Melepas Penat di Curug Gombong

93
ALAMI: Keasrian Curug Gombong masih terjaga karena belum banyak terjamah. (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)
ALAMI: Keasrian Curug Gombong masih terjaga karena belum banyak terjamah. (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, CURUG atau air terjun Gombong terletak di desa Gombong Kecamatan Pecalungan Kabupaten Batang, sekitar empat kilometer ke arah selatan dari Jalan Pantura Kecamatan Subah.

Curug ini, terbilang masih sangat alami dan belum tersentuh, sehingga terlihat bersih dan bebas sampah. Sebab, jarang dikunjungi wisatawan, meskipun akses masuk mudah dan lokasi air terjunnya dekat tempat parkir. Sebenarnya pengunjung tidak perlu keluar banyak tenaga untuk sekedar menikmati keindahan alam di lokasi ini.

Air Curug Gombong, berasal dari kali Langsean yang mengalir sepanjang tahun meskipun kemarau panjang. Curug Gombong terdiri dari dua air terjun, yaitu Curug Lanang dan Curug Wadon.

Kedua air terjun ini berdekatan tapi hanya Curug Lanang berketinggian tujuh meter yang sudah bisa dinikmati karena sudah dibuatkan jalan beton bertangga sepanjang 50 meter untuk mempermudah akses. Sedangkan Curug Wadon ketinggian air terjun mencapai 20 meter.

Pengelolaan yang kurang maksimal membuat keberadaan Curug Gombong seperti terlupakan, ditambah lagi tidak ada promosi. Pamor Curug Gombong kalah dibanding destinasi wisata serupa di Kabupaten Batang. Padahal Curug Gombong mempunyai kelebihan mudahnya akses.

Hal itu disadari oleh Pemerintah Desa setempat, melalui Dana Desa, kini akan dibuat musholla, kantin, aula, parkir dan gazebo dengan harapan bisa menarik pengunjung. Sepinya pengunjung dibenarkan oleh Pj Kades Gombong Saefudin dan Camat Pecalungan Edi Widodo. Kurangnya promosi dan lingkungan sekitar yang gersang panas menjadi alasan utama wisatawan enggan datang.

“Dulu pernah ditanami 500 pohon jeruk oleh para ketua RT tapi karena tidak ada yang merawat akhirnya mati kekeringan,” ucap Saefudin kepada Jawa Pos Radar Semarang melihat keindahan Curug Gombong.

Namun ada secercah harapan untuk masa depan di Curug tersebut, dengan kehadiran mahasiswa yang sedang KKN. Namun para mahasiswa tersebut juga berharap, agar ada peran serta dari masyarakat setempat untuk melestarikan tanaman yang kini mereka tanam. Sebab, tanpa dirawat, pohon pohon dan bunga juga tidak biaa rumbuh subur.

“Kami juga berharap peran aktif masyarakat dan pemerintah desa untuk merawat dan menyiram yang kami tanam, sehingga upaya kami menanam bibit tidak sia-sia,” kata perwakilan mahasiswa Fatchun. (Lutfi Hanafi/bas)