Galangan Kapal Jadi Eduwisata, Apa yang Menarik?

388
MAGNET WISATAWAN: Salah satu potret lokasi galangan kapal di Kabupaten Batang, yang akan disiapkan menjadi kawasan wsiata edukasi baru. (Lutfi Hanafi)

RADARSEMARANG.ID, BATANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang, akan mengembangkan galangan kapal kayu menjadi destinasi wisata edukasi baru.

Untuk menyukseskan program tersebut, Dewan Riset Daerah (DRD) dikerahkan untuk mengkaji potensi galangan tersebut. Hasilnya, layak dijadikan lokasi edukasi wisata bahari. Bahkan bisa skala internasional.

M Hariyanto mewakili DRD Batang yang melakukan tinjauan menjelaskan, galangan kapal kayu Batang masuk tiga besar galangan kapal kayu kelas dunia. Nantinya wisata bahari galangan kapal kayu menjadi satu paket dengan Pantai Sigandu. Potensi lainya yaitu perkebunan bunga melati serta museum bahari juga akan dikembangkan. “Berdasarkan kajian, DRD merekomendasikan galangan kapal kayu menjadi lokasi edukasi wisata bahari,”  tegasnya Minggu (24/11).

Untuk diketahui, galangan kapal kayu di Kabupaten Batang berada di Sungai Sambong. Lokasinya memanjang hampir 4 kilometer menuju Pantai Sigandu.

Sementara Bupati Batang Wihaji mengatakan, pada Desember mendatang, akan dilakukan market test. Setelah itu akan dikoordinasikan dengan Dinas Pariwisata.

“Untuk realisasinya kemungkinan tahun depan,” ungkapnya.

Sebagai penunjang destinasi wisata baru, bupati juga akan memperbaiki infrastruktur akses menuju objek wisata. Yang sudah dimulai yakni perbaikan Jembatan Situri. “Ke depan juga akan ada museum kapal di kawasan ini,” ucap Wihaji.

Tak sampai berhenti di situ, bupati bakal mendatangkan juru masak profesional lulusan Harvard University, untuk memberikan ilmu di kawasan wisata bahari Batang. “Kita akan meniru Muara Angke Jakarta restoran baharinya. Untuk itu kami akan ajarkan skill memasak untuk warga yang dilatih chef lulusan Harvard. Tujuannya, supaya ada tempat makan dengan chef profesional di kawasan wisata bahari Batang,” tambahnya.

Nur Haji Slamet Urip, satu di antaranya pemilik galangan kapal kayu di Batang sangat mendukung wacana dibangunnya eduwisata bahari skala internasional.

Bahkan mereka ingin wacana itu segera direalisasikan secepatnya, untuk mendunia kan galangan kapal kayu terbesar itu.

“Bisa dikatakan galangan di sini terbesar di dunia. Tak jarang selain menerima pesanan kapal kayu skala nasional, galangan di sini juga membuat kapal vinisi untuk Eropa dan Jepang,” katanya.

Pria yang akrab disapa Mbah Urip itu, menerangkan, ada 30 galangan kapal kayu di sepanjang alur Sungai Sambong. Di mana setiap galangan bisa memproduksi 60 kapal kayu setiap tahun.

“Ukuran kapal kayu 29 GT sampai 400 GT dibuat di sini, harganya berkisar dari Rp 700 juta hingga Rp 5 miliar. Dan selalu ada pesanan,” ucapnya. (han/zal)