alexametrics

Makin Nikmat Dimakan sambil Nglemprak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hampir sama dengan lontong opor kebanyakan, lontong lemprak khas Kabupaten Batang punya cerita tersendiri. Sejak puluhan tahun lalu, namanya terkenal dengan embel-embel lemprak. Lontong dijajakan keliling kampung dengan cara dipikul. Pembelinya makan dengan lesehan.

Cara makan nglemprak atau duduk lesehan di tikar yang digelar di tanah menjadi ciri khas. Hingga akhirnya terkenal dengan nama lontong lemprak. Pedagang lontong lemprak banyak yang berjualan di Alun-alun Batang. Walaupun sudah tidak keliling kampung, ciri khasnya tidak ditinggalkan. Nglemprak saat makan.

Kesan tradisional tetap dijaga. Keranjang pikul menjadi penanda jualannya. Terbuat dari anyaman dan bilah-bilah bambu. Sementara di atasnya dijajakan lontong, potongan daging ayam, dan kuah opornya.

Baca juga:  Bisnis Taksi Hidup Segan Mati Tak Mau, Sebagian Pilih Jual Armada, Kembangkan Bisnis Kargo

Salah satu warung lontong lemprak yang terkenal di Alun-Alun Batang adalah mbak Moer. Ia berjualan sejak 1997. Lokasinya berada di pojok timur utara Alun-Alun. Tepat di tikungan jalan Pantura menuju Alun-Alun.

Lontong Lemprak (Riyan Fadly/Jawa Pos radar Semarang)

Jawa Pos Radar Semarang tidak bertemu pemilik warungnya, yaitu mbak Moer. Saat itu yang berjualan Anti, 35. Ia menjelaskan warung tersebut sudah turun-temurun. Saat ini sudah generasi ketiga. “Dari zaman buyut saya sudah dinamakan lontong lemprak. Lemprak itu duduk di bawah, lesehan. Kalau dulu masaknya menggunakan kayu bakar, sekarang susah mendapatkan bahan baku tersebut,” ujarnya.

Lontong yang dijajakan buatan sendiri. Masih mempertahankan daun pisang sebagai pembungkus. Proses memasak dimulai pukul 06.00 hingga 13.00. Sementara warungnya buka pukul 16.00 hingga 22.00.

Baca juga:  Resmi! PSIS Rekrut Eks Gelandang PSM Makassar, Delvin Rumbino

Satu porsi terdiri dari potongan lontong, opor ayam kampung, tahu, dan telur. Harganya Rp 22 ribu. Lontongnya terasa lembut dan pulen, berpadu dengan kuah opor yang masih hangat. Semakin nikmat disantap saat musim penghujan seperti sekarang.

Rasa gurih dari kaldu ayam terasa mendominasi. Santan kelapa juga membuatnya semakin sedap. “Ayamnya dari ayam jago kampung, bisa milih daging yang sudah disuwir atau potongan utuh. Daging ayam kampung juga merupakan favorit para pengunjung, jika memakai ayam broiler citarasanya akan beda,” tambahnya.

Sebelum pandemi, tiap hari warung mbak Moer bisa menghabiskan 550 bungkus lontong dan 11 ekor ayam. Namun, karena pandemi berkurang drastis. Menjadi 200 bungkus lontong dan 7 sampai 8 ekor ayam saja. (yan/ton)

Baca juga:  Penampakan Tentara Jepang Tanpa Kepala di Barak Militer Bantir

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya