alexametrics

Nikmatnya Pindang Tetel Berpadu Kerupuk Pasir

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Jangan menanyakan apalagi mencari ikan pindang saat menyantap pindang tetel. Sebab, anda tak akan pernah menemukannya. Tak ada ikan pindang di pindang tetel.

Ya, meski bernama pindang tetel, makanan khas Kabupaten Pekalongan ini bukan kuliner olahan daging ikan pindang. Makanan ini berkuah. Berwarna coklat kehitam-hitaman. Berisi tetelan daging sapi. Mirip rawon.

Belum diketahui secara pasti mengapa dinamai pindang tetel. Bahkan oleh penjual-penjualnya. Mereka memakai nama itu karena turun temurun.

Salah satu warung pindang tetel legendaris ada di kawasan kuliner Bebekan atau Lapangan Gemek, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Warung itu milik Pak Casroni. Namun kini diurus istri dan anak-anaknya.

Baca juga:  Resep Rahasia Ini Bikin Garang Asem Bu Umi Punya Ciri Khas

Menurut Sholati, istri Pak Casroni, makanan ini konon berasal dari wilayah kelahirannya. Yakni Desa Ambokembang, Kedungwuni. Pasangan suami-istri ini sudah 25 tahun lebih menjual pindang tetel. Awalnya keliling, dari harga Rp 600 per mangkok hingga kini Rp 12 ribu.

“Dari mbah-mbah kami dulu memang namanya pindang tetel meski tak ada pindangnya. Kalau kata tetel kan dari daging tetelan itu,” katanya.

Pindang Tetel Pak Casroni

Sama seperti rawon, warna coklat kehitam-hitaman kuah pindang tetel berasal dari keluak atau keluwek. Berpadu dengan irisan daun bawang dan puluhan jenis rempah. Selain  daging sapi tetelan, pindang tetel juga berisi kerupuk pasir. Orang Pekalongan menyebut kerupuk itu “Kerupuk Usek”. Warnanya putih dan merah. Usek diremas lalu diguyur kuah pindang tetel.

Baca juga:  Kuliner Ekstrem Olahan Daging Kobra di Semarang, Berani Coba?

“Kerupuk usek ini yang membuat pindang tetel identik. Kalau menggunakan kerupuk minyak biasa, rasa kuahnya bisa berubah. Sensasinya juga beda,” imbuh Sholati.

Sholati mengaku, banyak penmbeli dari luar kota heran. Mereka menanyakan “kok nggak ada pindangnya”.

Salah satu pembeli Indra, 27, warga Kecamatan Bojong bercerita, pernah mengajak temannya asal luar kota mampir ke warung Pak Casroni.

“Teman saya bingung karena tidak ada daging pindang di makanan ini. Ia juga sempat menolak karena tidak suka pindang. Tapi akhirnya suka dan bilang enak,” katanya.

Pindang tetel tidak cocok dimakan dengan nasi. Lebih cocok dengan lontong. Di kampung-kampung, makanan ini juga dijual dengan dicampur kuluban. Orang Pekalongan menyebutnya “Kluban Pindang Tetel”. (nra/zal/bas)

Baca juga:  SPAM Semarang Barat 50 Persen, Pudakpayung Persiapan Lelang

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya