alexametrics

Bersantai Sambil Menikmati Keindahan Pantai Kuripan Batang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pantai yang bersih, sejuk dan menenangkan. Kesan itu akan terasa saat datang ke Pantai Kuripan Kabupaten Batang. Pantai dengan pasir putih kecoklatan, ombak yang tidak terlalu besar dan bisa menenangkan pikiran.

Lokasinya berada di desa Kuripan, kecamatan Subah. Pantai ini tidak sepopuler Pantai Jodo di Kecamatan Gringsing, atau Sigandu di Kecamatan Batang. Tetapi menawarkan keindahan alam, dengan deburan ombak yang landai.

Pengunjung yang datang relatif belum terlalu banyak. Baru warga sekitar dan warga Batang yang datang. Bagi yang tidak suka terik matahari pantai, cukup duduk santai di bawah rimbunan pohon cemara di sepanjang pantai sejauh 1 kilometer ini. Fasilitas penunjang juga cukup memadai, begitupun pedagang ramah.

Untuk menikmati keindahan pantai ini butuh usaha ekstra. Dari jalur pantura, akses masuknya melalui perempatan pasar Subah ke arah utara melewati aspal mulus. Pengendara awalnya akan melewati perkampungan. Di ujung kampung akan masuk kawasan hutan milik Perhutani sejauh 7 KM. Meskipun jalan sudah bagus dan mulus, pengendara tetap dituntut kehati-hatian. Karena kontur jalan banyak tikungan dan turunan tajam.

Baca juga:  Proyek KITB Jadi Jujugan Pemkab Ngawi

Di dekat pantai ada tempat menarik lain yang mengandung nilai sejarah yaitu stasiun Kereta Api peninggalan kolonial Belanda. Saat ini, masih difungsikan sebagai perlintasan kereta api. Meski bukan untuk naik-turun penumpang. Tetapi digunakan untuk pemberhentian kereta, jika antri jalur dengan kereta cepat. Wisatawan, biasanya sebelum atau sepulang dari pantai biasanya berfoto di stasiun tersebut. Karena memang jarang ditemukan di tempat lain.

Masuk ke area pantai, masih harus melewati rel kereta api. Jika membawa mobil, harus hati-hati, karena ada celah sempit diantara pagar tembok. Usai melewati jalur tersebut, akan langsung ketemu dengan pos tiket. Cukup bayar Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil. “Rasanya damai disini,” ujar pengunjung asal Kecamatan Gringsing, Eli Iryani kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Proyek Rehab Sekolah Tak Jelas, Siswa SD di Batang Lesehan di Rumah Warga, Masjid dan Musala

Bersama rekannya, ia memilih Pantai Kuripan karena tidak terlalu bising dan masih asri. Masih jauh dari jalan besar, dan perkampungan. Bahkan, dirinya mengaku setiap bulan menyempatkan diri datang ke sini. Untuk menikmati hembusan angin dan deburan ombak. “Kuliner disini juga wajar, dan enak juga,” imbuhnya.

Salah satu perangkat desa Kuripan Riswanto mengatakan pengelolaan pantai Kuripan dikoordinasi masyarakat setempat melalui ketua RT. Melihat semakin banyaknya pengunjung, masyarakat mulai mendirikan warung-warung serta wahana unik sebagai daya tarik. Ada kursi pantai, jembatan cinta terbuat dari bambu yang menjorok jauh ke tengah laut. “Di ujung jembatan disediakan spot untuk swafoto serta warung unik karena berada diantara deburan ombak. Makan disitu, akan terasa uji nyali. Saat laut pasang, akan ditemani deburan ombak,” akunya.

Baca juga:  ASN Wajib Jadi Relawan Covid

Selain itu ada juga replika kapal kayu yang menjadi spot favorit bagi para pemancing. Pengelola juga membuat taman bunga dan aula untuk rapat desa. Toilet umum serta Mushola untuk sholat. “Bertahap kami akan melengkapi dan memperbaiki fasilitas,” ujarnya.

Salah satu kekurangan Pantai Kuripan, adalah sampah dari laut yang menumpuk saat air pasang. Sehingga mengganggu pemandangan. Namun pengelola sepakat, akan terus membersihkan agar pemandangan tetap nyaman dipandang. “Ke depannya kami berharap bisa mengelola pantai lebih profesional. Sehingga bisa bersaing dengan obyek wisata lain,” tambahnya. (han/fth)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya