Wisata Edukatif ala Suku Primitif

Salah satu pengurus kelompok sadar wisata Kelurahan Nongkosawit ketika sedang berbincang di omah pang. (Adennyar Wycaksono / Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang- Mendengar desa wisata di Kota Semarang, sebagian besar masyarakat familiar dengan Desa Kandri. Padahal, di Kecamatan Gunungpati ada desa wisata lain yang menawarkan objek alam menarik. Lokasinya berada di Kelurahan Nongkosawit.

Ya, Nongkosawit adalah satu dari tiga desa wisata yang ditetapkan Pemkot Semarang melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota pada 2012 lalu. Selain potensi alamnya yang begitu asri dan produk olahan lokalnya yang mumpuni, Desa Nongkosawit memiliki objek unik yang patut dikunjungi. Namanya Omah Pang. Lokasinya di RW 1.

Omah Pang sendiri mulai dibangun sejak 2009 lalu oleh pegiat wisata setempat, Warsono. Omah Pang berarti rumah ranting. Semua infrastrukturnya berbahan ranting yang dirangkai sedemikian rupa menjadi bangunan berkonsep natural. “Kata pang, kalau diotak-atik gatuk punya arti. Artinya tempat untuk berinteraksi. Ya dalam hal ini adalah seni dan budaya yang kian luntur tergerus perkembangan zaman,” kata Warsono, Ketua Desa Wisata Nongkosawit.

Kali pertama bersinggah di Omah Pang, mengingatkan kita pada zaman dulu. Ketika belum ada peradaban modern. Semua natural. Hampir semua objek menarik dijadikan spot foto. Pembuatan Omah Pang ini sendiri memakan waktu empat bulan.

“Prosesnya mulai dari memunguti ranting dari pohon jati yang jatuh di tegalan, kemudian dibentuk menjadi sebuah rumah. Tingkat kesulitannya saat merangkai, karena tidak semua orang bisa,” katanya.

Omah Pang sendiri memiliki beberapa bagian, misalnya rumah utama, gapura, rumah pohon, dan lainnya. Mirip dengan rumah adat yang ada di Bali.”Rumah ini bisa dibilang sebagai prototype rumah Jawa primitif. Bentuknya limasan, dan menunjukkan lingkungan rumah pada tempo dulu, di mana setiap bagian rumah punya fungsi tersendiri,” jelasnya.

Di rumah utama, pengunjung dapat melihat beberapa perabot dan foto-foto yang ditempel di sela ranting. Ketika masuk, bagi yang berbadan tinggi harus sedikit merunduk. Di dalamnya terdapat tungku.  Warsono menjelaskan, tungku tersebut selain untuk memasak, fungsi lainnya adalah untuk mengusir nyamuk dan hewan liar yang hendak masuk ke dalam rumah. Di dalam bangunan utama sendiri, cocok untuk berselfie. Karena terdapat ornament patung dan ukiran seni unik.

Setahun setelah dibuat, Warsono kemudian menambahkan tanaman markisa yang memang tumbuhnya merambat. Tujuannya agar Omah Pang memiliki kesan asri. Memmarkisa ini, kini merambat sampai ke atap rumah.  Bangunan yang menarik lainnya yang patut menjadi spot swafoto adalah menara. Tingginya sekitar 15 meter. Di atasnya terdapat ruangan.

Sesuai dengan konsep yang ia gagas, omah pang juga menyediakan berbagai mainan tradisional, misalnya saja egrang, dakon, blarak semplak, gledekan, ulo-ulo cabe dan lainnya. Permainan tradisional ini, lanjut Warsono, mulai ditinggalkan oleh anak-anak zaman sekarang dan tergantikan dengan gadget.”Di sini anak-anak atau wisatawan yang datang, diajak untuk kembali bersentuhan dengan alam. Sehingga gadget bisa sedikit demi sedikit bisa ditinggalkan,” ucapnya.

Letak omah pang sendiri, tak jauh dari kantor Kelurahan Nongkosawit. Untuk ke tempat ini cukup mudah. Patokannya gapura di depan Polsek Gunungpati. Kemudian masuk sekitar satu kilometer ke kantor Kelurahan Nongkosawit. Dari kantor kelurahan sekitar 100 meter. (den/zal/bas)

 

Tinggalkan Balasan