Sulap Pipa Tua Jadi Destinasi Wisata

459
Pipa raksasa peninggalan Kolonial Belanda yang masih berfungsi dengan baik. Pipa ini mengalirkan air dari Rawa Pening untuk menggerakkan turbin PLTA Jelok. (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok dibangun sejak masa Kolonial Belanda. Tepatnya pada 1938. PLTA yang berlokasi di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang ini masih beroperasi hingga sekarang.

Sekitar 30 menit perjalanan dari Kota Ungaran. Dari pintu gerbang Jelok, terlihat PLTA itu berada di ujung dusun paling bawah. Melewati jalan menurun yang curam. Tidak banyak yang tahu PLTA tersebut menjadi salah satu pemasok listrik wilayah Jawa-Bali.

Keberadaan perusahaan penghasil setrum yang memanfaatkan air dari Rawa Pening ini dibangun oleh Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) alias pengelola listrik di zaman itu. ANIEM sendiri merupakan perusahaan asal Amsterdam yang oleh Pemerintah Kolonial Belanda diberi hak penuh mengelola listrik sejak 1909. Dalam kondisi zaman yang serba susah, ANIEM mempunyai wewenang membangun PLTA. Pada 1938, dipilih lokasi Jelok untuk didirikan PLTA pertama di Indonesia.

Sayangnya koran ini tidak bisa mendapatkan informasi langsung dari pengelola PLTA Jelok. Jawa Pos Radar Semarang justru mendapat penjelasan dari Kades Delik Punadi yang sudah tiga kali menjabat.

Ia menceritakan, sebelumnya sudah ada PLTA di Susukan. Entah dibangun tahun berapa, yang jelas PLTA Susukan itu berdiri sebelum PLTA Jelok. Lokasinya juga di desanya. Berjarak sekitar 10 meter. Memanfaatkan air yang melimpah dari danau alam Rawa Pening. Untuk menambah debit air, di kawasan sungai Tuntang dibuat dam untuk mengalirkan air melalui pipa raksasa. Ada dua pipa berdiameter sekitar 1,5 meter yang terhubung dengan PLTA Jelok.

Tenaga yang dihasilkan oleh dorongan air itu memang cukup dahsyat. Pasalnya, posisi air tingginya mencapai 144 meter. Keberadaan PLTA Jelok di zaman Kolonial Belanda memegang peranan sangat vital. Dari lokasi yang relatif pelosok ini, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang hingga Kota Semarang memperoleh pasokan setrum.  Dikutip dari website Indonesia Power, saat ini PLTA Jelok menghasilkan tenaga listrik hingga 20.48 MW.

Setelah kemerdekaan, pengelolaan PLTA Jelok diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang ditugaskan mengelola jaringan listrik. Belakangan kapasistas PLTA Jelok sudah tidak memadai lagi. Terkait hal tersebut, pada 1957 dibangun PLTA Timo yang berjarak sekitar 4 Km dari PLTA Jelok. Turbin buatan Werk Spoor Escher Wyss Holland type Francis poros datar bisa menggerakkan generator dalam putaran 600 rpm.

“Air yang sebelumnya dipakai menggerakkan turbin di Jelok, ditampung di Kolam Tandu. Selanjutnya melalui pipa berdiameter 3 meter dialirkan menuju PLTA Timo,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, saat ini Badan Usaha Milik Desa (BUMdes) Delik berencana menyulap lokasi pipa tua milik Kolonial Belanda tersebut sebagai destinasi wisata.

“Sedang proses. Tidak bisa dipungkiri memang banyak yang datang cuma mau tahu sejarah pipa hingga cerita PLTA Jelok. Ini bisa jadi peluang bisnis,”jelasnya sambil mengerutkan dahi mengisyaratkan proses yang dilalui memang tidak mudah.

Sebelum menuju PLTA Jelok, ada satu rumah besar yang diduga dulunya dihuni oleh Kepala PLTA, terlihat kosong melompong. Rumah seluas hampir 300 meter persegi dan menempati lahan 1.000 meter persegi ini jika dirawat bisa menarik wisata. Sangat eksotis. Apalagi jika ditambah informasi sejarah PLTA dulu.

Warga setempat, FX Supardal yang rumahnya bersebelahan dengan sepasang pipa warna hijau tersebut mengatakan, hingga kini tidak banyak yang berubah dari pipa saluran air tersebut. “Masih kuat, tidak ada yang bocor,” katanya.

Warga lain Arumi menuturkan, dulu pekerja PLTA Jelok cukup banyak. Namun sekarang tinggal hitungan jari. “Mungkin sudah pada pindah. Dulu sering lihat orang ngecek dan membersihkan pipa. Kita sering saling sapa,” ujarnya.

Arumi berharap, PLTA Jelok yang diyakini sebagai PLTA tertua di Indonesia bisa menjadi destinasi wisata yang bisa mendongkrak perekonomian warga Desa Delik. “Terutama wisata di sekitar pipa air itu. Kalau dipakai foto selfie bagus banget. Pemandangannya juga indah,” katanya. (ria/aro/bas)