernah ke sini. Malah sambil bikin video-video gitu,” bebernya. (rhy/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya