Pembuatnya Tinggal 11 Orang, Serabi Kalibeluk Banyak Diburu

1966
Pedagang serabi kalibeluk menjajakan dagangannya di Pasar Warungasem. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Batang – Jajanan tradisional khas Desa Kalibeluk Kecamatan Warungasem yang satu ini sudah melegenda dan di sukai banyak orang. Terutama warga Batang dan Pekalongan. Bukan cuma karena rasa legit dan lezatnya saja. Ada cerita unik di balik makanan yang sudah ada sejak zaman Mataram tersebut.

Keaslian resep serabi kalibeluk masih dijaga secara turun-temurun. Saat ini hanya ada 11 pembuat serabi yang berukuran setengah batok kelapa tersebut. Mereka masih bersaudara dan tinggal di Desa Kalibeluk. Ukuran serabi itu cukup besar, berbeda dengan serabi yang dijual pada umumnya. Satu serabi kalibeluk sudah cukup membuat perut kenyang.

Warnanya juga cukup menggairahkan bagi orang yang melihatnya. Warna coklat gula aren yang berasa manis dan warna putih yang berasa gurih. Wangi dari santan dan gula aren pun tercium khas di jajanan yang banyak dijual di Pasar Warungasem itu

“Yang buat Serabi Kalibeluk ini hanya 11 orang, masih saudara semua. Tempat lain mungkin ada yang buat tapi rasanya beda,” kata Tauhid, 57, salah satu pengrajin serabi kalibeluk dari Dukuh Potrosari, Desa Kalibeluk.

Cara memakannya tanpa menggunakan kuah seperti serabi pada umumnya. Satu tangkupnya dihargai Rp 12 ribu, berisi dua serabi. Biasanya serabi ini dimakan sebagai kudapan pada pagi hari, karena satu serabi sudah dapat mengenyangkan perut.

Proses pembuatan serabi ini masih menggunakan cara tradisional. Beras ditumbuk hingga menjadi tepung yang halus. Kemudian dicampur parutan kelapa dan air untuk membuat adonan yang kental. Piranti memasaknya juga masih menggunakan tungku kayu. Satu tungku terdapat empat lubang untuk memasak. Serabi dicetak menggunakan cobek dari tanah liat.

“Bedanya dengan serabi biasa, serabi kalibeluk ini dari beras dan parutan kelapa. Proses memasaknya masih dengan cara tradisional. Itu yang menjaga keasliannya,” ucapnya.

Tauhid biasanya mulai membuat serabi sejak pukul 4.00 pagi hingga pukul 10.00. Proses tersebut memerlukan waktu yang cukup lama. Sehari ia bisa membuat 20 sampai 30 tangkep serabi kalibeluk.

Serabi Kalibeluk. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

Legenda yang menyertai serabi itu dituturkan dari mulut ke mulut oleh warga. Kisahnya justru dimulai dari desa tetangga, Desa Kalisalak, Kecamatan Batang. Kecantikan Dewi Rantnasari, seorang gadis dari desa tersebut membuat Sultan Mataram ingin menyuntingnya. Sultan Mataram saat itu bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo. Ia kemudian memerintahkan Bahurekso untuk melamarnya.

 

Bhahurekso pun menuju Kalisalak untuk bertemu langsung Dewi Ratnasari. Parasnya yang cantik membuat Bahurekso berubah pikiran. Dirinya justru jatuh cinta pada Dewi Rantansari dan berniat mempersuntingnya untuk diri sendiri.

Guna mengelabuhi sang sultan, Bahurekso membuat rekayasa dengan menyuruh gadis lain yang kecantikannya setara dengan Dewi Rantansari. Dipilihlah Endang Wiranti, anak penjual serabi dari Desa Kalibeluk. Gadis cantik itu disuruh menemui Sultan Mataram, menyamar sebagai Dewi Rantansari.

Sultan Mataram menerima Endang Wiranti dengan senang hati. Namun Endang Wiranti tidak kuasa membohongi hati nuraninya hingga akhirnya pingsan. Setelah siuman Endang Wiranti mengakui jati diri yang sebenarnya. Lantaran kejujurannya, Sultan Mataram menyuruhnya pulang kembali ke desa. Sultan menghadiahi sejumlah uang agar bisa meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi.

Begitulah cerita yang menyertai ketenaran serabi kalibeluk. Warga sering membelinya untuk dioleh-olehkan pada sanak saudara yang berada jauh. Hal itu karena serabi kalibeluk bisa bertahan lama, tidak mudah basi. Tauhid sendiri sudah sekitar 30 tahun menggeluti usaha turun temurun tersebut. (yan/bas)

 

 





Tinggalkan Balasan