alexametrics


Ayam Tulang Lunak Kraton, Rasanya Otentik, Empuk hingga Tulang-Tulangnya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pecinta kuliner olahan ayam, wajib mencoba menu ayam tulang lunak kraton. Lokasinya di Jalan KH Wahid Hasyim 105-107 Kranggan, Semarang. Dijamin rasanya otentik dan tidak ada duanya. Sebab, sang pemilik telah mendaftarkan hak paten produknya ke Kementrian Hukum dan HAM.

Sekilas tampilan makanan ini memang terlihat biasa, seperti ayam goreng pada umumnya. Namun, teksturnya sangat berbeda. Terinspirasi dari bandeng lunak yang menjadi ciri khas Kota Semarang, olahan ayam ini pun sama, lunak hingga tulangnya.

Ayam ini tersedia di Restoran Ayam Tulang Lunak Kraton. Ownernya Maria Lindawati Atmodjo, 60, merupakan generasi kedua. Ia meneruskan usaha orang tuanya Ami Ekowati yang mendirikan usaha pada tahun 1986.

“Setelah itu dikelola bapak saya, kemudian beliau meninggal dan saya melanjutkan usaha ini pada tahun 2007,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ayam memang menjadi menu utamanya. Alasannya simpel, banyak orang suka makan ayam goreng. Sehingga pemasarannya pun akan mudah. Eits, tapi produk miliknya berbeda dari ayam goreng kebanyakan. Penikmat ayam tak perlu repot-repot memisahkan tulang dengan dagingnya. Ayam goreng miliknya bisa dinikmati dengan mudah karena tulangnya lunak.

Tidak hanya goreng, konsumen akan mendapat pilihan olahan lain, seperti ayam bakar dan ayam panggang Klaten. Olahan tulang lunak hanya menggunakan jenis ayam pejantan dan ayam potong. Sementara ayam kampung tidak bisa disediakan tulang lunak.

Dari beberapa menu tersebut, semuanya memiliki rasa yang berbeda. Untuk ayam goreng akan terasa renyah dan kriuk bercampur asin. Hal ini karena penyajiannya ditambahkan adonan krispy yang terpisah dengan daging ayamnya. Untuk ayam bakar bakar akan terasa manis karena ditambahkan bumbu kecap. Sementara, ayam panggang Klaten memiliki rasa gurih karena diolah dengan santan ala gudeg yang dioles saat pemanggangan.

Selain makan di tempat, produk legendaris yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim 105-107 Kranggan, Semarang ini, juga dijadikan oleh-oleh. Bagi para pelancong, ayam tulang lunak menjadi salah satu oleh-oleh yang dicari.

Ayam goreng ini bisa bertahan hingga tiga hari. Sementara untuk produk ayam bakar hanya sehari.

“Sedangkan untuk luar daerah atau luar negeri kami sediakan jenis, setelah di goreng dimasukkan ke plastik vakum. Bisa tahan dua minggu,” tambahnya.

Linda telah mendaftarkan hak paten produknya ke Kementrian Hukum dan HAM sejak tahun 1998. Hal ini untuk menghindari plagiat merek dagangnya di tiru pihak lain. Atas langkahnya ini, pada 2018 ia mendapatkan apresiasi dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid).

“Penghargaan ini diberikan karena kami mematenkan ayam tulang lunak pertama kali di Indonesia,” jelasnya. (ifa/zal) 

 

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya