Menikmati Spot Selfie di Rumah Adat Lima Negara

662
Pengunjung menikmati salah satu sudut Lumnia Grand Maerakaca. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Eksotis, asri, banyak ditumbuhi pohon bakau dilengkapi warna-warni bangunan di satu titik 5 benua. Demikian yang bisa dirasakan para pengunjung Lumina Grand Maerakaca atau lebih dikenal Taman Mini Jawa Tengah, PRPP Semarang.

Untuk menjangkau wahana baru objek wisata tersebut juga tak susah. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari pusat Kota Semarang. Dari Simpang Lima Semarang bisa menggunakan akses sepeda motor maupun mobil pribadi. Bisa juga menggunakan BRT Trans Semarang. Begitu memasuki kawasan jalan Puri Anjasmoro, Tawangsari, Semarang Barat, masuk kawasan Maerakaca. Harga tiket cukup terjangkau Rp 10 ribu-Rp 15 ribu untuk 1 orang. Masuk area wisata disambut dua patung lumba-lumba Bandy dan Bindy di kiri dan kanan tembok ikon. Selanjutnya menyusuri jembatan, ada 2 penahan antrean berupa mesin barcode. Tiket ditempel untuk masuk.

Keindahan anjungan rumah adat Blora berada di depan. Di sebelahnya Rembang, dan sejumlah spot selfie. Lokasi itu juga dilengkapi posko kesehatan dan sejumlah area cuci tangan.

Untuk sampai area Lumina Grand Maerakaca, dari area barcode, terlebih dahulu melewati sejumlah anjungan, mulai Blora, Rembang, Grobogan, Kudus, Demak, dan Kota Semarang. Dari anjungan Kota Semarang menyusuri jembatan dengan 18 anak tangga, baru menjumpai kafe mini harapan yang berjualan aneka minuman, makanan dan puding.

Selanjutnya melewati meja kursi saat di jembatan. Kemudian menjumpai tempat beristirahat sementara, turun tangga dan menemukan bangunan tembok terbuka. Hal menarik lainnya saat menikmati jembatan dari tembok semen itu. Di bawahnya ada pemandangan kolam payau, bisa menikmati wahana kapal dayung. Mengitari kebun bakau, di pinggirnya ada jalan terbuat dari kayu. Menikmati anjungan yang merupakan replika rumah adat nyata dari 33 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Ketika sampai ke bangunan tembok terbuka, pengunjung jalan ke kiri, akan melihat gerbang warna merah dengan 5 tonggak besar bercorak Jepang. Barulah akan menemukan dalam satu titik ada keindahan rumah adat 5 negara dari 3 benua.

Keindahan rumah adat dengan corak beraneka itu memanjakan mata. Ada warna cokelat, merah, biru, putih, biru. Pada bagian depan dan belakang rumah itu ditumbuhi bakau dikelilingi air, menjadikan area tampak asri. Menarik sebagai spot selfie.  Pengunjung serasa berada di Jepang, Santorini Yunani, Turki, Meksiko dan Arab, yang merupakan bangunan keunggulan kawasan Lumina itu. Beberapa bangunannya juga bisa dinaiki sampai lantai 2, untuk menikmati spot foto. Bangunan itu terbuat dari rangka besi dan dilapisi triplek tebal, ada juga yang murni dari tembok.

Direktur PT PRPP Jawa Tengah Dra Titah Listiorini, mengatakan, kawasan Grand Maerakaca menempati lahan 23 hektare.  Adapun makna dari kata Lumina berasal dari kata ilumination atau pencahayaan. Dengan tujuan agar dapat menambah daya tarik bagi wisatawan. Nantinya juga akan dibuka sampai malam sehingga akan disiapkan lampu-lampu yang cantik-cantik.

“Lumina dibangun dengan sistem pengurugan tanah karena dulu daerah tersebut becek.  Tanah yang dipakai berasal dari sungai – di bawah naungan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai),” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (20/8).

Lumina dikonsep dalam bentuk rumah adat 5 benua. Bertujuan agar in-line, satu nafas, satu passion dengan grand Maerakaca. Sehingga meskipun tidak 3D seperti rumah anjungan, namun tetap memiliki fasad atau tampak depan.  Dijelaskan, lumina memiliki ikon 5 negara dari 3 benua. Dengan ciri khas rumah sendiri-sendiri.

“Kami memilih Jepang karena jika ambil China, di Semarang sudah banyak kelenteng. Untuk saat ini tiket masih Rp 10 ribu, nanti kalau sudah diresmikan bisa saja Rp 15 ribu,”sebutnya.

Titah merencanakan jika sudah diresmikan akan banyak fasilitas dan properti pendukung di setiap anjungan. Seperti penyewaan baju, food truck makanan khas 5 negara, serta fasilitas fotografer dan banyak lagi. Adapun konsep wisata yang disuguhkan adalah spot wisata dengan konsep budaya.

“Ramainya Sabtu-Minggu, biasanya sampai 3 ribuan pengunjung. Hari biasa paling 200 sampai 600 pengunjung. Soft opening Lumina baru 17 Agustus kemarin,”kata Umi, salah satu petugas tiket kawasan itu. (jks/mg2/lis/bas)