Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

3 Microstock Ini Haramkan Karya AI, Kontributor Nekat Bisa Banned Permanen

L
Penulis: Lutfi Hanafi❯


Advertisement

 

Ilustrasi akun Shutterstock yang kena banned, karen melanggar aturan
Ilustrasi akun Shutterstock yang kena banned, karen melanggar aturan

RADARSEMARANG.ID — Dunia microstock global tengah bergejolak. Sejumlah kontributor dilaporkan mengalami banned sementara hingga permanen, setelah nekat mengunggah konten hasil kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke platform yang secara tegas melarangnya.

Advertisement

Tiga nama besar microstock—Shutterstock, Getty Images/iStock, dan Depositphotos—disebut menjadi yang paling keras menerapkan kebijakan ini.

Larangan tersebut bukan isapan jempol. Sejak beberapa tahun terakhir, ketiga platform microstock ini secara eksplisit mengharamkan submission karya AI generatif, khususnya yang dibuat menggunakan alat pihak ketiga seperti Midjourney, Stable Diffusion, DALL-E, hingga Firefly. Kontributor yang melanggar tak hanya berisiko karyanya ditolak, tetapi juga kehilangan akun dan penghasilan.

Advertisement

Kebijakan ini sudah lama diberlakukan, namun masih banyak kontributor yang mencoba “iseng” menguji sistem.

Awalnya cuma reject biasa. Lama-lama muncul email peringatan pelanggaran. Bahkan ada yang langsung kena banned dan tidak bisa submit lagi selama beberapa waktu.

Baik Shutterstock maupun Getty Images lebih mendorong kontributor mengunggah karya orisinal hasil kamera atau ponsel, terlepas dari kualitas artistiknya.

Pasalnya, dalam ekosistem microstock saat ini, kuantitas dan keberagaman stok justru menjadi nilai penting.

Bahkan, foto yang tidak masuk kategori penjualan reguler masih berpeluang masuk ke skema Data Licensing, yang dimanfaatkan platform untuk pengembangan teknologi AI internal mereka sendiri.

Getty Images secara resmi melarang unggahan gambar AI sejak 2022. CEO Getty Images, Craig Peters, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk melindungi pelanggan dari risiko hukum, terutama terkait hak cipta, data biometrik, dan kepemilikan karya.

Shutterstock sempat membatasi pencarian konten AI sebelum akhirnya mengembangkan tool AI internal bekerja sama dengan OpenAI dan LG. Namun hingga kini, mereka tetap melarang kontributor mengunggah karya AI eksternal. 

Beberapa alasan utama pelarangan tersebut antara lain, Masalah hak cipta, karena model AI dilatih dari database karya berlisensi. Ketidakjelasan legalitas, sebab banyak negara belum mengatur kepemilikan karya AI. Menjaga orisinalitas, agar marketplace tetap diisi karya manusia, bukan hasil algoritma semata.

Selain dua raksasa tersebut, Depositphotos juga dilaporkan menolak konten AI generatif. Berdasarkan laporan komunitas microstock, platform ini tidak menerima submission AI dan memberikan peringatan keras kepada kontributor yang melanggar.

Kontributor yang tetap nekat mengunggah konten AI ke microstock yang melarangnya menghadapi risiko serius: banned permanen, pemutusan kontrak, hingga hangusnya pendapatan. Dalam kasus tertentu, pelanggaran hak cipta juga dapat berujung pada masalah hukum. 

Situasi ini diperkirakan semakin ketat setelah merger Shutterstock dan Getty Images senilai 3,7 miliar dolar AS pada Januari 2025, yang diyakini memperkuat kontrol dan regulasi konten di industri microstock global. 

Di tengah pesatnya perkembangan AI, platform microstock berusaha menyeimbangkan inovasi dan perlindungan hak cipta. Bagi kontributor, memahami aturan menjadi kunci bertahan.

Hal ini dibenarkan banyak contributor, dari berbagai forum Microstock di Facebook, bahkan banyak yang mengeluh Foto asli jepretan kamera maupaun HP saja masih ketolak.

Karena dibilang hasil Ai dan usut punya sut, hal ini dikarenakan, selain hasil fotonya aneh. Ada eberapa yang juga terlalu ekstrim edit, dan file yang disubmit adalah hasil edit. Bukan file asli jepretan kamera, yang mengandung meta data.

Kalau ingin jualan produk Ai, masih ada alternatif di Microstock seperti Adobestock, Vectezy, Dremstime, 123RF atau Freepik.(han)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

35 Persen Pekerja Mismatch Career, Binus Semarang Bekali Mahasiswa dengan AI dan Entrepreneur

35 Persen Pekerja Mismatch Career, Binus Semarang Bekali Mahasiswa dengan AI dan Entrepreneur

Binus Semarang membekali mahasiswa dengan AI dan entrepreneur. Tujuannta tak lain agar mereka siap terhadap tantangan dj dunia kerja setelah lulus.

ASUS ExpertBook Ultra Meluncur, Laptop Bisnis Super Ringan dengan Tenaga AI 

ASUS ExpertBook Ultra Meluncur, Laptop Bisnis Super Ringan dengan Tenaga AI 

ASUS memperkenalkan laptop bisnis premium terbaru. Namanya ASUS ExpertBook Ultra. Perangkat ini hadir membawa kombinasi desain ultra-ringan, performa tinggi, serta dukungan teknologi AI.

Sarif Kakung: Jadikan AI untuk Memperkuat Ekonomi Rakyat

Sarif Kakung: Jadikan AI untuk Memperkuat Ekonomi Rakyat

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer