alexametrics

Rasa Otentik Bebek Ungkep Mak Kis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berdiri sejak 2005, Bebek Ungkep Mak Kis di Desa Juwiring, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal ini memiliki cita rasa yang khas. Ini diperoleh dari proses pemasakan yang masih dilakukan secara tradisional. Kini warung dikelola oleh anak perempuan Kiswati, Kumiyati beserta menantunya Khoeron.

Eron, sapaan akrab Khoeron, menceritakan, bebek dimasak dalam kuali menggunakan tungku tradisional dengan kayu bakar dari kayu jati khusus.

Bumbu yang digunakan biasa, seperti pada umumnya orang memasak. Ada cabai, jahe, bawang merah, bawang putih, dan bumbu dapur lainnya yang dicampur jadi satu dengan cara diulek atau ditumbuk. Seluruh proses memasak bebek ungkep ini dilakukan secara tradisional menggunakan tangan.

Riyen nate njabutke wulu nganggo mesin, tapi tirose niku rasane bedo (dulu pernah mencabut bulu pakai mesin, tapi rasanya berbeda, red),” ungkap Eron kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Warung yang buka setiap hari ini khusus menyediakan menu bebek ungkep. Ada menu lain, namun hanya dijadikan lauk pendamping saja. Misalnya gorengan bakwan, tempe, tahu, dan embek-embek tahu tempe. Itu pun hanya tersedia di sore hari.

Baca juga:  Bumbunya Sederhana, Sate Uyah Bawang Bikin Lidah Bergoyang

Cita rasa yang dihasilkan dari bebek ungkep Mak Kis ini, mengundang minat pejabat daerah Kendal yang ingin mencicipinya. Mulai dari pejabat kepolisian, dinas, kecamatan, hingga bupati Kendal pernah mencicipi bebek ungkep ini. “Pak Dico, sak derenge dilantik, ngebel jam 11 siang kangge makan siang teng Hotel Sae Inn (Bupati Kendal Dico M Ganinduto sebelum dilantik menelepon, minta disediakan jam 11 siang untuk makan siang di Hotel Sae Inn, red),” jelas Eron.

Untuk menambah kesan otentik, warung bebek ungkep Mak Kis berbentuk rumah Joglo Jawa lengkap dengan meja dan kursi besarnya. Eron menyetujui pendapat mantan Bupati Kendal Mirna Anissa untuk tetap menjaga kesederhanaan bentuk warung supaya tetap bisa dinikmati berbagai golongan masyarakat.

Baca juga:  Pelaku Teror Lempar Batu Tak Meninggalkan Jejak

Harga menu yang ditawarkan pun cukup murah, kisaran Rp 10-15 ribu. Tergantung potongan bebek bagian mana yang dimakan. Sistem pengambilan makannya pun dilakukan sendiri-sendiri oleh pelanggan atau biasa disebut prasmanan.

Bebek ungkep Mak Kis ini hanya dijual di warungnya. Jadi apabila Anda ingin mencicipi langsung bebek ungkep ini harus datang sendiri ke lokasi. Hal ini dilakukan karena proses pemasakan yang rumit, sehingga tidak memungkinkan untuk membuka cabang.

Setiap harinya, bebek ungkep Mak Kis bisa menyembelih 20-25 ekor bebek. Omset yang didapat pun berkisar antara Rp 2,5 – 3 juta per hari. Bila waktu Lebaran tiba, bebek ungkep Mak Kis bisa memasak 150 ekor. Warung yang buka dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 01.00 dini hari ini sering dikunjungi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan jauh untuk kegiatan wisata ataupun pulang kampung. Seperti pelanggan dari Bandung dan Yogya.

Baca juga:  Tak Berizin, Dua Jembatan Timbang Disegel

Eron menjelaskan, orang yang pernah datang menikmati bebek ungkep di warungnya biasanya akan datang lagi dan mengajak temannya. Kemudian temannya datang lagi mengajak temannya yang lain.

Hal ini pernah dilakukan oleh salah satu pelanggan bernama Indah. Indah menjadi langganan bebek ungkep Mak Kis sejak 2009 saat Kiswati yang masih memasaknya. Ia mengajak temannya Evi setahun yang lalu untuk menikmati kuliner ini. “Bebeknya enak, nggak bau, cita rasanya pedas. Jadi banyak yang suka,” ungkap Evi. (mg6/ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya