alexametrics


Cerita Para Traveler Kota Semarang: Dewi Terpikat dengan Bangunan Terbengkalai

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Seorang traveler pergi ke berbagai tempat  menjadi kesempatan untuk mencari pengalaman baru, dan mengusir rasa bosan. Salah satunya traveler asal Semarang, Dewi Utami Karyawati.

Wanita 34 tahun ini lebih tertarik berwisata ke tempat-tempat terbengkalai atau abandoned places. Ia mengaku dapat menggali makna setiap cerita di balik abandoned places yang dikunjungi.

Kali pertama menjadi traveler pada 2013, Dewi melancong ke Manila, Filipina. Sepulang dari Filipina, ia merasa ketagihan untuk traveling ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Sudah banyak tempat yang dieksplor, khususnya di luar negeri.

Untuk Asia Tenggara, hampir semua negara pernah dikunjungi, kecuali Brunei dan Myanmar. Dewi juga pernah ke Hongkong, Turki, Belgia, Perancis, Portugal, Spanyol, dan Inggris. Sedangkan di dalam negeri, ia hanya traveling di sekitar pulau Jawa dan Bali.

PENUH SENSASI: Dewi Utami Karyawati  yang suka traveling di bangunan mangkrak. (DOKUMEN PRIBADI)

“Bukan karena tidak cinta negara sendiri sih, tapi lebih karena ongkos tiket ke luar negeri justru lebih murah. Selain itu juga aku ingin belajar tentang negara lain, seperti budaya, kebiasaan warga, dan lainnya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dewi mengakui, akhir-akhir ini ia justru suka mengunjungi abandoned places alias bangunan-bangunan yang mangkrak. Saat traveling di bangunan terbengkalai, ia beberapa kali bersama teman. Namun seringnya pergi sendirian.

“Saya tertarik bukan karena mencari hantu, saat itu saya perginya siang hari. Agar bisa melihat ‘seni’ dari bangunan-bangunan mangkrak atau tidak berpenghuni tersebut,” katanya.

Ia menyebut Tat Tak School merupakan bangunan paling berhantu di Hongkong. Bagi Dewi, itu tempat yang paling berkesan, dan menantang yang pernah dikunjungi. Meski tidak diperbolehkan masuk ke dalam bangunan tersebut, Dewi sudah merasa cukup tertantang dan feeling yang berbeda saat di sana. Awalnya, ia bersama seorang temannya, tapi last minute temannya berubah pikiran, tidak ingin ikut dengannya.

Dewi menceritakan, di Tat Tak School Hongkong,  konon dulu ada seorang guru yang bunuh diri di kamar mandi sekolah tersebut. Namun Dewi tidak merasakan suatu hal yang aneh. Tapi saat ia memposting beberapa foto di media sosialnya, banyak temannya yang ‘melihat’ ada hantu di foto tersebut.

“Saat datang ke bangunan itu saya izin sama ‘penunggu’. Meski saya pribadi tidak punya keahlian melihat makhluk halus atau indigo, tapi saya tetap merasa wajib untuk izin,” tuturnya.

Tidak ada kriteria khusus bagi Dewi memilih traveling di abandoned places. Hanya sebelumnya ia pasti membaca dulu sejarah bangunan yang akan dikunjungi. Contohnya, saat mengunjungi bekas sekolah di Penang, Malaysia atau di Hongkong. Tidak hanya di luar negeri saja, ia juga mengunjungi abandoned places di dalam negeri. Seperti Het Warenhuis Medan yang merupakan bekas supermarket pertama yang dibangun pada 1916 atau saat masa Kolonial Belanda.

Kecintaannya dengan dunia traveler membuat Dewi masih ingin traveling sampai pada saatnya sudah tidak bisa berkelana mengunjungi ke berbagai tempat lagi. Baginya, banyak hal-hal baik yang bisa dipetik selama tour traveling.

Ia mencontohkan saat di Singapura, Dewi bisa belajar banyak seperti soal kebersihan, ketertiban, dan kedisiplinan warganya.

Hal yang baik dari negara tetangga bisa dibawa dan diterapkan di negara sendiri. Ke depan Dewi sudah punya rencana melakukan traveling ke Eropa kembali jika pandemi Covid-19 mereda. (mg5/aro/ap)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer