alexametrics

Karena Stok Terbatas, Jika Ingin Menikmati Sate Kalkun Harus Pre Order

Artikel Lain

Sate jadi andalan warung makan Kalkun D’Bara Pak Har. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID – Anda pernah makan olahan kalkun? Jika belum, patut mampir ke Warung D’Bara Spesialis Kalkun Pak Har. Lokasinya di Jalan Karangrejo Raya No 64, Srondol Wetan, Banyumanik, Kota Semarang. Salah satu menu andalannya adalah sate kalkun.

Empuknya daging kalkun berbaur dengan sambal kecap menambah sate ini makin mantap. Meski mirip dengan daging ayam kampung dan bebek, cita rasa daging kalkun tetap beda bagi para pecintanya.

Bagi Hari Sarwono, 42, pemilik warung makan ini, kalkun memiliki rasa yang unik. Apalagi jika sudah dibumbui dengan rempah-rempah khas. “Daging kalkun nggak amis, serat dagingnya lebih halus dari ayam,” ujarnya.

Baca juga:  Kuliner Ekstrem Olahan Daging Kobra di Semarang, Berani Coba?

Khusus sate, daging kalkun harus diambil dari bagian dada. Satu porsi sate kalkun dibandrol Rp 35.000, berisi sepuluh tusuk. Saking banyaknya peminat, sampai-sampai menggunakan sistem pre order (PO). “Untuk sate sistem PO karena dua ekor kalkun hanya jadi 10 porsi, jadi cepet-cepetan,” imbuhnya.

Apalagi, sate harus dibumbui terlebih dahulu. Karena pembeli tak menentu, jika di stok, terus peminatnya sedikit akan menjadi bau. Itulah prinsip Hari mempertahankan kualitas jualannya.

Berbagai olahan kalkun menggugah selera. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARAN

Selain sate, menu lainnya adalah rica-rica. Berbeda dengan sate, olahan rica-rica membutuhkan waktu lebih lama. Bisa sampai dua jam. Hal ini supaya bumbu lebih meresap dan daging menjadi lebih empuk. “Kalau rica-rica paha atas paling diminati karena dagingnya besar dan tulangnya kecil,” jelasnya.

Baca juga:  Polifurneka Kendal Gandeng Industri Buka Program Setara D1 Teknik Konstruksi Furnitur

Untuk mendapatkan kalkun, Hari sudah memiliki mitra sendiri. Ia datangkan dari Salatiga dan Kendal. Biasanya, ia menjual dua sampai tiga ekor kalkun seberat 5 kilogram per hari. Tak hanya sate dan rica-rica. Daging kalkun juga diolah menjadi tongseng, kalkun bakar, kalkun goreng.

Bagi Hari, memilih kalkun sebagai masakan spesial di warungnya adalah tantangan tersendiri. Terlebih di daerah Banyumanik belum ada. Meski baru berjalan satu tahun terakhir, namun peminatnya sudah banyak. Tersebar di area Semarang. Setiap harinya ia buka mulai jam 12.00- 21.00 WIB. “Dulu orang penasaran ingin nyoba karena nyeleneh, setelah nyoba jadi langganan,” katanya. (ida fadilah/zal)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya