Romantisme Eiffel di Rawa Pening

677
Foto menara eiffel dari dekat. (Alvi Nur Janah / Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Apa yang terpikirkan ketika menyebut Perancis? Kiblat fashion atau kota romantis? Apa landmark andalannya? Ya, tentunya tak lain dan tak bukan adalah Menara Eiffel. Landmark terkenal kota Paris yang romantis.

Untuk menikmati romantisme Eiffel, tak usah jauh-jauh ke Paris. Belakangan yang lagi viral, ada menara eiffel di tengah rawa. Tepatnya di Desa Tuntang, Kecamatan Tuntang, Rawa Pening. Menariknya, tiruan itu tak kalah megah dengan yang aslinya.

Namanya Menara Eiffel Rawa Pening. Menara ini tepat berada di tengah Rawa Pening yang berlokasi di Desa Tuntang. Kawasan tersebut terkenal dengan Radesa Wisata. Destinasi wisata ini terbilang baru. Mulai promosi atau soft opening pada 19 Juli 2020.

Nah, akses masuknya pun sangat unik. Pengunjung harus melewati jembatan yang terbuat dari kayu dan bambu. Bagian bawahnya ditopang bambu besar. Jadi tak usah khawatir jembatan akan tenggelam.

Panjang jembatan kurang lebih satu 700 meter. Membelah bibir rawa dari pintu masuk hingga area tengah menara. Sepanjang jembatan, banyak nelayan hilir mudik mencari ikan. Pun dengan banyaknya eceng gondok di sekeliling rawa yang bergerombol.

Untuk sampai tengah area menara, butuh waktu 5 menit dengan berjalan kaki. Sekeliling menara banyak wahana pendukung. Sebut saja paket menyusuri Rawa Pening dengan perahu, dan pelampung unicorn.

“Nanti kami akan buat lagi spot tambahan yakni pemancingan ikan,”kata Didik Setiawan, pengelola Menara Eiffel Rawa Pening Kamis (13/8/2020).

Menurut Didik, idenya muncul dikarenakan proses pembuatan menara dinilainya mudah. Menara Eiffel yang asli gampang ditiru dengan bahan utamanya bambu.

“Menara dari bambu dikerjakan secara mandiri. Dulu awal mula kita membuat menara dibantu oleh delapan orang warga sekitar rawa,”imbuh Didik.

Didik dan warga lainnya bergotong-royong mendirikan menara. Ia meyakinkan bahwa menara yang dibangun memiliki fondasi kuat. Meski di tengah rawa, keamanan adalah yang utama.

Menara tiruan setinggi 36 meter sukses berdiri megah. Dengan 15 anak tangga untuk menuju puncaknya. Hingga badan menara, pengunjung diperbolehkan untuk menaikinya.

Terlihat pengunjung bergantian menaiki tangga menara. Mereka sengaja memilih menaiki tangga demi melihat dari atas luasnya Rawa Pening. Terlihat jelas Rawa Pening membentang indah. Tiket masuknya pun dibanderol dengan harga murah, Rp 10 ribu. Kita bisa menikmati keindahan rawa dan menara. Di sebelah kanan area tengah, ada kafetaria.

Kafenya menawarkan makanan khas rawa dan cemilan renyah. Ada ikan mujair, cumi, udang dan lain-lain. Cemilannya tak kalah enak. Ada kentang goreng, sosis, roti bakar dan onion ring. Harganya sangat terjangkau. Paling mahal di angka Rp 35 ribu.

“Tujuan kami hanya satu. Sebagai upaya membangkitkan perekonomian di desa. Makanya semua makanan murah-murah. Tenaga kerja kita serap perlahan,”sambung Didik.

Seorang pengunjung, Miranti, mengatakan datang bersama keluarganya karena penasaran. “Yang lagi viral katanya di Instagram, menara-menara gitu. Jadi ke sini rame-rame,”ucapnya. (avi/lis/bas)